Lubangnya Kapal Kita

Yang mayoritas adalah orang-orang yang hobinya melubangi perahu, dan yang minoritas adalah yang menyeru

Lubangnya Kapal Kita

Terkait

Oleh: Eka Sugeng Ariadi

BANYAK pujangga, guru, ustadz/ustadza, inspirator, motivator, trainer mengatakan bahwa existensi manusia di dunia tak ubahnya laksana berada dalam kapal/perahu yang super (duper) besar.

Menjalani hiruk pikuk kehidupan di dalamnya, ibarat tengah berlayar mengarungi lautan yang sangat luas. Tentu, saya dan Anda semua tengah berada di dalamnya.

Bisa dibayangkan, berat ringannya hidup selama di dunia sama dengan berat ringannya hidup dalam pelayaran. Saat kita tertimpa masalah/problematika ibaratnya kapal sedang menghadapi terjangan ombak yang besar atau angin dan cuaca yang buruk. Namun suatu saat, kita juga merasakan hidup yang bahagia dan itu laksana kapal sedang berada di laut yang ombaknya kecil, anging berhembus sepoi-sepoi, dan cuaca yang cerah memanjakan penumpangnya.

Begitu juga bicara tentang perbekalan yang diperlukan selama perjalanan. Ketika bekal makanan, minuman, dan lain-lain telah menipis, singgahlah kita di pelabuhan/daratan untuk mengisi kembali dan mengumpulkan berbagai macam bekal yang diperlukan.

Begitu pula dalam kehidupan kita yang sesungguhnya, bekal-bekal itu bisa jadi gambaran bertambah dan berkurangnya tingkat keimanan. Bila iman telah menipis, taqwa makin habis, berarti memang perlu di-recharge. Maka membaca-baca buku tentang keIslaman, hadir di tempat-tempat pengajian, mendengarkan ceramah-ceramah agama, dan kegiatan yang lainnya, mutlak harus dilakukan bila tidak ingin hidup dalam kekurangan (baca: kesesatan).

Ya, karena keimanan/ketaqwaan inilah, sebaik-baik bekal untuk menemani tujuan hidup yang telah kita rencanakan dan yang Allah gariskan. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman;

وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ

Artinya “Maka berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” (QS: Al-Baqarah: 197)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam pun berpesan tentang tema kapal dan taqwa ini. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menggambarkan kehidupan kita dengan hidup di sebuah kapal yang sedang berlayar mengarungi lautan yang luas. Pesan yang disampaikan Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wassallam kepada kita begitu dalam dan tajam.

“Perumpamaan orang yang berpegang dengan hukum-hukum Allah dan yang melanggarnya itu bagaikan kaum yang sama-sama menaiki kapal, sebagian ada yang di atas dan sebagian ada yang di bawah, orang-orang yang berada di bawah apabila ingin mengambil air mereka mesti melalui orang-orang yang berada di atas, lalu orang-orang yang di bawah itu berkata, “Seandainya kita lubangi (kapal ini) untuk memenuhi kebutuhan kita maka kita tidak usah mengganggu orang-orang yang ada di atas kita!” Maka jika orang-orang yang di atas itu membiarkan kemauan mereka yang di bawah, akan tenggelamlah semuanya, dan jika mereka menahan tangan orang-orang, yang di bawah, maka akan selamat, dan selamatlah semuanya.” (HR. Bukhari).

Pesan singkat namun sarat hikmah yang dalam dan aplikatif diterapkan dalam kehidupan. Kita bisa bayangkan bagaimana bila perahu yang kita tumpangi itu bocor maka perlahan-lahan kita akan tenggelam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam jelas tidak menginginkan hal itu terjadi kepada umatnya. Pesan tersebut bisa dipaparkan secara rinci sebagai berikut:

Pertama, ternyata dalam kehidupan nyata banyak diantara kita dan orang-orang di sekitar yang berusaha melubangi perahu kehidupan ini. Entah perbuatan itu kita sadari atau tidak, kita sengaja atau tidak. Secara langsung dan tak langsung, perbuatan-perbuatan itu menjadi salah satu penyebab bocornya perahu kehidupan. Contoh: ada beberapa pejabat (tidak semuanya) ingin dapat harta yang banyak dan tahta yang kuat tak tergantikan, lalu ‘potong kompas’ menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Bisa dengan korupsi atau mark up anggaran atau suap sana-sini. Kasus cicak buaya dari jilid 1 sampai 3 (entah sampai berapa jilid lagi) memperjelas pesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Yang haram jadi halal dan sebaliknya, yang kawan jadi lawan dan sebaliknya.

