Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

Ilusi itu Bernama Perkataan Indah

ilustrasi: Bunga Oleander. Indah tapi penuh racun
Bagikan:

DEWASA ini persoalan eksternal umat Islam nyaris tak bisa lepas dari benturan peradaban (clash of civilization) atau pertempuran pemikiran (ghazwu al-fikr). Hampir di segala aspek kehidupan bentrok itu terjadi. Mulai dari paham pluralisme, liberalisme, sekularisme, hedonisme, feminisme, dan berbagai arus budaya dan pemikiran lainnya. Belum lagi ditambah dengan maraknya aliran sesat dan menyimpang dari ajaran Islam.

Mereka tak hanya menyerang umat Islam dengan serbuan secara fisik dan senjata berat. Tapi juga memilih datang secara perlahan. Seolah santun dan tampak bersahabat dengan perkataan indah mereka. Padahal tanpa sadar umat Islam sedang digerogoti dan dilemahkan imun atau daya tahan keimanannya.

Menurut HAMKA, musuh-musuh Islam itu datang menebar propaganda hingga pujian kepada orang tersebut. Alhasil timbul perasaan seolah yang dikemukakan atau dilakukan adalah sesuatu yang lumrah bahkan benar adanya. Padahal, jika ditelisik lebih seksama, tampaklah bahwa semua itu adalah ilusi yang menipu (zukhruf al-qaul ghurura).

Allah berfirman:

 وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الإنس والجن يوحي بعضهم إلى بعض زخرف القول غرورا ولو شاء ربك ما فعلوه فذرهم وما يفترون

 “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al-An’am [6]: 112).

Mirisnya, tak setiap Muslim lalu menyadari hal ini. Alih-alih merasa jadi keliru atau pecundang dalam pertempuran, tak sedikit orang itu justru merasa benar dengan perilakunya dan bangga dengan pemikirannya. Oleh Buya HAMKA, demikian itu disebutnya sebagai seorang pemain judi. Gara-gara pernah menang dan untung sekali, orang itu lalu yakin dan berpegang kepada kemenangan, meskipun sejatinya ia telah kalah hingga sepuluh kali.

HAMKA melanjutkan, ayat di atas menjadi  pedoman bagi setiap pegiat dakwah dan penyeru kebenaran yang berada di garis depan dalam menegakkan ajaran Nabi. Agar mereka selalu bermawas diri dan waspada dalam menegakkan kebenaran dan melaksanakan amal kebaikan. Sebab setan, musuh yang dihadapi itu berasal dari jenis manusia juga selaku setan kasar dan bangsa jin yang menjelma menjadi setan halus.

Menurut HAMKA, kata “dan demikianlah” yang mengawali ayat itu juga menunjukkan suatu sunnatullah dalam kehidupan manusia. Yaitu adanya sebuah perseteruan alot yang digencarkan oleh musuh. Mulai dari permusuhan kasar hingga bisikan yang sangat halus berupa tipu daya yang menjerat dan menggelincirkan seorang Muslim dari rel ketaatan kepada Allah.

Awalnya boleh jadi orang tersebut bisa bertahan. Namun seiring memudarnya kekuatan iman, ditambah dengan bisikan halus yang terus menggedor keimanannya, menjadikan tak sedikit manusia lalu tunduk terhadap hawa nafsu dan dominasi perasaannya. Padahal, layaknya perhiasan (zukhruf), bungkus hiasan itu lebih besar daripada isinya. Reklame kosong yang penuh tipu, tegas HAMKA menjelaskan.

Kondisi umat Islam di atas tentu saja bukan untuk diratapi atau disesali tanpa solusi. Dikatakan, sebagian ulama justru menganggap ayat itu sebagai hiburan buat Nabi Muhammad dan para sahabatnya ketika itu. Bahwa bukan sekali kebenaran yang didakwahkan dan kebaikan yang diajarkan lalu ditentang oleh musuh-musuh Islam. Ia adalah sunnatullah yang berlaku bagi para Nabi dan orang-orang yang datang setelahnya.

Selama orang tersebut berpegang teguh kepada syariat Islam, niscaya dengan rahmat Allah ia bisa terbebas dari jeratan bujuk rayu setan dan ilusi bisikan-bisikan indah tersebut. Pertanyaannya, jika para sahabat dan orang-orang saleh terdahulu, dengan spirit keimanan mereka, berhasil melewati bahkan memenangkan pertarungan itu dengan prestasi amal saleh yang luar biasa. Bagaimana dengan umat Islam sekarang? Adakah mereka berhasil melewati adangan yang sama? Ataukah justru menjadi korban yang terperosok di dalam  kubangan yang hina?*/Masykur 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Salah Memaknai Puasa Ramadhan

Salah Memaknai Puasa Ramadhan

Janji Allah untuk Kaum Terusir, Hijrah,  dan yang Dihinakan

Janji Allah untuk Kaum Terusir, Hijrah, dan yang Dihinakan

Ilmu, Jalan Bahagia Paripurna

Ilmu, Jalan Bahagia Paripurna

Malapetaka karena Ulah Kita, Orang Sholeh Dapat Getahnya

Malapetaka karena Ulah Kita, Orang Sholeh Dapat Getahnya

Kisah Seorang Yahudi yang Mengislamkan Jutaan Orang

Kisah Seorang Yahudi yang Mengislamkan Jutaan Orang

Baca Juga

Berita Lainnya