Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

Pantaskah Kita Mendapat Kebaikan Allah?

ilistrasi
Bagikan:

SIAPA dalam hidupnya yang tidak mau dikehendaki Allah Subhanahu Wata’ala mendapat kebaikan?

Kalau Anda Muslim –apa pun jabatan dan strata sosial Anda- pasti menginginkannya. Hanya saja, kebaikan dari Allah, yang bahasa Arabnya: khoirullah, bukan untuk ditunggu, tapi diburu.
Bagaimana Anda mau mendapatkan emas, jika bermental malas? Bagaimana mau mengetam, jika tak mau menanam?

Dalam hadits ada beberapa kriteria yang disebutkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam agar setiap Muslim mendapat kebaikan dari Allah.

Pertama, faqih (paham) agama. Nabi bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Artinya: “Barangsiapa dikehendaki Allah (mendapat) kebaikan, maka akan dipahamkan ia dalam (masalah) agama.” (HR. Bukhari).

Ingat! Kriteria pertama harusnya paham agama, bukan tahu agama. Beragama berdasarkan ilmu, bukan asal tahu.

Orang yang paham agama, sejatinya tak akan bersenjang dengan amal nyata. Mereka ini biasanya disebut ulama. Ulama sendiri menurut al-Qur`an mempunyai khasyah (takut plus ta`dzim) tinggi (Qs. Fathir: 28) dan pasti akan diangkat derajatnya(Qs. Al-Mujadilah: 11).

Kedua, menghadapi ujian hidup. Nabi bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

Artinya: “Barangsiapa dikehendaki Allah (mendapat) kebaikan, maka ia akan diuji.” (HR. Bukhari).

Kalau mendapat ujian banyak dalam kehidupan jangan pernah risau dan su`udzan pada Allah Subhanahu Wata’ala. Ujian itu untuk dihadapi, bukan diratapi.

Selama kita berada pada riil yang benar, ketika masih mendapat ujian, maka itu tak lain karena Allah ingin menghendaki kita menjadi baik.

Dalam sekolah saja ada ujian, apalagi kehidupan? Semakin diuji orang akan berderajat tinggi. Akan diketahui mana loyang mana emas, melalui ujian.

Dalam al-Qur`an dijelaskan, kita akan diuji dengan rasa takut, lapar, harta berkurang, dll. Yang akan sukses dalam ujian hanyalah orang-orang yang sabar (QS. 155).

Allah Subhanahu Wata’ala menciptakan kematian dan kehidupan untuk mengetahui siapa yang terbaik amalnya (Qs. Al-Mulk: 2).

Jadi, untuk mendapat kebaikan, bersiaplah untuk menghadapi ujian. Semakin banyak ujian, semakin banyak kebaikan. Tentu saja, jika mampu sabar.

Ketiga, memohon taufiq Allah Subhanahu Wata’ala agar konsisten beramal shalih hingga ajal menjemput.

Nabi bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ ” قَالُوا: يَا رَسْوْلُ اللهِ، مَا اسْتَعْمَالُهُ ؟ قَالَ: ” يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ

Artinya: “Barangsiapa dihendaki Allah (mendapat) kebaikan, maka ia akan dipergunakan”. Sahabat bertanya, “Wahai Rasulallah! Apa (maksud) pergunaannya?”. Beliau menjawab: “Akan dianugerahi taufiq oleh Allah untuk beramal shalih sebelum kematiannya.”(HR. Ahmad).

Nasib orang tiada yang tau akan berakhir seperti apa. Mati juga misteri ilahi. Maka yang bisa kita lakukan ialah selalu memohon kepadanya agar senantiasa diberi taufiq. Taufiq untuk senantiasa konsisten beramal hingga ajal tiba.

Dalam hadits ada kisah menarik tentang takdir. Ada orang yang dari kecil berbuat baik hingga besar hingga jarak antara surga dan dirinya hanya satu hasta. Namun, karena sudah ditakdir jelek, kemudian pada akhir hayatnya, ia melakukan kejelekan dan ia pun masuk neraka. Ada pula yang sebaliknya. (HR. Muslim).

Keempat, beramal sebagaimana generasi terbaik (sahabat, ulama salaf).

Suatu saat nabi ditanya oleh seorang Arab Badui, “ Apa Islam ada akhirnya?”. Beliau menjawab:
نَعَمْ مْنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْراً مِنْ عَرَبٍ وَعَجَمٍ أَدْخَلَهُ عَلَيْهِمْ

Artinya: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah (mendapat) kebaikan, baik orang Arab maupun non-Arab, maka akan dimasukkan dalam golongan mereka.” (HR. Ibnu Hibban).

Ini sangat beralasan sebab, kata beliau setelah masa terbaik pada akhirnya ada masa fitnah. Orang yang bisa selamat dari fitnah adalah orang yang konsisten beramal sesuai dengan amalan mereka, yang menjadi orang terdepan dalam meneladani Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam.

Kelima, berakhlak mulia

Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْراً يَجْعَلْ خُلُقَهُ حسناً

Artinya: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah (mendapat) kebaikan, maka akhlaknya akan dibuat mulia.” (HR. Al-Qudha`i).

Siapa sih yang ga suka pada orang yang berakhlak mulia? Dan ingat, mereka yang berakhlak mulia bukan saja mendapat kebaikan, tetapi sebagai representasi insan yang beriman sempurna. Sedangkan hal itu, sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam.

Intinya, jika mau mendapat kebaikan dari Allah setidaknya kita memantaskan diri dengan memburu 5 kriteria; memahahi agama secara benar, siap menghadapi ujia, konsisten dalam beramal hingga aja, meneladani generasi terbaik, dan berakhlak mulia.

Nah, sudah pantaskah kita,  semuanya yang merasa Muslim mendapatkan khoirullah (kebaikan dari Allah)?*/Mahmud Budi Setiawan, penulis alumni AL Azhar dan lulus peserta PKU VIII UNIDA Gontor 2014

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Hijrah; Api Sejarah yang Tak Boleh Padam

Hijrah; Api Sejarah yang Tak Boleh Padam

Bangsa Bermata Sipit dan Tanda Akhir Zaman

Bangsa Bermata Sipit dan Tanda Akhir Zaman

Jurnalis Muslim vs Jurnalis Umum, Samakah?

Jurnalis Muslim vs Jurnalis Umum, Samakah?

“Dan Tuhanmu, Agungkanlah!”

“Dan Tuhanmu, Agungkanlah!”

Ilusi Kekuasaaan dan Bahayanya

Ilusi Kekuasaaan dan Bahayanya

Baca Juga

Berita Lainnya