Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

Membersihkan Hati dengan Terus Memperbarui Iman

Ilustrasi.
Bagikan:

HATI itu terdiri dari empat macam,” sabda Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam, “Yaitu hati yang bersih di dalamnya seperti pelita yang benderang; hati yang tertutup dan terikat pada tutupnya; hati yang terbalik; dan hati yang berlapis. Hati yang bersih adalah hati milik orang mukmin, pelitanya adalah cahaya yang ada di dalamnya. Hati yang tertutup adalah hati orang kafir. Hati yang terbalik adalah hati orang munafik, ia tahu kemudian ingkar. Sedangkan hati yang berlapis adalah hati yang di dalamnya terdapat iman dan kemunafikan. Iman yang terdapat dalam hati tersebut bagaikan sayur yang memperoleh siraman air yang segar, sedangkan kemunafikan yang ada di dalamnya bagai bisul yang penuh dengan nanah dan darah, yang mana di antara dua yang dapat mengalahkan yang lain, maka itulah pemenangnya.” (Menurut Ibnu Katsir sanad hadis ini hasan).

Hadist ini menerangkan tentang macam-macam hati manusia dalam kaitannya dengan iman. Dan secara gamblang disinyalir bahwa hati yang kafir terikat pada tutupnya, dan hati yang terbalik tidak berfungsi dan tidak bermanfaat apa-apa dalam masalah iman.

Sedangkan hati yang di dalamnya terdapat pelita yang benderang, inilah hati yang besar dan berdaya-guna. Hati yang biasa dinamakan dengan hati yang selamat (qalbun salim) adalah puncak perjalanan para penempuh jalan menuju Allah dan itu pulalah objek dari kerja perbaikan hati.

Hati yang menjadi tempat pengobatan adalah hati yang masih memiliki cahaya fitrah, atau hati yang di dalamnya masih tersisa cahaya iman. Hati yang demikian menuntut dan mewajibkan pemiliknya menempuh perjalanan menuju kebaikan hati, sehingga hati itu sampai pada peringkat hati mukmin yang arif (kenal akan Allah).

Maka tidak dapat diragukan lagi bahwa kewajiban utama bagi para pemilik hati yang kafir dan munafik adalah beriman dan ber-Islam. Pada dasarnya orang-orang kafir dan munafik itu secara sengaja tidak mendengarkan dan tidak memberikan jawaban terhadap seruan dakwah.

Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggillan, apabila mereka telah berpaling membelakang. Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (memalingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan seorang pun mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri. (An-Naml: 80-81).

Jadi, kewajiban pertama bagi mereka yang sakit hatinya adalah memperbaikinya secara kontinu sampai mencapai hal (keadaan ruhaniah) tertentu, yaitu dengan cara memberinya bekal harian yang lazim dan santapan yang dibutuhkan. Kebutuhan akan bekal dan santapan ini sangat beragam kadarnya antara satu orang dan orang lain.

Kemudian, memperhatikan kekurangan-kekurangan diri. Diawali dengan satu kelemahan, yang untuk selanjutnya mengarah pada kelemahan-kelemahan lainnya –dengan cara melakukan kerja pembaruan iman sampai menjelang kematian.

Orang yang selalu melalaikan salah satu kewajiban dan terus melakukan salah satu kemungkaran, tidak akan pernah mampu memelihara keselamatan hatinya. Perhatikanlah sabda Rasulullah, “Sesungguhnya terdapat kesalahan atas kalbuku, sehingga aku minta ampun seratus kali dalam sehari.” (HR Muslim dan Abu Daud). Anda saksikan Rasulullah memohon ampun sedemikian rupa, padahal kalbu beliau sudah berada pada kondisi ruhaniah tertentu.

Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya iman akan kusut dalam perut (dada) anak Adam (manusia) seperti kusut (lusuh)-nya pakaian, maka mohonlah kalian kepada Allah agar Dia memperbarui iman dalam kalbu kalian.” (HR Thabrani, hadis ini hasan).

“Perbaruilah iman kalian!” sabda Rasulullah. Kemudian, seseorang bertanya kepada beliau, “Bagaimana cara memperbarui iman kami?”

“Banyak-banyaklah membaca La ilaha illallah,” jawab beliau (HR Ahmad, sanad hadis ini hasan).*/Sa’id Hawwa, dari bukunya Jalan Ruhani.

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Merajut Benang Ukhuwah

Merajut Benang Ukhuwah

Apa Tak Kapok Jadi Pendorong Mobil Mogok?

Apa Tak Kapok Jadi Pendorong Mobil Mogok?

Amatlah Pendek Usia Umat Nabi Muhammad (1)

Amatlah Pendek Usia Umat Nabi Muhammad (1)

8 Keutamaan Mendidik Anak Perempuan

8 Keutamaan Mendidik Anak Perempuan

Iman Tak Bisa Diwariskan

Iman Tak Bisa Diwariskan

Baca Juga

Berita Lainnya