Rabu, 27 Januari 2021 / 14 Jumadil Akhir 1442 H

Oase Iman

Manusia Teragung di Semesta

Bagikan:

Oleh: Muhammad Syafii Kudo

 

Hidayatullah.com | SUATU ketika saat Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali Radiyallahuanhuma berhasil bertemu dengan Uwais Al Qorni di Yaman, terjadilah dialog menarik di antara mereka.

Uwais yang masyhur di kalangan “penduduk langit” namun tidak dikenal di bumi mengatakan kepada dua sahabat utama Nabi tersebut bahwa mereka sebenarnya belum mengenal Nabi Muhammad ﷺ secara kafah (total).

Lalu ketika ditanyakan bagaimana dengan Sayyidina Abu Bakar Ra? Uwais juga mengatakan bahwa Sayyidina Abu Bakar Ra. juga belum mengenal Nabi Muhammad ﷺ secara kafah.

Padahal seperti diketahui bahwa Sayyidina Abubakar adalah satu-satunya Sahabat yang telah mencapai maqom Shidiq yang kadar keimanannya sudah tidak diragukan lagi.

Bahkan saking cintanya sang khalifah pertama tersebut kepada Nabi Muhammad ﷺ hingga dikatakan bahwa beliau meninggal dunia karena susah hati akibat memendam kerinduan kepada Nabi Muhammad ﷺ yang telah meninggal terlebih dulu. (Lihat Syarh Sulamul Munajat Lil Imam Nawawi Al Bantani).

Lalu Uwais mengatakan bahwa semua umat Nabi Muhammad ﷺ baru akan mengenal Nabi Muhammad ﷺ secara kafah saat mereka menyaksikan sendiri pengorbanan beliau di Yaumul Mahsyar saat beliau bersujud kepada Allah SWT untuk memintakan Syafaat bagi seluruh umatnya.

Saat itulah akan tersibak puncak keagungan pribadi Nabi Muhammad ﷺ bagi semesta. Sudah jamak diketahui bahwa Allah SWT sudah menggambarkan dalam Al Qur’an (QS. At Taubah: 28) bahwa sifat Nabi Muhammad ﷺ adalah merasakan susah dengan penderitaan umatnya dan ingin umatnya selamat serta berbelas kasih dan penyayang kepada kaum beriman.

Maka sangat wajar jika Allah SWT memuji akhlak beliau yang agung dengan pemakaian Nuun Taukid dan sekaligus Lam Taukid dalam ayat yang berbunyi,

(وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ ) pada surah Al Qolam ayat 4, yang memberi pengertian bahwa beliau benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Serta masih pula diberi keistimewaan dengan ditempatkannya beliau di posisi yang mulia dengan ditinggikannya nama Nabi Muhammad ﷺ,

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (QS. Al Insyirah : 4).

Qatadah mengatakan, “Allah Swt meninggikan sebutan beliau di dunia dan di akhirat. Tidak ada seorang khatib, orang yang mengucapkan syahadat, dan juga orang yang mengerjakan shalat, melainkan menyebutkan kesaksian: asyhadu allaa ilaaHa illaallaaHu wa asyhadu anna Muhammadar rasuulullah (Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak untuk diibadahi dengan benar selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Ibn Katsir menukil dari Hasan bin Tsabit Ra, yang berkata, “Dipancarkan pada penutup kenabian, dari Allah berupa cahaya yang kemilau lagi disaksikan Ilah yang telah menggabungkan nama Nabi pada Nama-Nya, dimana pada kumandang kelima muadzin menyebutkan syahadat. Dan diambil nama dari nama-Nya untuk mengagungkannya. Demikian pemilik Arsy sangat terpuji, dan inilah Muhammad.”

Al Allamah Qodhi Iyadh Bin Musa Al Yahsubi di dalam kitabnya, Asyifa Bi Ta’rifi Hukuukil Mustofa, menyatakan bahwa Allah Swt memanggil semua Nabi-Nya dengan memakai nama-nama mereka secara langsung seperti Ya Adam; Ya Nuh; Ya Ibrahim;  Ya musa, Ya Dawud; Ya Isa, Ya Zakaria, Ya Yahya, dan Allah SWT tidak memanggil dia (Muhammad ﷺ) kecuali dengan panggilan Ya Ayyuhar Rasul; Ya Ayyuhan Nabi; Ya Ayyuhal Muzammil; dan Ya Ayyuhal Mudatsir. (Asyifa Bi Ta’rifi Hukuukil Mustofa; Jainatu Dubai Al Dauliyatul Lil Qur’anil Kariem  hal. 72). Itu menunjukkan bahwa Allah Swt sangat memuliakan nama Nabi Muhammad ﷺ.

