Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

Tua dan Sakit dalam Pandangan Islam (1)

Bagikan:

SUDAH jelas bahwa sakit dan tua merupakan salah satu dari sumber munculnya rasa cemas dan gelisah. Akan tetapi, dua hal tersebut menjadi berbeda ketika dilihat dengan kaca mata iman.

Benar, menjadi tua atau ancaman tertimpa penyakit menjadi momok menakutkan bagi orang yang ragu atau tidak beriman kepada akhirat. Malah sungguh aneh, saat ini di negeri kaum muslimin banyak terdapat panti jompo karena ikut-ikutan tren yang terjadi di negeri orang-orang yang tidak mengenal Sang Pencipta.

Setelah orang tua mengerahkan masa muda mereka, menghabiskan masa segar hidup untuk menggembirakan anak-anaknya. Namun peradaban materialisme dan atheis justru memasukkan para ayah dan ibu ke dalam “penjara” saat menjalani sisa hidup mereka. Bahkan ada sebagian mati saat berada di panti jompo dengan cara sangat sadis, yakni melakukan proses euthanasia, yaitu suntik mati.

Silakan bandingkan kondisi ini secara obyektif antara hukum rimba yang berlaku dalam kehidupan binatang dan apa yang telah dilakukan oleh peradaban materialisme yang sesat.

Seorang tokoh peradaban materialis, yang juga seorang dokter jiwa bernama Dr. John Chandler, mengatakan tentang permasalahan manula:

“Dalam peradaban materialistik, setiap orang yang telah lanjut usia atau disebut manula dianggap sebagai penghalang kemajuan. Manula lambat dalam berjalan, lambat dalam bergerak ketika turun dari bis. Ya, bahkan lambat juga ketika akan matinya.

Orang-orang manula tidak diharapkan oleh masyarakat. Sebagai bukti yang paling tepat adalah kita menganggap mereka sebagai masalah, sedangkan kita tidak ingin dihadapkan kepada masalah.”

Tempat penampungan bagi mereka sebagai jalan terakhir atau alternatif bagi kita, merupakan bukti bahwa kita tidak mau terlalu banyak mempedulikan mereka. Tetapi jangan Anda mengira orang-orang manula tidak merasakan perlakuan yang keji ini.

Di dalam akidah Islam anjuran untuk berbuat baik kepada kedua orang tua adalah di antara perkara yang besar, bahkan berbuat baik kepada kedua orang tua adalah pilar kedua setelah tauhid. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ’Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.” (Al-Isra: 23-24)

Adakah kalimat lain yang seindah kalimat pada ayat di atas? Adakah aturan lain yang seagung aturan Al-Qur’an yang dianugrahkan untuk seluruh umat manusia?*/Dr. Mukmin Fathi Al-Hadad, dari bukunya Iman Sehat Pangkal Bahagia. [Tulisan selanjutnya]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Tetangga Baik, Tetangga Jahat (2)

Tetangga Baik, Tetangga Jahat (2)

Mengapa Yaman di Muliakan Allah?

Mengapa Yaman di Muliakan Allah?

Manusia Teragung di Semesta

Manusia Teragung di Semesta

Kebesaran Jiwa Ulama dalam Mengakui Kesalahan

Kebesaran Jiwa Ulama dalam Mengakui Kesalahan

Karakter Anjing

Karakter Anjing

Baca Juga

Berita Lainnya