Ulama Akhirat dan Ulama Dunia

Tanda ulama akhirat: Tidak mengejar dunia menggunakan ilmunya, dan ilmunya sibuk  digunakan untuk kebahagiaan akhirat

Ulama Akhirat dan Ulama Dunia
ILUSTRASI

Terkait

SAUDARAKU, para ulama kita yang bermartabat sangat berhati-hati ketika menuntut ilmu. Mereka takut terjerumus ke dalam perangkap setan. Karena ilmu bisa buat pemiliknya sombong, angkuh, riya’, sum‘ah, ujub, dan penyakit hati lainnya. Jika dia salah niat dan keliru motivasinya.

Untuk itulah Imam az-Zarnuji menasihati para penuntut ilmu dalam kitabnya Ta‘lim al-Muta‘allim. Beliau menulis sebagai berikut,

وينوى به الشكر على نعمة العقل وصحة البدن، ولا ينوى به إقبال الناس ولا استجلاب حطام الدنيا والكرامة عند السلطان وغيره

“Hendaklah (penuntut ilmu) berniat lewat ilmunya untuk mensyukuri nikmat akal dan sehat badan (jasamani). Dan jangan sampai berniat agar memiliki banyak pengikut (dikerumuni manusia) dan meraup perhiasan dunia dan kemuliaan di sisi penguasa dan yang lainnya.”

Lalu beliau juga menegaskan;

ومن وجد لذة العلم به قلما يرغب فيما عند الناس

“Siapa yang telah mengecap lezatnya ilmu, maka takkan tergiur dengan kekayaan milik orang lain.” (lmam Burhanuddin az-Zarnuji, Ta‘lim al-Muta‘allim Thariq at-Ta‘allum (Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1434 H/2013 M): 18-19)

Itu artinya, ilmu yang kita miliki bukan untuk meraup kenikmatan dunia, mengumpulkan pengikut (jamaah) sebanyak-banyaknya, dan “menjilat”penguasa, dan lainnya. Karena ilmu sejatinya untuk hadirkan dan lahirkan kasy-yah (rasa takut kepada Allah) dalam hati kita (Qs. Fathir:28).

Baca: Otoritas Ulama dalam Prespektif Islam

Saudaraku, mari renungkan riwayat-riwayat berikut ini! Semoga hati kita dapat mengambil pelajaran darinya.

Riwayat dari Abu Hurairah ra Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam menyatakan,

من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيب عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة

“Siapa yang mempelajari satu cabang ilmu yang seharusnya untuk mencari ridha Allah, tetapi dia gunakan untuk meraup kenikmatan duniawi maka dia tidak akan merasakan bau surga di hari Kiamat.” (HR.  An-Nasa’i dari Abu Hurairah)

Dalam sabdanya yang lain, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam menegaskan,

من تعلم العلم ليباهى به العلماء أو يمارى به السفهاء أو يصرف به وجوه الناس إليه أدخله الله جهنم

“Siapa yang belajar satu ilmu yang digunakan untuk berbangga-bangga (sombong) di hadapan para ulama, merendahkan orang-orang jahil dan agar banyak pengikut, maka Allah akan masukkan ke dalam neraka Jahannam.” (HR. Ibn Majah dari Abu Hurairah). (Lihat, Syekh Zainuddin ibn ‘Abd al-‘Aziz ibn Zainuddin al-Malibari, Irsyad al-‘Ibad ila Sabil ar-Rasyad (Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1431 H/2010 M): 19).

Saudaraku, ternyata jika salah niat dalam menuntut ilmu bisa fatal akibatnya. Seharusnya mendapat ridha Allah malah yang turun murka dan laknat-Nya. Dan akibat yang paling buruk adalah: menjadi ulama dunia.

Saudaraku, yang mengatakan ada ulama dunia bukan aku, tapi para ulama kita yang hebat dan bermartabat.

