Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

“Tamu” Itu Pelan-Pelan Mulai Terlihat

ILUSTRASI
Ibarat kedatangan tamu yang mulia, maka tuan rumah yang baik tentu akan mempersiapkan sambutan yang matang
Bagikan:

Oleh: Mohammad Ramli

 

MUNGKIN masih terbilang jauh, namun kerinduan hati sudah mulai terasa, Kehadirannya sudah harap dinanti. Suasana manis tahun lalu seolah sudah berada di depan mata untuk terulang kembali.

Momentum yang kedatangannya yang hanya satu bulan membuatnya menjadi bulan yang penuh fenomenal diantara sahabat-sahabat bulan yang lain.

Masih ingatkah kita saat detik-detik berpisah dengannya tahun lalu, haru bercampur sedih, seolah tidak ingin melepasnya.

Apalagi ketika kita mulai menyadari dan memuhasasah bahwa ternyata ibadah kita masih belum maksimal. Hari-hari yang kita lewati bersamanya penuh dinamika perjuangan dan tarbiyah.

Moment itupun Allah tutup dengan kembali menghadirkan satu hari yang sangat istimewa bagi kaum muslimin yakni “Idul Fitri”. Mata berkaca-kaca dan sesekali meneteskan air mata, ada yang karena tidak kuasa menahan haru dan gembira karena berkumpul dengan keluarga, saudara dan kerabat. Namun ada juga yang karena bersedih tidak bisa menikmati udara “fitri” bersama keluarga dan kerabat.. namun nafas sedikit lega dan hati terasa riang saat tangan-tangan mulai kuat saling menjabat sesama saudara seiman, berpelukan dan salig mendo’akan.

Hari-demi hari, hitungan minggu dan bulan, Ramadhan pun berlalu.. ayat-ayat “Kutiba”, Al-Qadr, Syahru Ramadhan dll sudah tidak terdengar lagi di atas mimbar yang lantang. Ayat itu hidup namun karena lekatnya hukum Ramadhan atau puasa kepadanya membuat ayat-ayat itu istirahat sejenak. Syawal, Muharam, safar dst.. berlalu kitapun melupakan pesona Ramadhan. Mungkin itu alamiyah.. Allahu A’lam.

Namun kini kita sudah berada di bula Rajab, setelah itu Sya’ban lalu Ramadhan pun hadir menyelimuti kita. Ia Datang menawarkan berjuta faedah, sejuta pahala dan penghapus dosa.

Puasa, Ibadah yang Melegenda

Ibadah Puasa merupakan ibadah yang telah berlangsung lama, sebelum menjadi syari’at Muhammad. Al-qur’an sendiri menyatakan hal tersebut dalam frasa ayat-Nya, Sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu”.

Ayat di atas mengindikasikan bahwa ibadah puasa (Ramadhan) merupakan titik temu antar agama yang terdahulu sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Yusuf Qardhawi sebagaimana dikutip oleh Dr.H. Atabik, Luthfi, MA mengatakan bahwa syariat puasa merupakan syari’at kolektif agama samawi, yang menjadi kalimatun sawa antar seluruh penganutnya, sehingga tepat untuk dijadikan alat ukur keberlangsungan sebuah ibadah. (Ayat-ayat Puasa Tadabbur 30 Ayat seputar Ramadhan, Dr.H. Atabik, Luthfi, MA)

Lebih lanjut Dr. H. Atabik, Ma mengutip dari Syaikh Mutawalli As-Sya’rawi mengatakan bahwa ibadah Puasa merupakan rukun ta’abbudin (pondasi dan dasar ibadah) bagi seluruh agama Allah. Juga sebagai manhaj tarbiyah dan pembinaan ummat.

Kalaimatun sawa’ antar seluruh agama samawi dalam ibadah puasa selain kesamaan dalam prinsip kualitas kebaikan manusia, juga dalam tata cara pelaksanaannya. Sebagai contoh, meninggalkan makan dan minum, serta nafsu syahwat pada beberapa waktu yang ditentukan. Namun seiring dengan waktu, nilai-nilai puasa pada ummat terdahulu (sebelum Islam) sedikit demi sedikit terkikis dan dilupakan. Kalimatu sawa (puasa) terhenti begitu saja, banyakknya perubahan yang mereka lakukan termasuk syariat puasa yang secara eksplisit oleh al-qur’an atau oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam sendiri dalam haditsnya,

Puasa Ramadhan telah diwajibkan oleh Allah kepada seluruh ummat sebelum kalian.” (HR. Bukhari)

Daya Tarik Ramadhan

Ramadhan sepertinya sudah dimasukkan benang benang berkah oleh Allah, sehingga hal itu dapat terkoneksi langsung dengan umat Islam yang sedang menanti untuk merajut dan menyemai pakaian taqwa.

