Kamis, 4 Maret 2021 / 20 Rajab 1442 H

Oase Iman

Dicari Pemimpin Visioner!

Youtube
Kemenangan Panglima Mahmud Al-Fatih (855-886 H) atas Konstantinopel sudah diprediksi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassallam
Bagikan:

Oleh: Mahmud Budi Setiawan

PEMIMPIN besar selalu memiliki ide-ide brilian, progresif dan kadang banyak tidak bisa dipahami bahkan dicerna oleh anak zamannya.

Ia biasanya hadir dalam situasi-kondisi ruang dan waktu yang kritis dan dialektis yang tidak terpikirkan oleh orang-orang sekitarnya. Cara dia melihat realitas jauh berbeda dengan kebanyakan orang.

Tidak mengherankan jika mereka selalu selangkah bahkan berlangkah-langkah lebih maju daripada orang pada umumnya. Sebab ide besar kadang lahir karena kemampuan internal pemimpin yang inheren dengan dirinya, yaitu: kemampuan memfirasati zaman(dengan berbagai fakta ilmu dan sejarah yang dikantongi).

Berangkat dari kepemimpinan Nabi Muhammad Shallallahu`alaihi wasallam (selaku Pemimpin Agung), didapati contoh-contoh menarik yang menggambarkan ide-ide besar yang beliau canangkan sebagai pemimpin.

Pada tahun kelima saat menjadi nabi, ketika kaum Muslim mengalami penindasan dari orang-orang kafir, beliau mempunyai ide cemerlang, yaitu: hijrah (pindah) ke negeri Habasyah (Ethiopia).

Bagi sementara orang mungkin ide ini dianggap aneh dan tidak lazim karena:

Pertama, lokasinya yang jauh di Afrika.

Kedua, membutuhkan kesiapan bekal yang mumpuni untuk berangkat ke sana.

Ketiga, negeri yang didatangi adalah negeri non-Muslim.

Keempat, tidak begitu strategis untuk mengembangkan dakwah. Kelima, sarat rintangan.

Terlepas dari anggapan aneh sementara orang, coba simak baik-baik pernyataan singkat Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam mengenai lokasi hijrah, Habasyah:

لَوْ خَرَجْتُمْ إلَى أَرْضِ الْحَبَشَةِ فَإِنَّ بِهَا مَلِكًا لَا يُظْلَمُ عِنْدَهُ أَحَدٌ، وَهِيَ أَرْضُ صِدْقٍ، حَتَّى يَجْعَلَ اللَّهُ لَكُمْ فَرَجًا

Sekiranya kalian keluar ke negeri Habasyah. Sungguh di sana ada seorang raja yang tak seorangpun dizalimi jika berada di sisinya. Habasyah juga negeri yang (memegang erat) kejujuran. Sampai Allah menjadikan kelapangan untuk kalian.”(Ibnu Hisyam, Sirah Ibnu Hisyam, 1/321).

Ide brilian ini dipilih karena alasan yang jelas. Pertama, adanya proteksi dari raja yang adil. Sehingga tidak akan didzalimi. Sewaktu-waktu jika dakwah di Makkah lenyap, maka ada cadangan untuk mengembangkan sayap dakwah. Kedua, negeri yang memegang erat kejujuran –meski jauh- lebih ramah, relevan, dan akomodatif terhadap Islam daripada negeri dekat yang zalim.

Anda tau, berapa jarak ide hijrah dari sekadar ide, usaha hingga terealisasi?

Ide ini baru terealisasi utuh delapan tahun kemudian ketika diizinkan hijrah ke Madinah. Saat di Madinah inilah umat Islam –dengan segenap perjuangannya atas izin Allah ta`ala- mampu menjadi kekuatan baru yang bisa menjaga eksistensi dakwah dan menegakkan pilar-pilar keadilan, bahkan sebagai embrio peradaban.

Kita tentu juga tak asing dengan ide Fathu Makkah (pembebasan Kota Makkah). Pada tahun keenam Hijriah, para sahabat besar seperti Umar, ‘kecewa berat’ dengan keputusan nabi yang memilih Shulhu Hudaibiyah (Perjanjian Hudaibiah), padahal ada janji yang mereka dengar dengan istilah fathan mubina.

Mereka akhirnya baru sadar belakangan bahwa justru perjanjian Hudaibiah adalah kemenangan besar, yang pada akhirnya dua tahun berikutnya diiringi dengan pembebasan Kota Makkah.

Ide tentang pembebasan dua imperium besar mungkin juga tak lazim didengar di saat kekuatan Islam masih sangat sedikit.

Tapi dengar bagaimana pertanyaan nabi kepada Suraqah bin Malik waktu perjalanan hijrah, “Bagaimana jika kelak engkau memakai dua gelang tangan Kisra (Raja Persia)?”(Abdul Malik al-Kharkusyi, Syarfu al-Mushthafa, 3/347).

Tahukah pembaca, jarak antara pertanyaan nabi dengan realisasi peristiwa, ialah sampai pada masa Kekhilafaan Umar bin Khattab (sekitar sepuluh sampai lima belas tahunan) di mana Umar langsung yang memakaikan gelang tangan Raja Persia pada Suraqah bin Mali.

