Senin, 5 Juli 2021 / 26 Zulqa'dah 1442 H

Oase Iman

Ilmu, Jalan Bahagia Paripurna

Pinterest
[Ilustrasi]
Bagikan:

Hidayatullah.com | SEBAGAI Muslim yang hidup di bumi Nusantara tentu kita tidak bisa lepas dari urf   (kebiasaan) yang berlaku di masyarakat Nusantara.  Hal ini adalah sebuah kelumrahan sebab manusia memang merupakan makhluk sosial yang tidak mungkin bisa lepas dari sistem dan pranata sosial yang berlaku di lingkungannya.

Urf  sendiri tidak selamanya bernilai buruk. Secara etimologi urf  berasal dari kata ‘arafa – ya’rifu, (عرف-  يعرف) yang artinya adalah sesuatu yang dikenal dan bernilai baik, sesuatu yang tertinggi, berurutan, pengakuan, dan kesabaran. (Syeikh Wahbah al Zuhailiy, Ushûl al-Fiqh al-Islâmiy, Vol. II, Damaskus: Dâr al-Fikr, Cetakan 16, 2008), 104).

Dan secara terminologi, urf  adalah keadaan yang sudah tetap dalam diri manusia, dibenarkan oleh akal serta diterima pula oleh tabiat yang sehat. Definisi ini menjelaskan bahwa perkataan dan perbuatan yang jarang dilakukan dan belum dibiasakan oleh sekelompok manusia, tidak dapat disebut sebagai ‘urf .

Begitu juga hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan, namun ia bersumber dari nafsu dan syahwat, seperti minum khamr dan seks bebas, yang sudah menjadi sebuah tradisi sekelompok masyarakat, tidak bisa dikategorikan sebagai ‘urf .

Artinya, ‘urf  bukanlah suatu kebiasaan yang menyimpang dari norma dan aturan. (Konsep ‘Urf  dalam Penetapan Hukum Islam; Jurnal Tsaqofah Unida Gontor Vol. 13, No. 2 hal 282, November 2017).

Sebagaimana penjelasan tersebut, di nusantara ini banyak sekali kita dapati beberapa kebiasaan (urf ) yang hampir tidak pernah ditinggalkan, salah satunya adalah dzikir dan wiridan berjama’ah lalu dipungkasi dengan doa penutup. Dan uniknya yang menjadi ciri khas Muslim di nusantara adalah sering membaca doa-doa pendek yang disambung secara berurutan.

Hal itu sesuai yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنْ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ

“Rasulullah menyukai doa-doa yang singkat padat, dan meninggalkan selain itu.” (HR: Abu Daud no. 1482)

Dan yang “wajib” untuk tidak ditinggal oleh umat Islam di Nusantara adalah doa sapu jagad yang biasanya dibaca di penghujung doa sebelum ditutup dengan sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Doa sapu jagad ini adalah doa yang juga sangat disukai oleh Rasulullah ﷺ. Diriwayatkan dari sahabat Anas Bin Malik Radiyallahu Anhu,

 

كَانَ أكثرُ دعاءِ النبيّ – صلى الله عليه وسلم – : (( اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )) متفقٌ عَلَيْهِ .

“Doa yang lebih sering diucapkan oleh Rasulullah adalah Allahumma aatina fid dunyaa hasanah, wa fil akhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari adzab Neraka).” (HR: Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690).

Mengapa doa ini disukai oleh Rasulullah ﷺ dan dianggap sebagai doa sapu jagad, sebab di dalam doa ini tercakup tiga hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap manusia yakni kebaikan dunia; kebaikan akhirat; dan sekaligus terbebas dari api neraka. Itulah mengapa doa sapu jagad menjadi primadona yang tentu menjadi kewajaran belaka jika menjadi doa yang selalu wajib dibaca.

Mengenai doa yang tersebut di dalam surah Al Baqarah ayat 201 ini, Imam Hasan Al Bashri Radiyallahu Anhu memiliki tafsir yang menarik. Beliau menafsirkan kalimat kebaikan di dunia (hasanah fid dunya) adalah berupa ilmu dan ibadah. Dan kebaikan di akhirat (hasanah fil akhirah) adalah Surga.

Ini senada dengan ungkapan dari Imam Syafii Radiayallahu anhu yang mengatakan,

مَن أراد الدنيا فعليه بالعلم, ومَنۡ أراد الأٓخرۃ فعليه بالعلم, فإنّهُ يُحۡتَاجُ اليه في كُلِّ منهما

“Barangsiapa yang menginginkan dunia maka harus dengan ilmu;  dan barangsiapa yang menginginkan akhirat maka harus dengan ilmu; maka sesungguhnya ilmu itu dibutuhkan untuk mendapatkan keduanya (dunia dan akhirat).”