Bahkan Sejak bulan rajab, kita sudah mulai berpikir tentang Ramadhan, padahal bulan Sya’ban akan terlebih dahulu menyela sebelum datangnya Ramadhan.

Do’apun mulai kita panjatkan agar kita diberikan umur yang panjang dan berjumpa dengan tamu yang mulia.

Terlihat jelas bagaimana Rasulullah menggambarkan daya tarik Ramadhan, sehingga Sya’ban adalah arena pemanasan, latihan dan tarbiyah memasukinya. Seperti banyak melaksanakan puasa sunnah.

Dari Aisyah R.A berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

Dari Aisyah RA berkata: “Aku tidak pernah melihat beliau SAW lebih banyak berpuasa sunah daripada bulan Sya’ban. Beliau berpuasa di bulan Sya’ban seluruh harinya, yaitu beliau berpuasa satu bulan Sya’ban kecuali sedikit (beberapa) hari.” (HR. Muslim no. 1156 dan Ibnu Majah no. 1710)

Selain memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban, Sya’ban juga sebagai bulan memperbanyak amal saleh.

Dalam hadits dari Usamah bin Zaid R.A, ia berkata: “Wahai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, kenapa aku tidak pernah melihat Anda berpuasa sunah dalam satu bulan tertentu yang lebih banyak dari bulan Sya’ban? Beliau menjawab:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفِلُ النَّاسُ عَنْهُ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَال إِلى رَبِّ العَالمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عملي وَأَنَا صَائِمٌ

“Ia adalah bulan di saat manusia banyak yang lalai (dari beramal shalih), antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan di saat amal-amal dibawa naik kepada Allah Rabb semesta alam, maka aku senang apabila amal-amalku diangkat kepada Allah saat aku mengerjakan puasa sunah.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Khuzaimah. Ibnu Khuzaimah menshahihkan hadits ini)

Dan Sya’ban merupakan masa latihan sebelum naik ke ring Berkah (Ramadhan) berbagai upaya bisa dilakukan: belajar tentang fiqih puasa, ilmu tentang Ramadhan, persiapan mental, materi keluarga dan lain sebagainya.

Kalau misalnya ada yang interested (tertarik) kepada ramadahan karena ingin maraup materi dan untung yang banyak, panen rezeki, hal itu bukanlah tujuan utama dan juga tidak terlarang hanya jangan sampai kita jadikan tujuan utama, tetapi hal itu adalah  salah satu dari berkah dari bulan Ramadhan yang penuh attractiveness (daya tarik)

Sejak bulan Rajab sampai bulan Sya’ban, alampun mulai kembali ramai dengan akan datangnya tamu yang agung (Ramadhan) setelah sekian lama pergi meninggalkan kita. lembar-lembar kertas akan mulai terlukis dengan segudang ilmu tentangnya. Serpiha-serpihan faedah akan terkumpul kembali dalam rumah yang memberikan jaminan perlindungan dunia akhirat.

Maukah kita tampil sebagai pemain terbaik yang layak mendapat tropi “syurga”?

Atau sebaliknya apakah kita akan menjadi pecundang yang tidak mampu memanfaatkan kesempatan emas, tidak gembira dengan datangnya Ramadhan dan tidak tertarik dengannya, sehingga strategi melepaskan belenggu syetan tidak mampu dilakukan? Dan sertifikat “terbebas dari api neraka” pun tidak didapatkan “naudzu billahi min dzalik

Ibarat kedatangan tamu yang mulia, maka tuan rumah yang baik tentu akan mempersiapkan sambutan yang matang. Kita semua kaum muslimin adalah tuan rumah yang akan mempersiapkan tamu Ramadhan. Allahu A’lam.*

Penulis adalah seorang pendidik di Sekolah Integral Batam

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Sungguh! Masa Tidur Telah Habis

Sungguh! Masa Tidur Telah Habis

Sabar (1)

Sabar (1)

Cegah Covid, Jaga Iman

Cegah Covid, Jaga Iman

Islam Membolehkan Aksi Boikot?

Islam Membolehkan Aksi Boikot?

Umat Islam Mesti Waspada Politik Adu Domba

Umat Islam Mesti Waspada Politik Adu Domba

Baca Juga

Berita Lainnya