Imam Ibn al-Jauzi (w. 597 H), misalnya, membuat perbandingan antara ulama dunia dan ulama akhirat. Beliau menulis seperti berikut ini,

تأملت التحاسد بسن العلماء، فرأيت منشأه حب الدنيا، فإن علماء الآخرة يوادون ولا يتحاسدون، كما قال عز وجل: (ولا يجدون فى صدورهم حاجة مما أتوا) (الحشر: 9)، وقال تعالى: (والذين جاءوا من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل فى قلوبنا غلا للذين آمنوا) (الحشر: 10)

“Aku amati tentang adanya saling-dengki diantara ulama. Maka aku dapati bahwa sumber masalahnya adalah: terlalu cinta dunia. Namun para ulama akhirat saling cintai dan tidak saling-dengki. Sebagaimana Firman Allah yang berbunyi, “Dan kalian tidak akan dapati kebutuhan dalam dada mereka terhadap apa yang telah diberikan kepada mereka… ” (QS:  Al-Hasyr: 9).

Dan Firman Allah yang berbunyi;

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka berdoa kepada Allah, ‘Ya Rabb kami ampunilah kami dan dosa saudara-saudara kami yang lebih dahulu beriman daripada kami dan jangan jadikan dangki dalam hati kita terhadap orang-orang yang terlebih dahulu beriman… ” (QS. Al-Hasyr:10).

وقد كان أبو الدرداء: يدعو كل ليلة لجماعة من إخوانه

“Abu ad-Darda’ setiap malam selalu mendokakan sekelompok kawannya.”

وقال الإمام أحمد بن حنبل لولد الشافعى: ”أبوك من الستة الذين أدعو لهم كل ليلة وقت السحر“

“Imam Ahmad ibn Hambal berkata kepada putera lmam as-Syafi‘i, ‘Bapakmu termasuk dari enam orang yang aku doakan setiap malam di waktu sahur’.”

Baca: Kewajiban Ulama Menjelaskan Ilmu, Haram Menyembunyikannya

Dan perbedaan antara ulama dunia dan ulama akhirat adalah: ulama dunia haus kekuasaan di dalam dunia dan suka mendapatkan harta plus gila pujian. Sementara ulama akhirat tidak mendahulukan itu semua. Mereka sangat takut dan sangat menyayangi siapa saja yang diuji oleh dunia.” (Lihat, Imam Jamaluddin Abu al-Faraj ‘Abdurrahman ibn al-Jauzi, Shaid al-Khathir (Kairo: Dar al-Hadits, 1426 H/2005 M): 14).

Bahkan, ulama internasional asal Indonesia (Tanara, Banten), lmam Nawawi al-Jawi al-Bantani menyatakan;

Diantara ciri (tanda) ulama akhirat adalah: (1) Tidak mengejar dunia menggunakan ilmunya, (2) llmunya sibuk  digunakan untuk gapai kebahagiaan akhirat, sehingga sangat memperhatikan ilmu batin yang dapat mensucikan hatinya dengan cara mujahadah an-nafs, dan (3) llmunya digunakan untuk mengikut sunnah Rasululllah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam segala perilakunya dan kata-katanya.

Sedangkan ciri-ciri tidak mengejar duniawi ini adalah: (1) Menjadi orang pertama memgamalkan perintah dan menjauhi larangan agama, (2) Menjauhi sikap berlebihan dan kepatutan dalam hal makanan, tempat tinggal dan pakaian, (2) Tidak bersahabat bebas dengan penguasa, kecuali untuk menasihatinya atau untuk menuntutnya agar mengembalikan hak-hak orang yang terzalimi, (3) Membantu masyarakat untuk menggapai ridha Allah, (4) Tidak mudah-mudah keluarkan fatwa. Hendaknya merujuk orang-orang yang lebih alim darinya. (Lihat, Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Banteni, Maraqi al-‘Ubudiyyah (Jakarta: Dar al-Kutub al-lslamiyah, 1431 H/2010 M): 12-13)

Saudaraku, jika kita diberi karunia ilmu oleh Allah, semoga ia jadi jalan mendekat kepada-nya. Dan kita berdoa, jika ada yang jadi ulama semoga jadi ulama akhirat, bukan ulama dunia. Karena hanya ulama akhiratlah yang dicintai Allah, dicintai Rasulullah dan dicintai oleh manusia. Wallahu a‘lam bis-Shawab.*/Qosim Nursheha Dzulhadi

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !