Soekarno dan Kemuliaan Nabi Muhammad

'Sungguh seorang Soekarno dan seluruh manusia sejak dulu sampai yang akan datang, tidak sebanding dengan derajat Nabi ﷺ, bahkan satu helai rambut beliau masih lebih mulia dari dunia seisinya'

Soekarno dan Kemuliaan Nabi Muhammad

Terkait

Oleh : Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil*

Ucapan Sukmawati yang membandingkan antara Rasulullah Muhammad ﷺ dengan Presiden RI pertama, Ir Soekarno menimbulkan polemik. Wajar saja jika umat menunjukkan sikap geram atas pelecehan anak Soekarno yang satu ini. Bisa jadi bapak ibunya juga sedih di alam kuburnya ketika anaknya justru berseberangan dalam memandang Rasul.

Bapaknya sangat mengagumi Nabi Muhammad. Bapaknya menyerukan umat Islam yang mengaku sebagai pecinta nabi untuk melaksanakan perintah sang Nabi sebagai bukti dari cintanya. Sementara putrinya bersikap sebaliknya. Ia tunjukkan sikap angkuh dan sombong bahwa yang berjasa di abad 20 adalah Soekarno.

Kita temukan dalam ucapannya aroma kebencian kepada sosok idola sepanjang masa ini. Boleh saja Sukmawati membanggakan bapaknya. Tapi jangan sampai offside. Mengangkat bapaknya dengan menjatuhkan martabat Rasul. Sungguh seorang Soekarno dan seluruh manusia sejak dulu sampai yang akan datang, tidak sebanding dengan derajat Nabi ﷺ, bahkan satu helai rambut beliau masih lebih mulia dari dunia seisinya.

Mari kita belajar kembali seperti apa kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada kekasihNya ini? Pertama, Allah menjadikannya sebagai Nabi dan Rasul paling mulia dari para Nabi serta Rasul lainnya.

Apakah bapak Sukmawati memiliki derajat layaknya Nabi? Tidak. Lalu, bagaimana akan dibandingkan dengan derajat Nabi, lebih-lebih Nabi Muhammad yang paling afdhalnya Nabi dan Rasul?

Kedua, Allah jadikan beliau sebagai pemimpin umat terdahulu sampai akhir zaman. Semua umat sejak era Nabi Adam sampai umat beliau sendiri berada di bawah benderanya. Bendera itu disebut Liwaaul Hamdi (Bendera Pujian).

“Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat dan bukannya sombong. Di tanganku bendera Al-Hamd dan bukannya sombong. Tidak ada seorang Nabi pun, tidak pula Adam juga yang lainnya ketika itu, kecuali semua di bawah benderaku, aku orang pertama yang keluar dari tanah/kubur dan bukannya sombong.” (HR. Turmudzi)

Apakah bapaknya Sukmawati pemimpin untuk seluruh bangsa di dunia ini? Tidak. Beliau hanya memimpin bangsa Indonesia yang jumlahnya sangat sedikit dibanding seluruh bangsa yang ada di muka bumi. Masa kepemimpinannya juga sudah selesai. Bersifat sementara, tidak abadi. Kelak bapaknya Sukmawati juga ada di bawah “telapak” Rasulullah ﷺ.

Baca: Al-Qur`an Sebagai Inspirator dan Mata Air Keberanian Bung Karno

Ketiga, keistimewaan yang Allah berikan kepada Rasul adalah beliau diutus kepada semua makhluk. Tidak hanya untuk kalangan tertentu. Seluruh makhluk Allah dari bangsa jin, manusia, orang Arab maupun selain orang Arab, menjadi lahan garapan dakwah beliau.

“Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku. Aku diberi kemenangan dengan kegentaran (musuh) sejauh perjalanan satu bulan dan bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan bersuci. Maka siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat, hendaknya ia melaksanakan shalat. Juga dihalalkan untukku harta rampasan perang yang tidak dihalalkan untuk seorang pun sebelumku. Aku juga diberi syafaat, dan seorang Nabi itu diutus kepada kaumnya secara khusus, sedangkan aku diutus kepada manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Apakah Bapaknya Sukmawati menjadi pemimpin untuk seluruh umat manusia? Lagi-lagi jawabnya : tentu tidak! Bisakah beliau memberi syafa’at atau justru beliau dan Sukmawati yang membutuhkan syafa’at?

Rasul diutus untuk kepentingan seluruh makhluk. Beliau adalah Rahmat untuk semesta alam. Beliau tidak mengutamakan manusia berdasarkan ras, suku bangsa, warna kulit, bahasa, dan sebagainya.

Bagaimana dengan bapaknya Sukmawati, apakah beliau menjadi presiden untuk semesta alam? Tidak mengutamakan bangsanya dan kejayaan negerinya saja?

Baca: PBNU: Soekarno Sangat Mengagumi Nabi Muhammad, Pernyataan Sukmawati Keliru

Keempat, Allah memuliakan Rasul dengan menjadikan umatnya sebagai sebaik-baik umat dan syari’atnya menggantikan kedudukan syari’at sebelumnya.

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (QS. at-Taubah: 33)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu), dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imron : 85)

“Tidaklah seorang dari umat Yahudi dan Nasrani yang mendengar diutusnya aku (Muhammad), kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya (Islam), niscaya dia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim).

Bagaimana dengan keadaan bangsa ketika dipimpin oleh bapaknya Sukmawati, apakah menjadi bangsa terbaik di masanya atau masa setelahnya? Bagaimana pula dengan keadilan yang berlaku di masa itu, apakah hukum berlaku tajam kepada siapa saja yang bersalah atau hanya tajam kepada yang di bawah dan tumpul ke atas?

Kelebihan yang diberikan kepada Rasul adalah anugerah Ilahi. Tidak bisa diganggu gugat apalagi coba dibandingkan dengan makhluk biasa sekalipun sekelas presiden. Karenanya, tidak sepatutnya perasaan umat Islam yang sangat menaruh hormat kepada Rasul dicederai dengan membandingkannya.*

Pengasuh Majlis Taklim Ar-Rahmah, Sawojajar, Malang

Rep: Admin Hidcom

Editor:

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !