Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

Belajar Keteguhan Pada Al Buwaithi

ilustrasi
Bagikan:

Oleh: Aan Chandra Thalib

NAMANYA Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya Al Buwaithi. Lahir di mesir dan wafat di penjara Baghdad pada tahun 231 H. Beliau merupakan murid kesayangan Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i pernah berkata tentang Al Buwaithi, “Tidak ada seorangpun diantara muridku yang lebih berilmu dari Al Buwaithi”. Syafi’i bahkan mempercayakan fatwa kepada Al Buwaithi. Dia selalu mempersilahkan Al Buwaithi menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan di dalam majelis beliau. (Lihat At Thabaqaat: 2/164)

Di dalam Al-Intiqoo Ibnu Abdil Baar meriwayatkan dari Muhammad bin Fazaarah Ar-Raazi bahwa dia berkata: “Aku pernah mengatakan kepada Ahmad bin Hanbal, sesungguhnya aku telah banyak menulis hadits, maka sudah seharusnya aku menulis pandangan-pandangan ulama. Imam Ahmad menjawab, “Jangan lakukan itu. Aku lalu menimpali, “Aku harus menulis pandangan Al Auza’i, As Tsaury atau Malik. Imam Ahmad menjawab, “Bila memang harus maka tulislah pendapat As syafi’i. Temuilah Al Buwaithi, dengarkan darinya, bila engkau tidak mendapatinya maka temuilah Abul Walid bin Abil Jaruud di Makkah.

Meski telah mencapai derajad mujtahid muthlak, Al Buwaithi tetap menjadikan ushul Imam Syafi’i sebagai acuan dalam melakukan istinbath.

Seperti ulama pada umumnya, Al-Buwaithy juga mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya, jalanan yang menyambungkan antara mesir dan baghdad menjadi saksi keteguhannya.

Tepat pada tahun 218 H terjadi fitnah besar sebagai akibat doktrin mu’tazilah yang menyatakan bahwa Al-Quran adalah Makhluk.

Para ulama dan hakim dimasa itu dipaksa mengakui doktrin tersebut. Siapa yang menolak akan dicopot dari jabatannya dan wajib menerima hukuman. Mayoritas ulama Ahlus Sunnah memilih teguh diatas pendirian mereka, sehingganya tak sedikit yang mati tersiksa dalam penjara. Salah satu diantaranya adalah Al-Buwaithi.

Kisah itu bermula saat orang-orang yang sebelumnya telah menaruh kebencian kepadanya mengirimkan surat kepada Ibnu Abi Du’ad al Mu’tazily mentri Al Watsiq Billah yang isinya berupa pengaduan bahwa Al-Buwaithi tidak mau mengakui kalau Al-Quran adalah Makhluk Allah. Al Watsiq kemudian mengirimkan surat perintah kepada gubernur Mesir agar memaksanya mengucapkan kata-kata kufur tersebut.

Tetepi dengan tegas Al-Buwaithi menolak. Sang gubernur yang kwatir akan keselamatan Al-Buwaithi menawarkan opsi, “Katakan antara aku dan engkau saja, perlihatkan dihadapanku sesuatu yang mengesankan bahwa Al-Quran adalah makhluk Allah, adapun didepan khalayak engkau bebas mengatakan apa saja semaumu.

Namun sekali lagi Al-Buwaithi menolak, dengan tegas ia mengatakan:

“Di belakangku ada ratusan ribu orang yang tidak mengerti arti dari semua ini. Aku tidak mau mereka tersesat karena aku. Tidak demi Allah.. Adzab dunia jauh lebih ringan ketimbang adzab diakhirat. Dan ridho Allah merupakan sesuatu yang harus dicari.
Tidak demi Allah… Aku tidak ingin menjadi sumber fitnah bagi orang awam..

Al-Quran adalah Kalamullah (firman Allah..)

Al-Quran adalah Kalamullah (firman Allah…).”

Akhirnya Al-Buwaithi dipaksa pergi meninggalkan Mesir menuju Baghdad. Ar-Robi’ bin Sulaiman Al-Muradi mengatakan, “Al-Buwaithi terus menerus menggerakkan kedua bibirnya untuk mengingat Allah. Aku tidak pernah melihat orang yang kuat dalam berhujjah dengan kitabullah seperti Al-Buwaithi. Aku melihatnya diatas keledai digantungi besi seberat 40 ritel. Lehernya dikalungi rantai besi, kakinya diikat. Antara kalung besi di leher dan rantai besi di kaki dihubungkan dengan rantai besi yang berat. Dalam kondisi itu dia berkata, “Allah telah mencipkan makhluknya dengan kata “Kun”. Apabila (firman Allah ”kun”) itu adalah makhluk, itu berarti mahkluk diciptakan dengan makhluk”. Bila aku masuk menemuinya (Al-Watsiq) aku pasti akan mengatakan kebenaran padanya. Aku lebih memilih mati dalam kondisi terikat dengan rantai-rantai besi ini, agar suatu hari nanti, orang-orang itu mengerti bahwa telah mati dalam mempertahankan keyakinan ini seseorang yang terbelenggu dalam ikatan-ikatan besi.”

