Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

Petaka Berpaling dari al-Qur’an

nilewavetravel
Seorang pria duduk rileks di bawah sinar matahari sambil membaca al-Quran di depan benteng Qait Bey, Alexandria
Bagikan:

DALAM kehidupan manusia, orang yang berpaling dari al-Qur’an dan mengabaikan ajarannya, sesungguhnya itulah awal dari segala kesengsaraan hidupnya kelak.

Fikirannya terbuai dalam angan-angan kosong yang dijanjikan oleh setan, kawan barunya. Sedang dirinya tenggelam dalam kubang maksiat kepada Allah.

Hal itu dikatakan pengarang Tafsir Fathu al-Qadir, asy-Syaukani, mengutip pendapat az-Zujaj, siapa di antara manusia yang berpaling dari al-Qur’an dan lalai dari mempelajari hikmah yang terkandung di dalamnya, niscaya Allah timpakan kepadanya pertemanan dengan setan.

Layaknya sekawan yang karib (qarin) orang itu kini tak lagi berjarak dengan setan. Padahal setan adalah biang kerok dari segala keburukan dan kesengsaraan dunia akhirat.

Karena “terlanjur” akrab, alih-alih mampu menolak, jiwa yang sudah tertipu itu tak sungkan lagi menuruti segala bisikan yang membuatnya terjerat dalam perangkap jahat setan.

Orang yang jauh dari hidayah Allah itu merasa nyaman dan enteng dengan keburukan serta kemaksiatan, sedang ia justru gelisah kala berinteraksi dengan kebenaran al-Qur’an atau diajak kepada kebaikan.

Inilah akibat daripada lalai mempelajari al-Qur’an atau tidak peduli dengan tuntunan yang disyariatkan. Orang tersebut dijauhkan dari kenikmatan iman, Islam, serta ukhuwah.

Oleh Allah, orang itu kelak mendapatkan hukuman yang setimpal dan penyesalan tiada berbatas.

“Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman yang berkata: Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (Hari Kiamat)? Apakah jika kita telah mati dan menjadi tanah dan tulang belulang? Apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?

Berkata pulalah ia: Maukah kamu meninjau (temanku itu)? Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata (pula): Demi Allah, Sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).” (Surah ash-Shaffat [37]: 51).

Bahaya Islam Phobia

Lebih jauh Ahmad bin Musthafa al-Maraghi, mengurai dampak yang sangat dahsyat dari sikap menyepelekan al-Qur’an.

Menurutnya, orang yang berani mengabaikan syariat agama dan tenggelam dalam kelezatan dunia, Allah menjadikan dirinya terbelenggu oleh tipu daya setan.

Saban waktu pikiran orang tersebut hanya dijejali oleh pesona syahwat dunia dan materi yang melenakan.

Menurut pengarang Tafsir al-Maraghi tersebut, ketika hal itu menimpa, orang yang terjangkiti virus  anti al-Qur’an mendadak berubah menjadi sosok Islamophobia.

Ia berbalik arah menjadi orang terdepan yang menentang ajaran al-Qur’an dan syariat Islam.

Setiap waktu ia justru larut dalam diskusi pemikiran dan perilaku yang merugikan serta menyakiti umat Islam.

Dikatakan, ibarat seekor lalat yang suka hinggap di berbagai kotoran atau lingkungan yang jorok, orang yang berpaling dari al-Qur’an itu hanya melahirkan keburukan dan maksiat kepada Allah.

Atas nama pembaruan agama misalnya, mereka justru telah menistakan kesucian agama dengan cara berfikir yang nyeleneh.

Boleh jadi inilah yang menimpa sekelompok masyarakat yang dikenal dengan pemuja aliran Sipilis (Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme).

Meski kelompok itu datang mengatasnamakan gerakan Islam pembaruan atau pembebasan akal, tetapi sebenarnya mereka datang dengan racun pemikiran yang berbahaya buat umat Islam.

Faktanya, dengan karunia nalar yang diberikan oleh Allah, mereka justru berusaha mengobok-obok ajaran Islam.

Silih berganti syubhat dan syahwat mereka hembuskan kepada umat Islam hanya untuk mengaburkan nilai-nilai al-Qur’an.

Ironisnya, demikian itu bukan karena tak paham dengan ajaran Islam, sebab tak sedikit di antara mereka berlatar akademisi bahkan tergolong cendekia yang punya segudang ilmu pengetahuan.

Alhasil, tak ada alasan menunda untuk mengaca kembali kepada hikmah yang dikandung dalam al-Qur’an. Sebab di sana ada telaga jernih tempat hati bercermin mematut diri kembali.

Boleh jadi jiwa ini tak mampu merasakan kenikmatan membaca al-Qur’an bersebab kotoran yang melekat di dalam hati.

Boleh jadi hati ini keras karena mulai berpaling dari dakwah dan syariat yang digariskan oleh Allah.

Allah berfirman:

ومن يعش عن ذكر الرحمن نقيض له شيطانا فهو له قرين، وإنهم ليصدونهم عن السبيل ويحسبون أنهم مهتدون

“Siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al-Quran), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Surah az-Zukhruf [43]: 36-37).*/Masykur Abu Jaulah

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Tertundanya Kemenangan Umat bisa karena Dosa Kita!

Tertundanya Kemenangan Umat bisa karena Dosa Kita!

Ketika Musibah Menimpa, di Kelompok Manakah Anda? (1)

Ketika Musibah Menimpa, di Kelompok Manakah Anda? (1)

Mudharat Memilih Pemimpin Kafir [1]

Mudharat Memilih Pemimpin Kafir [1]

Bagilah Informasi Kepada Orang yang Tepat

Bagilah Informasi Kepada Orang yang Tepat

Teladan Salafus Shalih Dalam Muhasabah

Teladan Salafus Shalih Dalam Muhasabah

Baca Juga

Berita Lainnya