Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

Tegaknya Peradaban Mulia

Bagikan:

Hidayatullah.com ISTILAH peradaban Islam sesungguhnya bisa dirunut dari asal kata “adab”. Dalam kitab Mu’jam al-Washit disebutkan bahwa kata “adab” berasal dari adduba dan taaddaba, yang artinya mendidik seseorang dengan akhlak yang baik.

Jadi, orang yang berilmu, halus tutur katanya, berkesusastraan tinggi, berakhlak mulia, disebut sebagai adib (orang yang beradab). Sebaliknya, orang yang kasar, tidak memiliki sopan santun, tidak berperikemanusiaan, disebut qaliil ul adab (orang yang kurang adab atau tidak beradab).

Dalam bahasa Arab, kata al-hadharah (peradaban) memiliki lawan kata al-badawah (Badwi). Kemudian kata al-hadhirah (kota) memiliki lawan kata al-badiyah (desa). Sedangkan kata al-hadhar (orang kota) adalah lawan kata dari al-badw (orang Badwi, kaum nomaden di padang pasir).

Orang Badwi, dalam komunitas orang-orang Arab, dikenal bersikap keras, kasar, kaku, dan bodoh. Mereka tidak berpendidikan dan tidak bisa baca tulis.

Tak seorang Rasul pun yang berasal dari kalangan Badwi. Mengapa? Beberapa ahli tafsir memberi argumentasi, di antaranya Imam Ibn Zaid, bahwa penduduk kota (al-hadhar) lebih berpendidikan dan lebih sopan dari pada penduduk Badwi (al-badw).

Bahkan, para ulama berpendapat bahwa hukum menjadi orang Badwi itu makruh. Hukum ini bisa berubah menjadi haram bila orang yang telah hijrah menjadi orang kota kembali menjadi orang Badwi.

Dengan demikian jelaslah bahwa membangun manusia yang beradab bagi kaum Muslim menjadi sebuah keharusan. Ini pula yang dilakukan oleh Muhammad ﷺ pada masa awal kenabian. Beliau berdakwah kepada orang-orang terdekatnya, lalu mentarbiyah mereka, sehingga mereka menjadi pribadi yang beriman. Iman inilah yang mengantar mereka menjadi pribadi yang beradab dari sebelumnya jahiliah.

Hal yang sama dilakukan oleh Rasulullah ﷺ saat di Madinah setelah hijrah. Beliau membangun manusia-manusia yang beradab di negeri itu dengan konsep wahyu, konsep yang datang dari Sang Pemilik Kehidupan.

Namun, jangan keliru membayangkan seperti apa masyarakat Madinah setelah peradaban Islam tegak di sana. Jangan bayangkan masyarakat Madinah ketika itu menjadi seratus persen homogen. Peradaban Islam tidak meniadakan sifatnya sebagai masyarakat manusia.

Masyarakat Madinah ketika itu merupakan masyarakat yang majemuk (plural), baik dari sisi suku, bangsa, agama, sosial, ekonomi, bahkan dari sisi ketaatan.

Penduduk Madinah terdiri dari orang-orang Arab, Romawi, Habasyah (Afrika), dan lain-lain. Mereka juga campuran dari kaum Anshar, penduduk Kota Yatsrib (sebelum diubah namanya menjadi Madinah) dan kaum muhajirin (mereka yang ikut hijrah bersama Rasulullah ﷺ).

Status sosial ekonomi masyarakat Madinah juga sangat beragam. Ada Bilal, seorang budak yang kemudian dibebaskan oleh Abu Bakar Shiddiq. Ada ’Amr bin Yasir, seorang penduduk biasa yang bersahaja.  Ada Hamzah bin ‘Abdul Muthalib, anak pembesar suku Quraisy dari Bani Hasyim.  Ada Suhaib ar-Rumi, pedagang sukses dari negeri Rumawi.  Ada ‘Utsman bin ‘Affan, saudagar suku Quraisy yang sangat sukses di Makkah.

Di Madinah hidup anggota masyarakat yang beragama Yahudi dan Nasrani yang terikat perjanjian damai dengan mereka.

Penduduk Madinah yang beragama Islam pun tidak seratus persen taat. Tetap ada di antara mereka yang terjerumus ke dalam perbuatan dosa dan maksiat, kurang paham terhadap ajaran Islam, bahkan ada di antara mereka yang munafik, yaitu akhlak seorang hamba yang paling rendah dan hina sebagaimana digambarkan dalam al-Qur`an.

Jadi, masyarakat Madinah bukan masyarakat malaikat, juga bukan masyarakat manusia yang sudah berada di surga. Mereka masyarakat manusia biasa yang hidup di dunia. Karena itu, jika ada di antara mereka yang tersesat dan kafir, itu adalah fenomena manusiawi.

Yang penting, sistem Islam ditegakkan di sana, sehingga kalaupun terjadi penyimpangan, segera bisa diminimalkan. Itu sebabnya penyimpangan tidak menjadi warna dominan dari masyarakat Madinah. Kalaupun ada yang menyimpang, mereka segera bertaubat. Inilah bagian yang sangat indah dalam mozaik sejarah Madinah. Wallahu a’lam.

Rep: Mahladi
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Dakwah sebagai Poros Utama Umat

Dakwah sebagai Poros Utama Umat

Cinta Bilal untuk Al-Mukhtar Shallallahu ‘alaihi Wassallam

Cinta Bilal untuk Al-Mukhtar Shallallahu ‘alaihi Wassallam

Antara Obat dan Takdir Allah

Antara Obat dan Takdir Allah

Iman, Amal, dan Jalan yang Lurus

Iman, Amal, dan Jalan yang Lurus

Al Wala’, Salah Satu Kunci Kejayaan Islam

Al Wala’, Salah Satu Kunci Kejayaan Islam

Baca Juga

Berita Lainnya