Dompet Dakwah Media

Tiga Macam Penuntut Ilmu

Penuntut ilmu seperti pecinta. Orang yang sudah mengetahui kemuliaan ilmu ia mengetahui manisnya dan bisa merasakan pahitnya kebodohan

Tiga Macam Penuntut Ilmu
Aljazeera
Ilustrasi: Kegiatan keilmuan di sudut Masjid Al-Azhar

Terkait

Oleh: Herman Anas

 

Hidayatullah.com | SAYYIDINAH Ali membagi manusia dalam beribadah kepada Allah menjadi 3 macam. Pertama, seperti budak (عبد). Kedua, seperti pedagang (تاجر). Ketiga, seperti pecinta (محب).

Menuntut ilmu di dalam Islam termasuk bagian dari ibadah. Bahkan ibadah yang sangat mulia. Orang yang menginginkan dunia dan akhirat itu butuh ilmu.

Jika dianalogikan dengan pembagian ibadah seperti penjelasan Sayyidina Ali di atas, maka penuntut ilmu dapat juga dibagi menjadi tiga macam.

Pertama, penuntut ilmu seperti budak. Dia belajar menunggu disuruh ustadz dan orang tua. Belajar karena takut di hukum. Belajar karena ada pekerjaan rumah (PR) tiap hari. Saat ustadz lupa memberi PR maka belajarnya jadi libur. Hal ini biasanya terjadi pada anak-anak yang masih baru mulai belajar.

Tugas orang tua dan guru agar meningkatkan level anak dalam menuntut ilmu dari yang seperti budak hingga seperti pecinta. Yakni dengan cara mendoakan, mengisahkan kehidupan ahli ilmu yang sudah merasakan manisnya ilmu. Menyampaikan kemuliaan ilmu dan ahli ilmu dalam Islam.

Kedua, penuntut ilmu seperti pedagang. Belajar kalau ada perlombaan, hadiah, ujian dan keuntungan dunia-dunia lainnya. Semangat belajar seperti ini sangat sementara. Bahkan mencelakakan di akhirat. Berbeda kalau mengejar keuntungan akhirat, pahala dan kemuliaan di sisi Allah, maka itu adalah kebaikan.

Berkaitan dengan bagian kedua, penuntut ilmu seperti pedagang, penulis pernah menemukan baliho besar. Baliho tersebut salahsatu bentuk promosi lembaga Islam besar di Jember. Apa yang ditawarkan?.

Bukannya kedalaman ilmu agama, metode yang mudah di dalam memahami ilmu,  motivasi akhirat, niat ingin ridha Allah, untuk kemulian Islam dan kaum muslimin dll., namun justru kemudahan diterima kerja dan masuk perguruan tinggi ternama.

Mungkin, hal ini dianggap biasa, ditengah bobroknya pendidikan saat ini. Terutama dalam hal niat dan kurikulum yang tidak menjadikan Islam sebagai landasan dan sudut pandang dalam segala aspek kehidupan. Padahal Rasul ﷺ sudah menegaskan dalam haditsnya di kitab Ta’limul Muta’allim :

كَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُوْرَة أعْمالِ الدّنْياَ وَيَصِيْرُ بِحُسْنِ النِيَّة مِن أَعْمَالِ الآخِرَة، كَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُوْرَة أعْمالِ الأخرة ثُمَّ يَصِيْر مِن أَعْمَالِ الدُّنْيَا بِسُوْءِ النِيَّة

Artinya: “Banyak amalan yang tampak sebagai perbuatan duniawi berubah menjadi perbuatan ukhrawi lantaran niat yang bagus. Banyak pula amalan yang terlihat sebagai perbuatan ukhrawi berubah menjadi perbuatan duniawi lantaran niat yang buruk.”

Ketiga, penuntut ilmu seperti pecinta. Orang yang sudah mengetahui kemuliaan ilmu dan penuntutnya. Mengetahui manisnya ilmu dan pahitnya kebodohan. Orang yang berbahagia atas karunia akal yang diberikan oleh Allah.

Orang yang sudah sampai ke tingkatan (maqam) ini akan senantiasa memanfaatkan waktunya dengan baik. Seluruh waktunya banyak digunakan untuk ilmu. Maka tidak heran, banyak para ulama terdahulu memakan makanan yang mudah dimakan (dikunyah) agar waktu makan tidak lama.

Mereka memulai belajarnya sejak kecil. Dalam sehari mereka mampu menghadiri banyak majelis ilmu bahkan sampai 12 kali sebagaimana yang dilakukan Imam Nawawi. Malam-malamnya mereka bagi, ada yang membagi mejadi tiga bagian, sebagaimana Imam Syafi’i. Sebagaimana pernyataan santrinya :

وقال الربيع بن سليمان: «كان الشافعي جزَّأ الليل ثلاثة أجزاء: الأول يكتب، والثاني يصلي، والثالث ينام».

Rabi bin Sulaiman berkata, “Imam Syafi’i membagi malam menjadi 3 bagian” : pertama, untuk menulis (kitab). Kedua, untuk shalat (ibadah). Ketiga, untuk tidur.

Imam Bukhari, ahli hadits waktu malamnya sering bangun belasan kali bahkan sampai 20 kali. Jika beliau tidur habis Isya’, maka sampai Subuh beliau bangun per 1/2 jam. Bahkan kurang dari setengah jam.

Apakah nyenyak tidurnya? Apakah tidak pusing? Inilah mungkin pertanyaan penuntut ilmu level budak. Beda kesenangan. Itulah cinta. Semoga kita semua bisa naik level. Wallahu a’lam bish shawab.*

Alumni Ponpes Annuqayah, Sumenep

Rep: Admin Hidcom

Editor: Rofi' Munawwar

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan. Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !