Kamis, 25 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

Nasihat Kepemimpinan (1)

Bagikan:

1. DI ANTARA nasihat `Ali bin Abi Thalib r.a kepada Malik al-Asytar, walinya di Mesir: Luangkanlah satu waktumu secara penuh untuk menerima orang-orang yang memerlukan bantuanmu yang hendak menghadap kepadamu. Duduklah bersama mereka dalam suatu majelis yang terbuka, lalu hendaklah engkau di dalam majelis ini merendahkan dirimu bagi Allah Yang menciptakanmu. Janganlah engkau melibatkan tentaramu dan pembantu-pembantumu dari kalangan pengawalmu dan polisimu sehingga siapa saja di antara mereka dapat berbicara kepadamu secara bebas tanpa merasa takut. Sebab, sesungguhnya aku tidak hanya sekali mendengar Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda, “Tidak akan tersucikan suatu umat selama si lemah tidak dapat menuntut dan memperoleh kembali haknya yang dirampas dari orang yang kuat tanpa rasa takut.”

2. Sesungguhnya kesenangan yang paling utama bagi para penguasa adalah menegakkan keadilan di dalam negeri dan terlihatnya kecintaan rakyat terhadap mereka. Kecintaan mereka ini tidak akan muncul kecuali dengan kelurusan niat mereka. Dan mereka tidaklah akan memberikan nasihat mereka kecuali karena perhatian mereka kepada para penguasa mereka dan sedikitnya kesusahan yang mereka dapatkan dari para penguasa mereka.

3. Maka lihatlah pada keagungan kerajaan Allah di atasmu, dan kuasa-Nya terhadap dirimu sendiri. Sebab, hal itu dapat meredakan keangkuhanmu, menahan kekerasan hatimu, dan mengembalikan akal sehatmu yang telah menjauh dari dirimu.

4. Maka berilah mereka –rakyatmu– maaf dan pengampunanmu, sebagaimana engkau ingin dan sangat berharap untuk mendapatkan maaf dan pegampunan Allah. Sebab, sesungguhnya engkau berada di atas mereka, pemimpin yang mengangkatmu berada di atasmu, dan Allah berada di atas orang yang mengangkatmu. Sesungguhnya Allah telah menugaskan kepadamu penyelesaian urusan mereka, dan Dia mengujimu dengan mereka. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali engkau mengarahkan dirimu untuk memerangi Allah. Sebab, engkau tidak mempunyai sedikit pun kekuatan untuk menolak siksa-Nya.

Sebaliknya, engkau pasti akan membutuhkan ampunan dan rahmat-Nya. Janganlah engkau pernah menyesali ampunan yang telah engkau berikan. Janganlah engkau merasa bangga akan hukuman yang telah engkau jatuhkan. Janganlah terburu-buru melampiaskan nafsu marahmu selama engkau mendapatkan pilihan yang lain. Dan janganlah sekali-kali engkau mengatakan, “Aku seorang penguasa; aku memerintahkan dan perintahku harus dituruti.” Sebab, yang demikian itu adalah penyebab rusaknya jiwa, lemahnya agama, dan hilangnya kekuasaan.

5. Tanamkanlah kasih sayang di dalam hatimu terhadap rakyatmu, kecintaan terhadap mereka, dan perlakukanlah mereka secara lemah lembut. Dan janganlah sekali-kali engkau mejadikan dirimu seperti binatang buas, lalu engkau menjadikan rakyatmu sendiri sebagai mangsamu.

6. Hendaklah perkara yang paling engkau cintai adalah yang pertengahannya dalam kebenaran, yang paling merata keadilannya, dan yang keseluruhannya demi mendapatkan kepuasan rakyat banyak. Sebab, kemarahan rakyat banyak mampu menumbangkan kepuasan golongan elite. Adapun kemarahan golongan elite dapat tertutupi dengan adanya kepuasan rakyat banyak.

Sesungguhnya rakyat yang berasal dari golongan elite ini adalah yang paling memberatkan wali negeri ini dalam masa kemakmuran, paling kecil bantuannya ketika terjadi bencana, paling tidak menyukai keadilan, paling banyak permintaannya secara terus-menerus, tetapi paling sedikit rasa terima kasihnya bila diberi, paling lambat menerima alasan bila ditolak, dan paling lemah kesabarannya bila berhadapan dengan berbagai bencana.

Sesungguhnya rakyat kebanyakanlah yang menjadi pilar agama, kekuatan kaum Muslim, dan paling bersedia menghadapi musuh. Oleh karena itu, curahkanlah perhatianmu kepada mereka, dan arahkanlah kecondonganmu kepada mereka.*/Dari buku Tanyalah Aku Sebelum Kau Kehilangan Aku – Kata-kata Mutiara ‘Ali bin Abi Thalib. Dihimpun atas arahan Syaikh Fadhlullah al-Ha’iri. [Tulisan selanjutnya]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Mengapa Menolak Istilah Kafir?

Mengapa Menolak Istilah Kafir?

Sejarah Perkembangan Ilmu Hadits

Sejarah Perkembangan Ilmu Hadits

Atraktif Dalam Berdakwah

Atraktif Dalam Berdakwah

Rahasia Keimanan yang Kokoh

Rahasia Keimanan yang Kokoh

“Sinar Ramadhan” di Pelupuk Mata

“Sinar Ramadhan” di Pelupuk Mata

Baca Juga

Berita Lainnya