Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

Terkadang Kita Memilih Perang

Ilustrasi
Bagikan:

Hidayatullah.com | ADA peristiwa menarik setelah baiat aqabah 2 yang dilaksanakan oleh hampir 80 kaum Muslim Madinah secara sembunyi-sembunyi di Mina. Ketika itu mereka baru saja selesai mengikrarkan kesetiaan kepada Rasulullah ﷺ  dan bersiap-siap hendak meninggalkan Mina.

Tiba-tiba, terdengar teriakan, “Wahai para penghuni rumah-rumah di Mina! Ketahuilah, saat ini para pengikut (Muhammad) sedang berunding untuk memerangi kalian,”  (Riwayat Ibnu Ishaq dari hadits Ka’ab ibnu Malik).

Rasulullah ﷺ  dan kau Muslim Madinah yang mendengar teriakan itu terkejut. Mereka sengaja melakukan baiat secara sembunyi-sembunyi agar tidak ada gangguan dari penduduk Mina yang tak suka dengan dakwah Rasulullah ﷺ .

Lalu, Abbas ibnu Ubbadah ibnu Nadhah, salah seorang Muslim Madinah, berkata kepada Rasulullah ﷺ . “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, bila engkau mengizinkan, niscaya besok kami akan menghadapi penduduk Mina dengan pedang-pedang kami.”

Penduduk Madinah memang telah terbiasa dengan peperangaan. Wajarlah bila mereka marah mendengar tantangan penduduk Mina. Namun, Rasulullah ﷺ  melarang mereka melawan. Beliau berkata, “Kami tidak diperintahkan melakukan itu. Sebaiknya kalian kembali,” (Riwayat Imam Nasa’i dan Imam Tirmidzi).

Ketika itu perintah berperang memang belum turun. Barulah saat Rasulullah ﷺ  keluar dari Kota Makkah untuk hijrah menuju Madinah, turunlah surat al Hajj [22] ayat 39:

اُذِنَ لِلَّذِيۡنَ يُقٰتَلُوۡنَ بِاَنَّهُمۡ ظُلِمُوۡا‌ ؕ وَاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى نَـصۡرِهِمۡ لَـقَدِيۡرُ

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh Allah Maha Kuasa menolong mereka itu.”

Ayat ini memang tidak secara tegas memberikan perintah kepada Rasulullah ﷺ  dan kaum Muslimin untuk berperang. Ayat ini, menurut para mufassir, hanya sebatas “mengizinkan” berperang.

Ibnu Abbas, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, menyatakan inilah ayat pertama yang diturunkan oleh Allah Ta’ala untuk mengizinkan kaum Muslim memerangi orang-orang yang memerangi mereka. Hal serupa juga dikatakan oleh Ibnu Ishaq (Riwayat Bukhari) dan para ulama lainnya.

Abu Bakar As-Shiddiq, setelah ayat ini turun, berkata, “Maka aku mengetahui bahwa (setelah ini) akan terjadi peperangan.”

Barulah selang beberapa waktu kemudian, perintah perang turun dari Allah Ta’ala lewat surat al-Baqarah [2] ayat 190.

وَقَاتِلُوۡا فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ الَّذِيۡنَ يُقَاتِلُوۡنَكُمۡ وَلَا تَعۡتَدُوۡا ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الۡمُعۡتَدِيۡنَ

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Setelah itu turun ayat yang mewajibkan kaum Muslim memerangi seluruh kaum musyrikin, yakni surat At Taubah [9] ayat 36, “…Dan perangilah kaum musyirik itu semuanya, sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya…

Setelah ayat-ayat tentang perang ini turun, Rasulullah ﷺ  mulai melakukan sejumlah ekspedisi militer hingga meletuslah Perang Badar Kubra, Perang Uhud, Perang Khandaq, dan perang-perang besar lainnya.

Dari kisah ini kita menjadi paham bahwa adakalanya kaum Muslim harus memilih perang untuk membela dan menegakkan Islam. Namun, perang bukanlah satu-satunya jalan. Adakalanya kaum Muslim justru harus bersabar, tak boleh melakukan perlawanan sama sekali meski teraniaya, sebagaimana dialami Rasulullah ﷺ  saat berada di Makkah.

Adakalanya pula kaum Muslim boleh memilih perang melawan orang-orang yang memerangi mereka dan boleh juga memilih tetap menahan diri. Pada keadaan yang lain, perang justru adalah perintah yang harus dilaksanakan oleh kaum Muslim.

Rasulullah ﷺ  setelah hijrah ke Madinah, sebagaimana diuraikan oleh Dr Mahdi Rizqullah Ahmad dalam buku Biografi Rasulullah, Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-sumber yang Otentik, awalnya membebaskan jalur perdagangan yang dikuasai kaum Quraisy. Selanjutnya, beliau memperluas wilayah kekuasaan, bahkan berhasil menaklukkan Makkah dan wilayah sekitarnya. Penaklukkan dan pembebasan ini kemudian diteruskan oleh para khalifah hingga menguasai dua per tiga wilayah dunia.

Ketika kaum Muslim telah kuat, tak akan ada yang berani mencaci maki Islam, menghina Rasulullah ﷺ , atau berbuat zalim kepada kaum Muslim. Ketika Islam telah ditegakkan, maka peradaban manusia akan mulia karena diatur sesuai dengan fitrahnya.Wallahu a’lam. *

Rep: Mahladi
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Dicari! Sumber Kepercayaan Umat

Dicari! Sumber Kepercayaan Umat

Bagilah Informasi Kepada Orang yang Tepat

Bagilah Informasi Kepada Orang yang Tepat

Ciri Hati yang Telah Mendapat Celupan al-Quran

Ciri Hati yang Telah Mendapat Celupan al-Quran

10 Konsep Kebahagiaan dalam Surah An-Nasyr [1]

10 Konsep Kebahagiaan dalam Surah An-Nasyr [1]

Belajar dari Sahabat Abu Dzar Al-Ghifari

Belajar dari Sahabat Abu Dzar Al-Ghifari

Baca Juga

Berita Lainnya