Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

Manusia yang Bodoh dan Tuhan yang Maha Pengampun

Bagikan:

Hidayatullah.com | MULANYA, amanat itu ditawarkan kepada langit. Namun, langit menolaknya. Lalu amanat itu ditawarkan kepada bumi. Tapi, bumi juga menolaknya. Kemudian giliran gunung-gunung yang ditawarkan. Lagi-lagi mereka enggan menerima amanah itu.

Mengapa mereka semua menolak? Allah Ta’ala menjelaskan dalam al-Qur’an Surat al-Ahzab [33] ayat 72 bahwa mereka semua khawatir tidak akan sanggup melaksanakan amanat itu dengan baik. Kekhawatiran inilah yang membuat mereka merasa berat memikulnya.

Dalam kisah yang lebih rinci dikemukakan oleh Muqatil ibnu Hayan sebagaimana terdapat dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa Allah Ta’ala bertanya kepada langit, “Maukah engkau memikul amanat ini (wahai langit)? Aku berjanji akan memberikan karunia dan kemuliaan serta pahala (untukmu) di surga (jika engkau bisa memikulnya).”

Langit menjawab, “Ya Tuhanku. Sesungguhnya kami tidak kuat memikul perintah ini dan tidak mampu mengerjakannya. Tetapi, kami akan selalu taat kepada-Mu.”

Hal yang sama juga diungkapkan oleh bumi. “Kami tidak memiliki kesabaran memikul tugas ini dan kami tidak kuat (wahai Tuhanku). Tetapi kami (akan) selalu tunduk dan patuh kepada-Mu dan tidak akan mendurhakai-Mu dalam sesuatu pun yang Engkau perintahkan kepada kami,” kata bumi.

Terakhir, sebagaimana dikisahkan dalam ayat al-Qur’an tadi, amanat itu ditawarkan kepada manusia. Ndilalah manusia mau menerimanya.

Dalam tafsir Ibnu Katsir diceritakan bahwa Allah Ta’ala berkata kepada Adam Alaihissalam (AS), “Maukah engkau memikul amanat ini dan memeliharanya dengan sebaik-baiknya (wahai Adam)?”

Adam AS kemudian balik bertanya kepada Allah Ta’ala, “Imbalan apakah yang akan aku terima di sisi Mu ya Tuhanku?”

Allah Ta’ala menjawab, “Hai Adam. Jika kamu berbuat baik, taat, dan memelihara amanat ini, maka bagimu di sisi-Ku kemuliaan, keutamaan, dan pahala yang baik di surga. Namun jika engkau durhaka, tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang sebenar-benarnya, dan kamu berlaku buruk terhadapnya, maka sesungguhnya Aku akan mengazab dan menyiksamu serta memasukkanmu ke dalam neraka.”

Adam AS kemudian menjawab, “Aku rela ya Tuhanku.”

Lalu Allah Ta’ala pun berkata, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, “Aku telah memikulkannya kepadamu.” Ini sesuai dengan petikan dari surat al-Ahzab [33] ayat 72, “… dan dipikullah amanat itu oleh manusia.”

Yang menarik, setelah menceritakan bahwa manusia mau menerima amanat ini, Allah Ta’ala menutup ayat ini dengan mengatakan, “Sungguh manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”

Mengapa manusia itu zalim dan bodoh?

Bila kita melihat kesudahan dari perjalanan hidup anak keturunan Adam AS, wajarlah bila Allah Ta’ala menegaskan demikian. Sebagian besar dari manusia pada akhirnya tersesat. Hanya sedikit saja yang selamat. Manusia lebih memilih jalan bengkok. Padahal Allah Ta’ala telah memberi petunjuk kepada manusia lewat lisan para Nabi dan Rasul.

Mengapa mereka tersesat? Tak lain karena mereka berlaku zalim. Tak tanggung-tanggung, mereka zalim kepada Allah Ta’ala, Tuhan yang menciptakan manusia. Mereka tak mau menempatkan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya Dzat yang harus diibadahi. Mereka mendua, bahkan tak mengakui Allah Ta’ala sebagai Tuhan. Na’udzubillah.

Sungguh bodoh manusia. Padahal ayat pertama yang diturunkan Allah Ta’ala kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam (SAW) adalah perintah membaca agar manusia tidak bodoh dan tidak berlaku zalim. Namun, kebanyakan manusia enggan.

Masih beruntung Allah Ta’ala membukakan pintu ampunan kepada manusia yang masih mengimani Allah Ta’ala dan segala ketentuan-Nya. Ini dinyatakan oleh Allah Ta’ala dalam lanjutan surat al-Ahzab [33], yakni ayat ke 73, yang juga merupakan ayat terakhir surat ini, “… dan Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa kita dan tidak memasukkan kita kepada golongan orang-orang yang zalim dan bodoh. Aamiin. *

Rep: Mahladi
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Diksi Persatuan Pemimpin Teladan

Diksi Persatuan Pemimpin Teladan

Tiga Modal Penting Para Juru Dakwah

Tiga Modal Penting Para Juru Dakwah

Kecerdasan yang Hakiki

Kecerdasan yang Hakiki

Memberi Petunjuk: Karakteristik Pemimpin Ideal

Memberi Petunjuk: Karakteristik Pemimpin Ideal

Qurratu A’yun dan Berkah Anak Shalih

Qurratu A’yun dan Berkah Anak Shalih

Baca Juga

Berita Lainnya