Rabu, 3 Maret 2021 / 19 Rajab 1442 H

Oase Iman

25 Wasiat Kebaikan Syeikh Hamid Bukhari

ilustrasi
Bagikan:

Alhamdulillah, atas izin Allah Subhanahu Wata’ala, penulis berkesempatan menimba ilmu bersama Syeikh Hamid Al Bukhari hafizhahullah ta’ala, pengajar di Masjid An Nabawi, Madinah KSA.

Syeikh Hamid dikenal  memiliki qiroat asyrah, lahir di Madinah al Munawwarah juga  mendapatkan sanad kutubusittah dan al muwattho’ Imam Maalik.

Dalam majelisnya, Syeikh Hamid banyak menyampaikan wasiat terkait kebaikan dan kekalnya akhirat. Dibawah ini adalah beberapa cuplikan wasiat dan nasehatnya.

Setelah memuji Allah ta’ala dan bershalawat kepada Rasulullah serta meminta limpahan rahmat dan curahan ilmu dari Allah, Syeikh Hamid memberikan beberapa faidah:

  1. Termasuk keutamaan menuntut ilmu sebagaimana hadits yang diriwiyatkan dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah adalah Allah akan menurunkan ketenangan, rahmat, malaikat akan menaungi mereka serta Allah akan memuji-muji mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada didekatnya.” [JR Abu Daud dalam Sunannya, Kitabul Adab]

  1. Kita hidup di dunia sebagai musafir, orang asing yang keluar dari kampung halamannya. Asal kita adalah rumah bapak kita Adam yaitu surga, di mana beliau telah dikeluarkan dari sana karena perbuatan dosanya.
  2. Kita juga bagaikan para pegawai yang ditugaskan untuk melaksanakan tugas, barangsiapa yang melaksanakan tugas tersebut dengan baik maka kita akan mendapatkan balasan atas tugas kita tersebut. Namun sebaliknya, bila kita menyia-nyiakannya maka balasannya pun adalah kerugian.
  3. Tujuan kita diadakan di muka bumi ini adalah untuk beribadah kepada Allah sebagaimana firman Allah.

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu.” (QS: Adz Dzariyyat 56)

  1. Jika kita sudah mengetahui bahwa kita cuma orang asing, dan beribadah dan semua perbuatan kita akan ditulis oleh para malaikat dan dimintai pertanggung jawaban, oleh karena itu hendaknya kita isi dengan amalan kebaikan dan menjauhi keburukan.
  2. Banyak orang yang lupa merasa bahwa mereka akan hidup kekal di dalam dunia, dia tidak peduli mencari harta apakah itu halal atau tidak, dia berusaha mengumpulkan harta seakan-akan dia hidup kekal abadi.
  3. Apakah kita akan kekal di dunia ini? Manusia-manusia yang hidup 100 tahun yang lalu, apakah mereka masih eksis sekarang? Dulu mereka makan, minum, bertransaksi jual beli… sekarang di mana mereka? Kehidupan mereka telah berakhir.. Apakah setelah seratus tahun, kita akan tetap hidup di muka bumi ini? Maka hendaknya kita berpikir.
  4. Sesungguhnya kita hanya sedang singgah di sebuah tempat persinggahan. Setelah ini kita akan melanjutkan perjalanan kita ke alam barzakh untuk kemudian dibangkitkan. Setelah itu kita akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan kita.
  5. Dahulu Fir’aun adalah orang yang sombong, menganggap bahwa dia adalah Rabb yang paling tinggi. Di mana dia sekarang? Setiap hari dia diadzab di alam kubur.