Ini menandakan bahwa kebaikan di dunia dan di akhirat hanya bisa digapai dengan cara yang sama yakni melalui ilmu.  Ibadah yang merupakan aktivitas paling fitrah bagi manusia yang merupakan hamba Allah pun juga membutuhkan ilmu.

Sebab ibadah yang tidak didasari dengan ilmu lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Hal ini kata para ulama salaf diakibatkan karena ibadah yang dikerjakan tanpa landasan ilmu berpeluang besar banyak tidak sah nya atau minimal dominan kecacatannya.

Maka dari itulah ilmu sangat diperlukan di dalamnya. Sehingga wajar manakala aktivitas apapun yang terkait dengan ilmu sangat dijunjung kedudukannya di dalam Islam.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

مَا عُبِدَ اللهُ بِشيءٍ أفضل منَ الفِقۡهِ في الدّين

“Tidaklah Allah disembah (diibadahi) dengan sesuatu yang lebih utama dibandingkan dengan paham pada ilmu agama.” (HR: Baihaqi).

Lebih lanjut hadis itu dijelaskan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ibnu Abbas Radiyallahu Anhu yang berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

فقيهٌ واحدٌ أشدُّ علیٰ الشيطانِ مِنۡ ألفِ عابد

“Seorang yang paham ilmu agama lebih ditakuti setan daripada seribu ahli ibadah (yang tidak paham ilmu).”(HR: At Tirmidzy).

Mengenai kedudukan ilmu dan yang terkait dengannya, sahabat Abu Darda’ Radiyallahu Anhu berkata,

العالمُ والمتعلّمُ شريكانِ في الخير, وساءرالناس همَجٌ لا خيرَ فيهم

“Orang yang berilmu dan orang yang belajar ilmu itu adalah dua sekutu dalam kebaikan, sedangkan seluruh manusia (lainnya) adalah dungu, tidak ada kebaikan padanya.”

Al Allamah Al Habib Zain Bin Ibrahim Bin Smith di dalam kitabnya, Manhajus Sawy, menyatakan bahwa ilmu lebih tinggi dan lebih utama daripada seluruh amal yang dilakukan untuk mendekat kepada Allah Swt.   Sebab ilmu adalah pondasi daripada ibadah dan sumber daripada kebaikan seperti halnya bahwa kebodohan adalah pokok daripada segala keburukan dan pangkal daripada malapetaka. (Manhajus Sawy Syarh Ushul Thoriqoh Sadah Al Ba’alawy Lil Habib Zein Bin Ibrahim Bin Smith, hal : 77-78).

Maka jikalau benar umat Islam ingin mendapatkan kebahagiaan dunia- akhirat dan bebas daripada api neraka tidak ada jalan lain melainkan dengan ilmu. Sebab kata Imam Junaid Bin Muhammad Al Baghdadi (Sayyidut Tho’ifah), semua jalan menuju Allah Swt telah tertutup dan hanya satu yang masih terbuka yakni lewat cara menapaki atsar (jejak) Nabi Muhammad ﷺ.

Dan apakah jejak yang ditinggalkan oleh Rasulullah ﷺ, tidak lain melainkan Al Qur’an dan As Sunah.  Dan bagaimana cara memahami dua pusaka warisan agung itu, tidak ada lain melainkan lewat jalur ilmu.

Ini sesuai sabda Rasulullah ﷺ,

“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.” (HR Abu Dawud).

Dari berbagai pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa pengejawantahan nyata dari doa sapu jagad adalah lewat jalur ilmu. Ini menjadi sebuah konsekuensi logis sebab yang dituju bukanlah cita-cita yang remeh.

Kebahagiaan dunia dan akhirat serta terbebas dari siksa neraka adalah hal besar yang mesti “ditebus” dengan pengorbanan yang besar pula, yakni berpayah-payah dalam menuntut ilmu. Dan itulah satu-satunya harga yang pantas. Wallahu A’lam Bis Showab.* Muhammad Syafi’i Kudo, murid Kulliyah Dirosah Islamiyyah Pandaan Pasuruan

 

Rep: Insan Kamil
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Jika Lockdown Berkelanjutan, Ini Petunjuk Al-Qur`an

Jika Lockdown Berkelanjutan, Ini Petunjuk Al-Qur`an

Antara Ambisi dan Ambisius

Antara Ambisi dan Ambisius

Hari Kiamat di antara Derajat Para Makrifat

Hari Kiamat di antara Derajat Para Makrifat

Shalat dan Zakat sebagai pilar Peradaban Islam

Shalat dan Zakat sebagai pilar Peradaban Islam

10 Sifat Malu menurut Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah

10 Sifat Malu menurut Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah

Baca Juga

Berita Lainnya