Ahad, 24 Januari 2021 / 10 Jumadil Akhir 1442 H

Oase Iman

10 Ciri Agar Cinta dan Mahabbah Tumbuh dan Bersemi karena Allah

Ilustrasi
Bagikan:

Hidayatullah.com | KATA mahabbah , yang populer diterjemahkan dengan kata “cinta”. Dalam terminologi Arab, mahabbah  memiliki banyak makna yang satu sama lain saling keterkaitan. Imam Ibnul Jauzi yang menyusun kitab Dzammul Hawaa, sementara Imam Ibnu Hazm al-Andalusi menulis kitab Thuuqul Hamaamah. Yang juga sangat familiar adalah Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya Raudhatul Muhibbiin wa Nuzhatul Musytaaqiin. Yang terakhir ini, telah banyak diterjemahkan dengan beragam versinya. Inti dari semua kitab itu adalah “taman orang-orang yang jatuh cinta dan memendam rindu”.

Dalam kitab Raudhatul Muhibbiin wa Nuzhatul Musytaaqiin Ibnu Qayyim al Jauzi menjelaskan bahwa varian makna mahabbah  sangatlah banyaknya. Menurutnya, tidak kurang dari 50 hingga 60 makna.

Menurut beliau, mahabbah, diambil dari kata al-habab, artinya air yang meluap setelah hujan lebat. Atau ungkapan orang Arab hababal asnaan, gigi putih bersih, di samping makna lainnya seperti tenang dan nyaman. JIka semuanya dipadukan, maka yang disebut mahabbah  itu adalah “luapan hati yang membuat seseorang merasa damai untuk mengharapkan sesuatu yang diinginkannya dan ia tidak dapat berpaling darinya.” (Lihat: Raudhatul Muhibbiin).

Tulisan ini tidak bermaksud memaparkan panjang lebar makna-makna tersebut. Melainkan bagaimana kecintaan hakiki seseorang kepada Dzat yang memiliki kasih sayang sejati, yakni Allah jalla jalaaluh. Yang dengan karena cintanya pada Rabbul ‘aalamiin mengalahkan cinta-cinta lainnya. Al-Qur’an menyebutnya dengan asyaddu hubban lillaah sebagaimana diisyaratkan QS. Al-Baqarah/ 2: 165.

Hanya karena Allah

Ada banyak perantara sosial, yang menyebabkan terjadinya saling perhatian (ihtimaam), saling membantu (ta’aawun), saling menjamin (tadhaamun) dan saling menanggung (takaaful) sesame muslim. Satu di antaranya adalah “pertemanan” atau “hidup berkumpul” (disebut juga makhluq sosial) yang sudah menjadi fithrah manusia. Lagi-lagi pertemanan tersebut merupakan perkumpulan yang terikat dengan ikatan Allah yang senantiasa diposisikan di atas segalanya.

Bertemunya seseorang harus karena Allah,  dan berpisahn pun hanya karena Allah (ijtama’aa ‘alaihi wa tafarraqaa ‘alaihi). Bukankah hal ini sudah menjadi jaminan Nabinya? Di mana ‘Arsy Ar Rahmaan akan menaungi mereka di hari akhir kelak. Dalam sebuah hadits Nabi mengatakan, ada tujuh golongan yang berhak mendapatkan naungan Allah di hari kiamat.

Lalu, pertemanan seperti apa yang dimaksudkan isyarat nubuwwah tersebut?

Para  ulama dan cendikia terdahulu pun melukiskannya dalam bentuk untaian sastra  yang indah tentang kecintaan karena Allah. Dalam buku “Indahnya Mencintai Karena Allah ‘Azza wa Jalla” karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan Al-Atsari (Pustaka Imam Ad-Dzahabi, 2011) disebutkan ciri kecintaan karena Allah sebagai berikut:

Pertamatidak berteman dengan orang yang tidak peduli ilmu

وإن عناء ان تفهم جاهلا … فيحسب جهلا انه منك افهم

“Sungguh repot mengajari orang jahil … Karena jahilnya, ia menganggap dirinya lebih tahu darimu.”

متى يبلغ البنيان يوما تمامه … إذا كنت تبنيه و غيرك يهدم

“Kapankah sebuah bangunan bisa selesai sempurna … Jika engkau membangun, sedangkan yang lain merobohkan.”

متى ينتهي عن شيئ من اتى به … إذا لم يكن منه عليه يندم

“Kapankah orang yang berbuat jahat akan berhenti dari kejahatannya … Apabila ia sama sekali tidak menyesali perbuatannya.” (hlm. 29)

Kedua,  mencari teman orang yang mulia

من عاشر الأشراف عاش مشرفا … ومعاشر الأرذال غير مشرف

“Siapa yang berteman dengan orang mulia, ia akan ikut menjadi mulia … Siapa yang berteman dengan orang hina, ia tidak akan menjadi mulia.”

أو ماترى الجلد الخسيس مقبلا … بالثغر لما صار جلد المصحف

“Tidakkah kamu melihat kulit yang hina diciumi orang … Tatkala ia menjadi pembungkus mushhaf Al-Qur’an.” (hlm. 30-31)

Ketiga,  tidak berlebihan dalam hal cinta dan benci

Berkata Hadbah bin Khasyram:

وأحبب إذا احببت حبا مقاربا … فإنك لاتدري متى انت نازع

“Jika engkau mencintai, maka cintailah sewajarnya … Sebab engkau tidak tahu, kapan engkau memutus cinta itu.”

وأبغض إذا أبغضت بعضا مقاربا … فإنك لاتدري متى انت راجع

“Jika engkau membenci, maka bencilah sewajarnya … Sebab engkau tidak tahu, kapan engkau meralat kebencian itu.”

وكن معدنا للحلم واصفح عن الخنا … فإنك راء ما عملت و سامع

“Jadilah engkau tambang bagi kebaikan dan berilah maaf atas kesalahan … Karena sesungguhnya engkau melihat dan mendengar apa yang engkau lakukan.”

Berkata An-Namir bin Taulab:

وأحبب حبيبك حبا رويدا … فليس يعولك ان تصرما

“Cintailah orang yang engkau cintai sewajarnya … Niscaya tak akan menyusahkanmu bila engkau memutus cinta itu.”

وأبغض بغيضك بغضا رويدا … إذا انت حاولت ان تحكما

“Bencilah orang yang engkau benci sewajarnya … Niscaya tak akan memberatkanmu bila engkau  tetap membencinya.” (hlm. 45-46).

Keempat, memaklumi atas kekurangan teman

وكم من أخ لم تحتمل منه علة … قطعت ولم يمكنك منه بديل

“Berapa banyak teman yang engkau tak mampu menerima kekurangannya … Lantas engkau putuskan hubungan dengannya, padahal engkau tidak mungkin menemukan penggantinya.”

ومن لم يرد إلا خليلا مهذبا … فليس له في العالمين خليل

“Siapa yang ingin mencari teman yang sempurna … Maka tidak akan ada di dunia ini yang bisa menjadi temannya.” (hlm. 54-55).

Kelima,  teman yang harmoni dengan saling berbagi

هدايا الناس بعضهم لبعض … يولد في قلوبهم الوصالا

“Saling memberi hadiah di antara manusia … Akan melahirkan kedekatan di dalam hati mereka.”

وتزرع في الضمير هوى وودا … وتلبسهم إذا حضروا جمالا

“Akan menumbuhkan cinta dan kasih dalam sanubari … Serta menciptakan keindahan tatkala mereka bertemu.” (hlm. 68).

Keenam, teman yang harmoni saling berziarah

Berkata Ahmad bin Muhammad as-Shaidawi:

عليك بإقلال الزيارة إنها … إذا كثرت كانت إلى الهجر مسلكا

“Hendaklah engkau sesekali melakukan kunjungan … Jika terlampau sering pun dapat menimbulkan keresahan.”

فإني رآيت القطر يسأم دائبا … ويسأل بالآيدي إذا هو أمسكا

“Sungguh aku melihat hujan, apabila turun setiap hari akan membuat bosan … Dan apabila tertahan, justeru semua memintanya dengan menengadahkan tangan.” (hlm. 75).

Berkata Al-Kuraizi:

أقلل زيارتك الحبيب … تكون كالثوب إستجده

“Batasilah kunjungan pada temanmu … Jadilah seperti pakaian yang senantiasa baru.”

إن الصديق قد يمله … أن لا يزال يراك عنده

“Sungguh sesuatu yang paling membosankan bagi seseorang … Bila ia terlampau sering melihatmu.” (hlm. 75-76).

Ketujuh, teman yang piawai dalam bergaul

إذا عجزت عن العدو فداره … وامزح له إن المزاج وفاق

“Jika engkau tak mampu menaklukkan musuh, maka beramah tamahlah dengan mereka … Berguraulah pada mereka, maka gurauan itu menunjukkan kecocokkan.”

فالنار بالماء الذي هو ضده … تعطي النضاج و طبعها الإحراق

“Api hanya dapat dipadamkan oleh air yang merupakan lawannya … Api tetap dimanfaatkan untuk menyalakan, meskipun tabiatnya tetap membakar.” (hlm. 117-118).

Delapan, teman yang tidak bermuka dua

Berkata Ibrahim bin Muhammad:

وكم من صديق وده بلسانه … خثون بظهر الغيب لايتلعم

“Berapa banyak teman yang ucapannya menampakkan  cinta … Namun ketika berpisah ia senang mencela.”

يضاحكني عجبا إذا مالقيته … ويصدفني منه إذا غبت أسهم

“Ia akan tertawa denganku saat bertemu … Namun ia menyerangku dengan anak panah bila berada di belakangku.”

كذالك ذوالوجهين يرضيك شاهدا … وفي غيبه إن غاب صاب و علقم

“Demikianlah teman yang bermuka dua, ia menyenangkanmu saat bersua … Namun menjadi pencaci dan penghujat saat ia berpaling muka.” (hlm. 124-125).

Sembilan,  teman yang tidak senang mengobral ‘aib saudaranya

ترى الكريم إذا تصرم وصله … يخفي القبيح ويظهر الإحسانا

“Engkau dapati orang mulia, bila engkau putus hubungan dengannya … Ia merahasiakan keburukanmu dan menunjukkan kebaikanmu.”

وتضرى اللثيم إذا تقضي وصله … يخفي الجميل و يظهر البهتانا

“Engkau lihat orang hina, apabila berakhir hubunganmu dengannya … Ia menyembunyikan kebaikanmu dan membongkar ‘aibmu.” (hlm. 164-165).

Sepuluh,  teman yang tidak senang menularkan kesempitan dada pada orang lain

إذا المرء أفشى سره بلسانه … ولام عليه غيره فهو أحمق

“Jika seseorang membeberkan rahasia dengan lisannya … Lalu ia mencela orang lain karena menceritakannya, maka sesungguhnya ia orang dungu.”

إذا ضاق صدر المرء عن سره … فصدر الذي يستودع السر أضيق

“Jika dada seseorang sudah merasa sempit menyimpan rahasianya … Maka dada orang yang menerima rahasia itu lebih sempit lagi.” (hlm. 166-167).

Demikianlah butiran hikmah ini dihaturkan, semoga menjadi mutiara tarbiyah dan tazkiyah bagi semua. Aamiin yaa Rahmaan yaa Rahiim.*/ Teten Romly Qomaruddien

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Bersyukur (2)

Bersyukur (2)

Menjaga Persatuan Umat di Tengah Zaman Penuh Fitnah

Menjaga Persatuan Umat di Tengah Zaman Penuh Fitnah

Tua dan Sakit dalam Pandangan Islam (1)

Tua dan Sakit dalam Pandangan Islam (1)

Esensi Hijrah

Esensi Hijrah

Pesona Fisik dan Akhlak Rasulullah di Mata Para Sahabat [2]

Pesona Fisik dan Akhlak Rasulullah di Mata Para Sahabat [2]

Baca Juga

Berita Lainnya