وَحَاقَ بِآَلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

“Dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.”” (QS: Al-Mu’min: 45-46)

  1. Abu Jahal, Abu Lahab, Sumayyah bin Khalaf yang memusuhi agama Rasulullah dan mati di perang Badar, di mana mereka sekarang? Mereka berada di alam kubur di siksa sampai kelak dibangkitkan pada hari kiamat. Maka perhatikanlah fase-fase kehidupan ini. Setelah ini kita akan menghadapi alam barzakh dan kemudian dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban atas amalan kita selama hidup.
  2. Seseorang yang dijanjikan akan diberikan seluruh kenikmatan dunia lalu dia disuruh merasakan panasnya periuk berisi minyak mendidih apakah kita mau.
  3. Cukup bagi kita ketika menyadari adzab kubur membuat seseorang yang berakal akan menghentikan maksiatnya.
  4. Kita baru berada di fase pertama, nanti akan kita akan dimasukkan ke dalam alam kubur yang adzabnya sangat pedih.
  5. Adzab kubur sudah demikian pedih, akan tetapi mereka akan melupakan adzab kubur ketika merasakan adzab neraka karena demikian kerasnya adzab neraka.

قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ (

“Mereka berkata, “Aduhai, celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Rabb) Yang Maha Pemurah dan benarlah rasul-rasul-(Nya).” (QS: Yaasin: 52)

  1. Dan adzab tersebut akan sangat lama, Keadaan satu hari di akhirat lamanya 50.000 tahun. Sebagaimana firman Allah di dalam surat Al Maarij.

فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (QS: Al Ma’arij: 4).

Bayangkan demikian lamanya siksaan yang akan dirasakan naudzubillah.

  1. Ketika kita menyadari bahwa ini semua menanti kita, maka seorang yang berakal akan menyadari bahwa dunia ini bukanlah tempat kekekalan.
  2. Di dunia ini kita hidup hanya sebentar, di alam barzakh lebih lama, dan di akhirat kelak akan lebih lama… Apakah kita akan tinggal di akhirat sribu tahun? Jutaan tahun? Tidak… kita akan hidup kekal abadi di akhirat.. Maka hendaknya kita berpikir.
  3. Jika engkau diberikan wilayah seluas seribu mil, maka kau akan merasa kaya. Maka di surga kita paling minim akan mendapatkan seluas bumi dan sepuluh kali kali lipatnya.
  4. Ketika engkau mencari nafkah di safarmu, di mana engkau akan merasakan kenikmatan dari nafkahmu? Ketika safar atau ketika engkau kembali ke rumahmu? Tentu engkau akan menikmatinya setelah engkau pulang. Maka demikianlah kehidupan dunia ini.
  5. Dikisahkan dari Abu Thalhah Al Anshari yang memiliki kebun di depan masjid Nabawi yang di dalamnya terdapat sumur yang airnya sangat lezat, kebun tersebut disebut Bairuha.

Ketika turun firman Allah subhanahu wata’ala

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ ( آل عمران : 92 )

” Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan dari apa apa dari harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. ” (QS: Ali Imran : 92 )

Maka ketika ayat ini turun, datanglah Abu Thalhah kepada Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku mempunyai kebun Bairuha dan aku infakkan untuk Allah subhanahu wata’ala, karena ini adalah harta yang paling aku cintai”.

Maka Rasulullah berkata: “Sungguh bairuha ini adalah harta yang sangat mahal wahai Abu Thalhah”

Maka Rasulullah mengatakan, “Bakhin bakhin.. ini adalah perniagaan yang sangat menguntungkan wahai Abu Thalhah.”

Abu Thalhah tahu bagaimana seharusnya menjalani kehidupan, mempersiapkan akhirat beliau.

  1. Syeikh kemudian menyebutkan kisah kedua yaitu kisah Abu Dahda radhiyallahu anhu. Dikisahkan ada seorang lelaki (anak yatim) berkata: “Wahai Rasulullah, si fulan memiliki pohon kurma yang tumbuh di kebunku yang aku usahakan. Tolong, perintahkan dia agar memberikannya padaku sehingga aku dapat menyempurnakan kebunku itu.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (kepada si fulan): “Berikan saja pohonmu, dan aku menjamin bagimu pohon kurma di surga.” Sayangnya dia menolak. Lalu Abu Dahdah mendatangi pemilik pohon itu dan berkata, “Tukarlah pohon kurmamu dengan (seluruh) kebunku”, dan akhirnya orang itu bersetuju. Di dalam kebun Abu Dahda terdapat ratusan pohon kurma.

