Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

Jawaban “Saya Tidak Tahu” adalah Bagian dari Ilmu

Bagikan:

Hidayatullah.com | DALAM Dalam konteks pendidikan, guru adalah yang dianggap memiliki banyak ilmu dan keahlian. Guru adalah filosofi dari “digugu dan ditiru” begitulah salah satu adagium terkenal di Jawa, yang memberikan pesan bahwa seorang guru begitu besar perannya dalam kancah pendidikan karena dianggap sebagai orang yang memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni serta menjadi contoh.

Namun sedalam dan seluas apapun pendidik dalam menguasai ilmu, tentulah memiliki batasan kemampuan. Apalagi yang hanya terfokus pada satu jurusan sementara ilmu adalah lautan yang tidak memiliki tepi, dan tidak akan menguasainya kecuali Dzat yang ilmunya yang menguasai segala sesuatu.

Patut direnungkan, Firman Allah:

وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

…Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Al-Isra’ 85)

Berangkat dari kerangka berpikir di atas, maka bagi seorang pendidik tidak perlu malu dan takut jika pada saat tertentu kita ditanya oleh peserta didik namun tidak memiliki pengetahuan tentanganya sehingga mengatakan “Saya tidak tahu”. Hal ini tidaklah tercela bahkan inilah sikap baik dan terpuji berdasarkan argument-argumen di bawah ini.

Al-Mawardi, dalam Adab ad-Din wa ad-Dunya berkata, “Jika tidak ada jalan untuk menguasai seluruh ilmu, maka tidak ada cela untuk jahil pada sebagiannya, dan jika tidak ada cela dalam jahil pada sebagiannya, maka tidak boleh dihina untuk mengatakan “saya tidak tahu” pada apa yang tidak diketahuinya.”

Rasululullah ﷺ pernah mengatakan “Saya tidak tahu”  pada perkara yang tidak diketahuinya hingga wahyu datang memberikan hal tersebut kepada Beliau.

Dikisahkan dalam hadits yang panjang yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar bahwa seorang laki-laki datang bertanaya; wahai Rasulullah, bagian bumi mana yang paling baik? Beliau menjawab  “aku tidak tahu”. Dia bertanya lagi bagian bumi mana yang paling buruk? Beliau menjawab “Aku tidak tahu” laki-laki itu berkata: “tanyakanlah kepada Rabbmu”. Lalu Jibril datang kepada beliau maka beliau bertanya hal tadi Jibrilpun menjawab “Aku tidak tahu”  setelah Jibril minta pengetahuan dari Allah maka Allahpun memberitahukan bahwa ‘sebaik-baik bagian bumi adalah masjid dan seburuk-buruk bagian bumi adalah pasar.” (HR. Ahmad)

Dari kisah di atas betapa Nabi bahkan Malaikat telah memberika  teladan yang baik bahwa jika benar-benar tidak mengetahui jawaban dari sesuatu yang ditanya, mereka menjawab ‘saya tidak tahu’. Mereka tidak malu atau mencoba menjawab di luar dari pengetahuan karena jika itu yang dilakukan maka itu jatuh kepada penipuan dan dusta.

Ibnu Mas’ud mengatakan, “Sesungguhnya merupakan bagian dari ilmu jika kamu mengatakan; “Allahu A’lam” (Allah lebih mengetahui) pada apa yang tidak kamu ketahui.”

Ali bin Abi Thalib suatu ketika lantang berbicara di depan manusia seraya mengatakan ‘betapa ia menyejukkan hati’ lalu ada yang bertanya apakah itu? Ali berkata, kamu mengatakan “Allahu A’lam” pada sesuatu yang tidak kamu ketahui.

Ibnu Umar pernah ditanya sesuatu yang tidak diketahuinya maka dia menjawab “saya tidak tahu” dan beliau mengatakan kepada dirinya: sebagus-bagus yang di katakan Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) ketika ditanya sesuatu yang tidak diketahuinya, maka dia mengatakan “aku tidak memiliki ilmunya”.

Seorang penyair berkata;

Jika engkau tidak tahu apa yang ditanyakan kepadamu

Dan kamu tidak memiliki ilmunya

Maka jangan berkata di dalamnya tanpa dasar ilmu

Karena salah adalah dosa bagi ahli ilmu

Katakanlah jika perkara itu jika tidak diketahui olehmu

Aku tidak memiliki ilmu tentang apa yang kamu tanya itu adalah setengah ilmu menurut ulama

Demikian juga senantiasa dikatakan para orang bijak

Beberapa nukilan di atas sudah cukup bagi kita mengambil teladan bahwa katakanlah sesuatu itu dengan saya tidak tahu atau Allahu A’lam jika kita tidak memiliki ilmu tentangnya. Bahkan sikap ini adalah bagian dari ilmu itu sendiri dan salah satu sikap kejujuran dalam pengetahuan. Tapi hal ini jangan sampai menjadi pembenaran untuk kita malas belajar, justru mendorong kita agar Zidna Ilman, tambahkanlah ilmu kepada kami.*/ Mohammad Ramli

Rep: Insan Kamil
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

10 Rahasia Kandungan Surat Al Fatihah

10 Rahasia Kandungan Surat Al Fatihah

Beramallah dari Apa yang Anda Ketahui

Beramallah dari Apa yang Anda Ketahui

Kemungkaran dan ‘Fatwa’ Hati Nurani

Kemungkaran dan ‘Fatwa’ Hati Nurani

Sejarah Perkembangan Ilmu Hadits

Sejarah Perkembangan Ilmu Hadits

Mengenal Sumber Kerusakan Bumi dan Keculasan Yahudi? (2)

Mengenal Sumber Kerusakan Bumi dan Keculasan Yahudi? (2)

Baca Juga

Berita Lainnya