Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

Masjid Sumber Kebaikan

Masjid adalah solusi mendasar dalam mengurai permasalahan umat Islam saat ini [ilustrasi]
Bagikan:

SUDAH sunnatullah, semua orang senang dengan kebaikan. Meski yang diperbuat itu adalah keburukan, terkadang tetap saja diakui oleh sebagian manusia sebagai kebaikan. Setidaknya ia merasa tak bersalah dengan perbuatan tersebut. Hal itu dikarenakan kebaikan adalah fitrah yang disukai oleh manusia.

Diceritakan, pasca perang Badar, Abbas bin Abdul Muththalib ikut tertawan bersama orang-orang Makkah. Sebagian kaum muslimin lalu datang mencela karena dianggap berani memerangi Nabi Shallallahu alaihi wasallam (Saw). Menanggapi hal itu Abbas menyanggah. Menurutnya, orang Islam hanya mampu menyebut kejelekan dan keburukan mereka. Sedang kebaikan mereka, aku Abbas, tak pernah disebut oleh kaum muslimin.

Penuturan demikian membuat para sahabat terlonjak kaget. Benarkah orang-orang musyrik juga punya kebaikan? Abbas bin Abdul Muththalib menjawab: Iya, kami adalah orang-orang yang memakmurkan Masjidil Haram, merawat Ka’bah, memberi minum para jamaah haji, serta membebaskan para budak dan tawanan. Selanjutnya, Allah menurunkan ayat di bawah ini sebagai respon atas klaim orang-orang musyrik tersebut. (Tafsir al-Munir, Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili).
مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ. إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Surah at-Taubah [9]: 17-18)

Masjid sumber kebaikan

Ayat di atas sekurangnya memberi dua buah tuntunan praktis dalam kehidupan seorang Muslim.

Pertama, cara mudah mengenali kebaikan. Prinsipnya, kebaikan adalah perkara iman. Ia bukan sekedar kebiasaan, tabiat atau aturan hidup semata. Bahwa apa-apa yang datangnya dari ajaran agama niscaya mengandung kebaikan.

Termasuk di dalamnya adalah mengerjakan kebaikan itu dengan cara yang baik. Sesuai dengan teladan yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw). Sebaliknya, jika perkara itu bias dan melenceng dari agama, maka mudah ditebak ia bukanlah kebaikan. Apapun bentuk dan tujuan dari perbuatan tersebut.

Kedua, cara mudah mengenali orang yang baik. Hari ini sebagian manusia dijangkiti penyakit skeptis. Ia ragu terhadap apa yang datang kepadanya. Sebabnya, orang itu dilanda kebingungan menilai antara yang baik dan buruk. Rumus Islam mengajarkan, keimanan yang produktif niscaya melahirkan amalan-amalan kebaikan. Sedang ciri utamanya, tergambar dari bagaimana ia menjaga adab kepada Allah sebagai Penciptanya dan kepada manusia dan lingkungannya sebagai hubungan muamalah sesama makhluk.

Dalam hal ini, shalat adalah amal kebaikan yang pokok bagi seorang Muslim. Shalat yang baik niscaya mampu menghasilkan sekian banyak kebaikan berikutnya. Sebab ia berfungsi tameng dalam menolak kemungkaran yang ada di sekitarnya. Sekaligus menjadi motivator ulung mendorong kepada amalan makruf selanjutnya. Nabi bersabda, “Jika kalian melihat orang yang senantiasa datang ke masjid, maka persaksikanlah sesungguhnya ia memiliki modal iman.” (Riwayat Imam Ahmad dan at-Tirmidzi).

Amru bin Makmun al-Audi menambahkan: “Saya hidup bersama beberapa orang sahabat Nabi, sedang mereka berkata: Sesungguhnya masjid-masjid itu tidak lain adalah rumah-rumah Allah di dunia. Maka tentunya kewajiban Allah untuk memuliakan siapa saja tamu yang datang berkujung ke rumah-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, Abu al-Fida Ismail bin Katsir).

Olehnya, masjid adalah solusi mendasar dalam mengurai permasalahan umat Islam saat ini. Masjid adalah sentral dari seluruh kebaikan masyarakat yang ada. Sebagaimana lingkungan yang baik juga tercermin dari masjid di lingkungan tersebut. Jika masjidnya ramai dengan jama’ah yang shalat lima waktu. Terlebih jika jumlah jama’ah tersebut sama dengan jama’ah di waktu shalat Jumat, misalnya.

Niscaya orang-orang dan lingkungan masjid itu ikut menjadi baik. Namun ketika masjid itu melompong dari jama’ah, maka patutlah heran. Kebaikan apa lagi yang dicari selain dari tumpukan keberkahan dan rahmat yang menanti di dalam masjid.*/Masykur

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Corona dan Tradisi Kita Menjaga Sunnah

Corona dan Tradisi Kita Menjaga Sunnah

Kaki Tangan Penguasa dan Tanda Akhir Zaman

Kaki Tangan Penguasa dan Tanda Akhir Zaman

Beramal dengan Ikhlas Tanpa Syarat!

Beramal dengan Ikhlas Tanpa Syarat!

Qiyam Al-Lail (1)

Qiyam Al-Lail (1)

Dinamika dan Peran Strategis Majelis Ulama Indonesia

Dinamika dan Peran Strategis Majelis Ulama Indonesia

Baca Juga

Berita Lainnya