Ada sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh al-Tarmizi, Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah s.a.w pernah bersabda: “Bahwa sesungguhnya bagi tiap-tiap sesuatu itu ada hatinya. Hati al-Quran ialah surah Yasin. Sesungguhnya aku merasa bahagia jika surah ini berada di dalam hati setiap umatku.” (al-Tarmizi).

Ingat bahwa enam ayat pertama pada surah Yasin adalah khusus membahas tentang Nabi Muhammad ﷺ. Dimana di situ dijelaskan mengenai sumpah Allah SWT bahwa memang benar Muhammad adalah seorang Rasul. Beliau dibahas di jantungnya Al Qur’an (Surah Yasin) dan beliau sendiri berakhlak dengan Al Qur’an, maka dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah Al Qur’an yang berjalan dan Al Qur’an adalah Nabi Muhammad ﷺ yang “dibaca”.

Dari semua pujian itulah maka sangat wajar manakala Al Imam Al Habib Ali Bin Muhammad Al Habsyi dalam kitab Simtud Dhuror bersyair, ” Meski lidah tak akan mampu mengungkap sifat-sifatnya. Walaupun sekelumit atau lebih sedikit. Tapi sekadar penawar hati para pendengar. Yang termasuk kalangan khusus di antara kaum mukminin. Dan penghibur mereka yang terpaut hatinya. Pada pesona nur Yang terang ini. Sebab bagaimana mungkin. Pena para penulis mampu melukis. Tentang segala sesuatu yang bersangkutan. Dengan manusia paling utama. Di antara manusia seluruhnya.

Tak salah jika Habib Ali Al Habsyi mengatakan demikian. Sebab tak ada yang bisa memuji Nabi Muhammad ﷺ secara sempurna sesuai kadar kemuliaan beliau melainkan Allah Swt sendiri. Beliau adalah Insan Kamil yang merupakan kekasih Allah di alam semesta.

Bahkan syarat agar bisa dicintai oleh Allah Swt adalah melalui Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini diabadikan di dalam Al Qur’an,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imron : 31).

Bahkan di dalam kitab Tajul Arsy Lil Ibn Atho’lah juga disebutkan bahwa siapa yang dibukakan baginya pintu (jalan) dimana dia bisa menjalankan sunah-sunah Nabi ﷺ maka itu adalah tanda bahwa Alllah Swt telah cinta kepadanya. Artinya kadar kecintaan Allah Swt kepada seorang hamba itu berdasarkan kadar kecintaan hamba kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Wal hasil mari ikuti Nabi Muhammad ﷺ agar kita dicintai Allah Swt sebab jalan menuju Allah (Suluk) sudah tertutup kecuali lewat pintu Nabi Muhammad ﷺ, demikian kata Imam Junaid Al Baghdadi.

Inilah keagungan Nabi Muhammad ﷺ. Maka tak ada alasan untuk tidak bergembira dengan kelahiran beliau, sebab Allah Swt sendiri yang memerintahkan hal itu di dalam Al Qur’an,

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Dengan karunia Allah dan rahmat­Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.

Dan tak ada pula alasan untuk tak bershalawat kepadanya. Sebab tidak ada ibadah yang pernah dilakukan oleh Allah Swt -yang merupakan Tuhan yang wajib  diibadahi satu-satunya- kecuali sholawat. Bahkan Allah Swt sendiri yang memulai bersholawat kepad Nabi sebelum yang lain.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu bershalawat kepada Nabi Muhammad. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan bersalamlah dengan sungguh-sungguh.” (QS. Al Ahzab : 56). Wallahu A’lam Bis Showab.*

Penulis adalah Murid Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan Pasuruan

Rep: Admin Hidcom
Editor: Rofi' Munawwar

Bagikan:

Berita Terkait

Keteladanan Abdullah Bin Al-Mubarak

Keteladanan Abdullah Bin Al-Mubarak

Keserakahan dan Pemufakatan Jahat

Keserakahan dan Pemufakatan Jahat

Istiqomah Lebih Mulia dari Seribu Karomah

Istiqomah Lebih Mulia dari Seribu Karomah

Berserah Diri (2)

Berserah Diri (2)

Menyikapi Islamofobia

Menyikapi Islamofobia

Baca Juga

Berita Lainnya