Demikian juga saat nabi memecahkan batu besar saat menggali parit (yang dikenal untuk persiapan Perang Khandak), di situ nabi mengabarkan bahwa imperium besar seperti Persia dan Romawi akan tumbang di tangan Islam.

Bagi orang pada umumnya mungkin aneh, tapi itu nyata terjadi ketika pada zama Khulafa Rasyidun.

Addi bin Hatim pun diberitahu nabi, “Jika umurmu panjang, maka kamu akan menjumpa dibukanya pembendaharaan Kisra.” (HR. Bukhari).

Lebih dahsyat dari itu suatu saat nabi bersabda:

لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ، فَلَنِعْمَ الْأَمِيرُ أَمِيرُهَا، وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ

“Konstantinopel (pasti) akan dibebaskan. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya. Dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya.” (HR. Ahmad).

Tahukah berapa jarak realisasi antara omongan Rasulullah ini dengan terwujudnya pembebasan Kota Kontantinopel? Delapan abad kemudian di masa Mahmud Al-Fatih (855-886 H) Konstantinopel sebagai Ibu Kota Romawi Timur baru bisa ditaklukkan (al-Mausu`ah al-Muyassarah fi al-Tarikh al-Islami, 2/148).

Teodhore Herzl (1860-1904) sebagai Bapak Zionisme, merencanakan berdirinya negara penjajah Israel. Ia gagas pendirian negara Israel pada 1896 melalu pamflet berjudul “Der Judenstaat”(Jewish State).

Tahukah kapan terealisasi gagasan itu? Pada 14 Mei 1948/selama 50 tahun lebih 3 bulan, pendirian Israel baru terealisir (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, 65).

Kisah Herzl ini diambil untuk menunjukkan bahwa pemimpin manapun baik Muslim maupun non-Muslim selalu visioner. Mempunyai rencana-rencana brilian dan progresif yang sering dianggap aneh dan kurang dimengerti rasio kebanyakan orang.

Suatu saat, pada bulan Oktober 1937, Buya Hamka berkunjung ke rumah H. Agus Salim. Setelah beliau menyampaikan beberapa pemikirannya, Hamka dengan tersenyum berkata, “Ah, engku terlalu lekas datang ke dunia, sehingga apa yang engkau katakan dan pikirkan, belum dapat diterima oleh orang sekarang entah kalau 50 tahun lagi.”

Dengan senyum pula, H. Agus Salim berkomentar, “Perkataan yang demikian telah pernah diucapkan orang lain padaku. Prof Schrieke pernah berkata padaku: ‘Pikiran ini bukan buat 50 tahun lagi, tapi buat 100 tahun lagi’. Apakah sebab itu saya akan berhenti menyatakan pikiran? Apa yang akan dipikirkan orang 50 tahun kedepan jika tidak aku katakan sekarang? Apalah arti saya dibanding dengan Nabi Muhammad yang sudah lama saja masih banyak orang yang belum menerima pelajarannya.”(Hamka, Falsafah Hidup, 281-282).

Kisah-kisah tadi dipaparkan tidak lain untuk menunjukkan bahwa di antara pemimpin yang kita perlukan –di samping kecerdasan, integritas, kharisma, keadilan, amanah dll- ialah pemimpin yang visioner. Yaitu pemimpin yang mampu memfirasati zaman dan membaca gelagat masa depan (memprediksi masa depan).

Tentu saja dengan hubungan yang erat dengan Allah Subhanahu Wata’ala, ilmu yang mumpuni, wawasan luas, dan bekal sejarah yang dimiliki ia mampu membuat visi-visi terbaik yang diperlukan oleh orang yang dipimpinnya.

Boleh jadi mereka sekarang merasa aneh dengan keputusannya yang visioner, namun dengan kesabaran, sejarah akan membuktikan visinya adalah maha karya kebaikan yang didedikasikan untuk yang dipimpinnya.

Pemimpin Visioner hadir mendahului zamannya, untuk mempersembahkan karya terbaik yang dinikmati oleh orang-orang sesudahnya.

Masalahnya, di mana bisa kita temukan pemimpin yang visioner seperti itu saat ini?

Penulis alumni Al Azhar, Mesir, penikmat masalah sejarah Islam

Rep: Admin Hidcom
Editor: Achmad Fazeri

Bagikan:

Berita Terkait

Hadirkan Kelembutan, Agar Rahmat Allah Datang

Hadirkan Kelembutan, Agar Rahmat Allah Datang

Dua Sahabat yang Jadi Tetangga Rasul di Surga

Dua Sahabat yang Jadi Tetangga Rasul di Surga

Iman Tak Bisa Diwariskan

Iman Tak Bisa Diwariskan

Adakah Balasan Kebaikan Selain Kebaikan

Adakah Balasan Kebaikan Selain Kebaikan

Menikmati Surga Dunia, sebelum ke Surga Akhirat

Menikmati Surga Dunia, sebelum ke Surga Akhirat

Baca Juga

Berita Lainnya