Kedua, pelubang perahu yang dimaksud Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam adalah sejenis manusia yang memiliki karakter tidak saja egois, tapi juga manusia yang hobi berbuat maksiat atas aturan Allah dan Rasul-Nya. Inilah gambaran orang yang melubangi perahu. Misalnya: ketika kita meninggalkan shalat fardlu/puasa ramadhan, maka kita sudah termasuk golongan orang-orang yang melubangi perahu. Ketika kita asyik memperkaya diri, tanpa peduli tetangga kiri-kanan yang lagi kesusahan, maka kita sudah termasuk golongan orang-orang yang melubangi perahu. Mungkin kita berpikir, “Ah..cuma saya saja kok yang gak shalat, yang lain kan masih banyak yang shalat. Dan gak akan menjadi lubang yang besar dalam perahu ini.” Bila pikiran seperti ini yang muncul dalam benak kita, maka bisa dipastikan ini salah besar. Karena kalau hanya kita seorang yang punya pikiran seperti itu, memang  efeknya tidak akan besar, tapi coba bayangkan bila sebagian besar rakyat di negeri ini berpikiran yang sama. Lubang yang kecil-kecil tadi tentu menjadi lubang-lubang yang semakin banyak dan semakin besar. Pada akhirnya, perahu ini akan tenggelam perlahan-lahan dengan ‘baik’.

Ketiga, harus ada sebagian kecil atau sebagian besar dari penumpang perahu ini, yang berperan sebagai pemberi peringatan atau pemberi teguran kepada siapa saja yang secara sadar atau tidak, menjadi pelubang perahu. Segolongan manusia pemberi peringatan/teguran ini harus selalu waspada dan istiqomah mengawasi dan memberi nasehat agar seluruh penumpang kapal/perahu senantiasa berbuat kebaikan dan berusaha me-minimalisir perbuatan yang bisa merugikan seluruh penumpang kapal. Segolongan manusia pemberi peringatan/teguran ini juga harus peka terhadap persoalan-persoalam yang terjadi di dalam kapal/perahu, agar seluruh penumpang hidup harmonis, bahagia, tentram dan pada akhirnya sampai selamat sampai di tujuan.

Setiap ada yang melakukan pelanggaran, segera diingatkan. Setiap ada yang melakukan kemaksiatan, segera dihukum dan dinasehati. Berat memang, apalagi bila segolongan orang ini jumlahnya minoritas. Misal: ada sebuah kebijakan bahwa pabrik-pabrik miras harus ditutup dan dilarang ada di negeri ini, karena telah meracuni dan menghancurkan generasi muda harapan bangsa. Maka sebagai segolongan umat yang memiliki pemikiran yang sehat dan ‘waras’ tentu harus mendukung sepenuhnya sesuai dengan kemampuan kita.

Ala kulli hal, bila negeri yang gemah ripah loh jinawi-toto tentrem kertoraharjo ini, telah terjadi bencana yang datang silih berganti. Maka ketahuilah perahu kita ini sudah banyak berlubang, perahu ini telah dilubangi oleh para penumpang-penumpang yang hanya memikirkan perut mereka sendiri. Perahu ini telah retak, kata Franky Sahilatua. Artinya siap-siap tenggelam.

Segolongan umat yang senantiasa memberi peringatan/teguran tidak pernah digubris. Bahkan mereka ini dianggap tidak demokratis/fundamentalis dan lebih menyakitkan lagi mereka ini sering diperlakukan bak “teroris”.

Yang mayoritas adalah orang-orang yang hobinya melubangi perahu, dan yang minoritas adalah yang menyeru, mengingatkan dan menasehati kepada jalan kebaikan. Saya dan Anda termasuk yang mana?*

Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Unisma

 

Rep: Admin Hidcom

Editor:

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !