Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

Berpikir Positif dan Cara Islami Menyikapi Kegagalan [2]

Proses panjang yang dilalui dalam mewujudkan mimpi, bukanlah proses yang mudah semudah membalik telapak tangan
Bagikan:

Sembungan artikel PERTAMA

Sudut pandang yang positif

Pikiran positif membantu membangun percaya diri dan mengukuhkan cara pandang seseorang tentang kegagalan. Dampaknya adalah perbuatan positif yang membantu seseorang bangkit dari kegagalan dan berani menghadapi tantangan hidup.

Muhammad Ali, petinju terkenal, selalu berkata dalam hati, “Aku petinju yang hebat. Apa pun yang terjadi, aku tetap petinju yang hebat. Akulah petinju terbaik di dunia ini.”

Dalam sebuah wawancara di televisi, ia ditanya, “Mengapa Anda selalu berkata demikian ?” Muhammad Ali menjawab, ”karena kalimat itu memberiku rasa percaya diri, menguatkan keinginanku, dan membuatku konsentrasi pada target yang ingin aku capai. Jika akhirnya gagal, aku akan belajar dari kegagalan, kemudian berlatih lebih baik lagi hingga berhasil.”

Lebih lanjut Muhammad Ali berkata, “Pikiran sangat berbahaya. Pikiran bisa menjadi penyebab kegagalan dan bisa pula menjadi pendukung keberhasilan.Pikiran adalah sumber percaya diri.”

Thomas Alva Edison, sang penemu lampu pijar mengalami kegagalan dalam percobaannya 10.083 kali hingga lampu pijar bisa menyala. Coba bayangkan jika saja Edison menyerah pada percobaannya yang ke 10.082, maka bisa jadi dunia saat ini masih gelap gulita. Apa yang membuat Edison dapat bertahan dalam kegagalannya? Apakah dia tidak bosan dengan kegagalan yang berulang-ulang kali dialaminya?

“Dengan kegagalan tersebut, saya malah mengetahui ribuan cara agar lampu tidak menyala,” demikian Thomas Alva Edison pernah mengatakan.

Edison memandang sebuah kegagalan sebagai sebuah hal yang sangat positif. Kegagalan bukan kekalahan melainkan sebuah keuntungan.Edison memilih belajar bangkit dari kegagalan daripada binasa dalam kegagalan. Ia mengatakan bahwa kegagalan itu sering dialami oleh orang yang tidak sadar betapa dekat jarak dirinya dengan keberhasilan yang ia inginkan ketika ia memilih putus asa.

Satu kisah lagi tentang orang yang menyikapi kegagalan dengan berpikir positif. Tahun 1953 Sir Edmund Hillary mencoba mendaki gunung tertinggi di dunia, ketinggiannya mencapai 29.000 kaki, yaitu gunung Everest.Dialah orang pertama di dunia yang mencoba mendaki gunung tertinggi ini. Meski keluarga dan teman-temannya berusaha memintanya melupakan mimpi yang mengancam hidupnya, ia tetap bersikukuh.

Tekadnya sudah bulat. Semua bujukan itu ia balas dengan kalimat positif yang kemudian diidentikkan dengan namanya. Ia berkata, “Jika tak ada orang yang pernah mendaki gunung ini, aku menjadi orang yang pertama. Jika sudah ada orang yang pernah mendakinya, aku akan menjadi yang terbaik.

”Ia benar-benar mendaki gunung, tapi terpaksa turun kembali karena kaki kananya patah. Seperti biasa, para pengkritik dan pencemooh tidak tinggal diam. Mereka mencibir dan mencelanya. Tetapi ia tetap tersenyum dan berkata, “kali ini ia mengalahkan aku. Tetapi belum berakhir.Pada kesempatan yang akan datang aku akan menaklukkannya.”Berkat usaha yang gigih dan semangat pantang menyerah, pada kesempatan berikutnya Sir Edmund Hillary kembali mencoba untuk menaklukkan gunung Everest.Tapi nasib mujur belum berpihak padanya.Ia menderita luka parah. Meski demikian ia tidak menyerah. Ia bersikeras untuk mendaki puncak gunung tertinggi itu. Dan akhirnya ia berhasil mewujudkan mimpinya.

Dalam sebuah wawancara dengan media ia berkata, “Aku berhasil mengatasi rasa takutku. Aku berhasil mengontrol diriku dari pikiran negatif yang membuat frustasi dan merasa gagal.Dengan begitu aku berhasil menaklukkan Gunung Everest.”

Tiga kisah di atas memberi pengertian kepada kita tentang kuatnya kepercayaan diri dan tantangan kehidupan, sangat mempengaruhi pikiran seseorang hingga membuatnya berpikir positif dan melahirkan keyakinan positif tentang diri dan kemampuannya.

Berbaik Sangka

Allah Subhanahu Wata’ala menciptakan manusia dengan struktur yang paling baik di antara makhluk Allah Subhanahu Wata’ala lainnya.

Untuk itulah, manusia berkewajiban untuk berusaha dan terus menerus berdoa kepada-Nya.Serta memantaskan diri untuk mendapatkan pertolongan dari Allah.

Abu Hurairah ra, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bersabda;

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً »

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Cara berpikir positif dalam Islam adalah dengan berhusnudzan (berbaik sangka) kepada Allah.

Meyakini bahwasanya tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah subhanahu Wata’ala karena kekuasaan-Nya yang tidak bertepi dan tidak terbatas. Allah yang mengetahui yang ghoib dan yang nyata saja yang tahu apa yang terbaik bagi hambaNya. Seorang hamba yang mersa dekat dengan Allah harus tetap berbaik sangka kepadaNya.Bila nikmat Allah berupa keberhasilankita sambut dengan penuh rasa syukur, maka pahala bagi kita. Bahkan jika musibah berupa kegagalan datang tiba-tiba, namun kita bersabar menjalaninya maka itupun menjadi ladang kebaikan dan pahala bagi kita.Tinggal bagaimana kita berbaik sangka kepada Allah atas segala persoalan yang kita hadapi baik berupa keberhasilan maupun kegagalan.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Dari sini kemudian terlihat bahwasanya apapun masalah yang kita hadapi pasti ada jalan keluar melalui pintu spiritual.

Ilmuwan Amerika, Wayne W. Dyer penulis buku 10 SecretS for Success and Inner Peace pernah mengatakan, “Di pintu Spiritual terdapat jalan keluar dari semua persoalan.”

Menanggapi pernyataan tersebut, Dr. Ibrahim Elfiky membenarkan. Dalam bukunya ia mengemukakan bahwa seseorang yang mengindahkan aspek spiritual, selalu bersikap positif dan tawakkal kepada Allah dalam menghadapi setiap persoalan.

Dengan begitu, ia mampu mewujudkan impian hidup dan menjalaninya dengan ketentraman batindalam setiap aspek kehidupan. Allahul Musta’an.*/Mustabsyirah Syammar

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Apapun Kata PBB, Baitul Maqdis Ibu Kota Tauhid

Apapun Kata PBB, Baitul Maqdis Ibu Kota Tauhid

Teladan Salafus Shalih Dalam Muhasabah

Teladan Salafus Shalih Dalam Muhasabah

Dakwah sebagai Poros Utama Umat

Dakwah sebagai Poros Utama Umat

Ramadhan, Cinta dan Jihad

Ramadhan, Cinta dan Jihad

Hisablah Diri Kalian

Hisablah Diri Kalian

Baca Juga

Berita Lainnya