Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

Hukum untuk ‘Sahabat Raja’ (2)

Bagikan:

ADA yang berkata kepada Ibrahim An-Nakha’i, “Bagaimana pendapatmu tentang catur?” Ia menjawab, “Catur itu terlaknat.”

Di dalam Jami’-nya, Abu Bakar Al-Atsram’ (sahabat Imam Ahmad, meninggal tahun 273 H) meriwayatkan dari Watsilah bin Al-Asqa’ dari Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat makhluk-Nya setiap harinya enam ratus kali. Dan bagi sahabat raja, yakni pemain catur, tidak ada jatah. Karena ia mengatakan, ‘raja mati’”

Dan dengan sanadnya sendiri Abu Bakar An-Ajri meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Jika kalian melewati mereka, orang-orang yang main judi dengan azlam (anak panah), dadu, atau catur serta main lain yang melalaikan, maka janganlah kalian mengucapkan salam. Karena jika mereka telah berkumpul dan mengerumuni benda-benda itu, syetan dan tentara-tentaranya datang kepada mereka mengelilingi mereka. Jika salah seorang dari mereka pergi dan memalingkan pandangannya darinya, syetan bersama tentaranya memukulnya. Mereka terus-menerus bermain hingga bubar, mereka bagai sekawanan anjing yang mengerumuni bangkai, anjing-anjing itu memakannya hingga kenyang perutnya kemudian bubar. Hal itu karena mereka berdusta dengan mengatakan, ‘Skak mat (Raja telah mati).’”

Abu Hurairah meriwayatkan lagi bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Orang yang berat siksanya pada hari Kiamat adalah ‘sahabat raja’, yakni pemain catur. Tidaklah kamu melihatnya mengatakan, ‘Aku telah membunuhnya, demi Allah ia telah mati. Demi Allah, ia mengada-ada dan berdusta terhadap Allah.”

Mujahid berkata, “Tidak seorang pun yang meninggal kecuali ditampakkan kepadanya teman-teman dekatnya yang dulu duduk-duduk bersamanya. Seseorang yang dulunya bermain catur menghadapi kematian dan dikatakan kepadanya, “Katakan La ilaha illallah!” Ia berkata, “Skak!” Lalu ia mati. Maka kebiasaan yang selalu diucapkannya selama hidupnya ketika bermain lebih dominan dan mengganti kalimat keikhlasan (kalimat Tauhid) dengan kata, “Skak!”

Demikian pula yang menimpa orang lain, orang yang terbiasa bergaul dengan tukang mabuk. Saat menjelang ajal, di-talqin-lah ia mengucapkan syahadat. Ia justru berkata, “Minumlah dan beri aku minuman!” Lalu ia mati. La haula wala quwwata illa billahil Aliyyil Adzimi.

Juga disebutkan dalam sebuah hadits bahwa, “Tiap-tiap manusia akan mati sebagaimana ia hidup dan akan dibangkitkan sebagaimana ia mati.” */Adz-Dzahabi, dari bukunya Al-Kabair-Galaksi Dosa.

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Hasrat Membunuh Demokrasi

Hasrat Membunuh Demokrasi

Tiga Karakter Mendasar, Kemuliaan Keluarga Ibrahim

Tiga Karakter Mendasar, Kemuliaan Keluarga Ibrahim

Mereka yang Rendah Hati (1)

Mereka yang Rendah Hati (1)

Masihkah Ramadan Bersama Kita?

Masihkah Ramadan Bersama Kita?

Tak Ada Burung Mati Karena Kelaparan, Apalagi Manusia Yang Mau Berusaha! (2)

Tak Ada Burung Mati Karena Kelaparan, Apalagi Manusia Yang Mau Berusaha! (2)

Baca Juga

Berita Lainnya