Maka Abu Dahdah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, telah aku tukar pohon kurmanya dengan kebunku.”

Kemudian Abu Dahdah mendatangi isterinya dengan berkata, “Wahai Ummu Dahdah, keluarlah dari kebun, aku telah menukarnya dengan pohon kurma di surga.”

Ummu Dahdah lalu berkata: “Sungguh beruntung perniagaan ini.”

Rasulullah lantas bersabda: “Dan sekarang berikan pohon kurmamu kepadanya (anak yatim) kerana aku telah memberikan (jaminan) pohon kurma surga padamu.”

Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh banyak sekali pohon kurma yang Abu Dahdah nikmati di surga kelak.” Rasulullah mengucapkannya berulang kali.”

Tidak lama setelah itu Abu Dahda pun meninggal dunia dalam keadaan dia telah membawa amalan shadaqahnya dan dipersaksikan oleh Rasulullah dengan Surga.

  1. Harusnya kita dalam menjalani kehidupan kita mempersiapkan kehidupan kita yang abadi kelak di akhirat. Jangan kita abaikan sampai kelak menjadi penyesalan.

Allah berfirman..

فذوقوا بما نسيتم لقاء يومكم هذا إنا نسيناكم , وذوقوا عذاب الخلد بما كنتم تعملون

“Maka rasailah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini. Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan.” (QS: As Sajdah:14)

  1. Orang yang disiksa di akhirat, maka mereka menginginkan kematian setelah disiksa dengan adzab yang pedih.

Allah mengisahkan keadaan mereka,

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُم مَّاكِثُونَ

“Mereka berseru: “Hai Malik (penjaga neraka) biarlah Rabbmu membunuh kami saja”. Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)”. (QS: Az-Zukhruf: 77)

  1. Perhatikan kisah orang yang mendapatkan kenikmatan surga dan adzab yang pedih di dalam neraka!

Disebutkan di dalam hadits bahwa pada hari kiamat didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia dari penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam neraka sejenak. Kemudian ia ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kebaikan, pernahkah kamu merasakan suatu kenikmatan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb.”

Dan didatangkan orang yang paling menderita sewaktu hidup di dunia dari penghuni surga. Lalu ia dicelupkan ke dalam surga sejenak. Kemudian ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kesulitan, pernahkah kamu merasakan suatu kesengsaraan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb. Aku tidak pernah merasakan kesulitan apapun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan apapun.” (HR Muslim 5018)

  1. Hendaknya kita menyadari bahwa setelah kematian, tak mungkin kita dikembalikan ke dunia. Allah berfirman..

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (٩٩)لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (١٠٠)

“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (Qs Al Mukminun: 99-100)

Semoga kita dimasukkan ke dalam surgaNya  Allah subhanahu wata’ala. Aamiin.*/Abu Zaidan al-aroby

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Kenali Cara Allah SWT Mewujudkan Harapan Kita

Kenali Cara Allah SWT Mewujudkan Harapan Kita

Juru Bicara Sekularisme

Juru Bicara Sekularisme

Muslim Tak Pernah Pesimis Mengajak Orang pada Kebaikan

Muslim Tak Pernah Pesimis Mengajak Orang pada Kebaikan

Strategi Setan Menghancurkan Keikhlasan Orang Beriman (1)

Strategi Setan Menghancurkan Keikhlasan Orang Beriman (1)

Menggali Intisari Surat Al Maidah [2]

Menggali Intisari Surat Al Maidah [2]

Baca Juga

Berita Lainnya