Al-Buwaithi mengatakan: “Siapa yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk, maka dia telah kafir.”

Memang doktrin Mu’tazilah yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk merupakan doktrin yang sangat jelas menyimpang dari akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Ahlus Sunnah meyakini bahwa Al-Quran adalah kalam Allah, darinya bermula dan kepada-Nya berakhir. Hal ini sebagaimana yang Allah kabarkan sendiri dalam Al-Quran.

Alkalam merupakan salah satu diantara sifat-sifat Allah. Bila kita mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk, maka berarti dia akan sirna, sebab makhluk memiliki sifat fana atau tidak kekal. Sementara sifat Allah Abadi sebagaimana Dzat-Nya yang abadi untuk selama-lamanya.

Kisah Imam Al Buwaithi di atas mengandung pelajaran penting tentang arti keteguhan dalam mempertahankan prinsip.

Imam Al Buwaithi seolah mengajari kita bahwa seorang da’i atau ulama tidak boleh dibeli apalagi mau diajak untuk kompromi dalam kebatilan.

Dia mengajari kita untuk tetap teguh diatas kebenaran sekalipun dihadapkan pada kenyataan pahit.

Ungkapan “di belakangku ada ratusan ribu orang” memberi pesan bahwa seorang da’i harus sadar kalau di belakangnya ada umat yang selalu menunggu keputusannya, arahannya juga sikapnya dalam setiap permasaalahan.

Kisah ini juga mengingatkan kita akan keteguhan Imam Ahmad. Keduanya, baik Imam Ahmad maupun Imam Al Buwaithi memahami betapa mereka harus berjuang melawan rasa sakit, dan mungkin saja kematian dalam kondisi seperti itu.

Mereka memilih drama jiwa itu, mereka memutuskan bertahan di tengah ratusan ribu orang yang hidup dalam ketidakmengertian. Dengan keteguhan mereka berusaha menggambarkan betapa serius permasalahan tersebut.

Di jalan dakwah ini, banyak yang mundur ketika pertaruhannya adalah hidup atau mati. Tapi orang-orang besar memilih untuk terus berkarya, memberi dan berbagi untuk orang banyak baik dengan ilmu, arahan, atau bahkan dengan kematian itu sendiri. Semua demi balasan yang lebih terhormat di akhirat kelak.

Itulah arti keteguhan yang dapat kita terjemahkan dari rantai besi yang membelenggu Al-Buwaity.

“Aku lebih memilih mati dalam kondisi terikat dengan rantai-rantai besi ini, agar suatu hari nanti, orang-orang itu mengerti bahwa telah mati dalam mempertahankan keyakinan ini seseorang yang terbelenggu dalam ikatan-ikatan besi.”

Diantara karya Imam al-Buwaity adalah buku Mukhtashar Al Buwaithi (1 jilid), diterbitkan Darr Al Minhaj. Untuk pertama kalinya buku ini dicetak dengan mengacu pada tiga manuskrip langka. Pentahkikan buku ini dimulai sejak tahun 1980 oleh Prof. Dr. Ali Muhyiddin Al Qardhaghi dan baru bisa diterbitkan tahun ini.

Buku ini merupakan ringkasan “Kitab Al Umm” karya imam Syafi’i. Akan tetapi Imam Al Buwaithi tidak hanya sekedar meringkas, beliau menambahkan beberapa hasil ijtihadnya terhadap sejumlah masaalah yang terkadang menyelisihi ijtihad Imam Syafi’i.
Buku ini menjadi salah satu rujukan utama para imam baik dari kalangan Syafi’iyah seperti Al Juwainy, As Syairazy, Al Ghazaly, Al Mawardy, Ar Rofi’i, An Nawawi dan ulama lainnya dari madzhab yang berbeda.*

Penulis sedang studi di Universitas Madinah

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Hari Kiamat di antara Derajat Para Makrifat

Hari Kiamat di antara Derajat Para Makrifat

Semesta Bertalbiah

Semesta Bertalbiah

Mempersiapkan Mudik Akhirat

Mempersiapkan Mudik Akhirat

Perkembangan Iptek Tanda Akhir Zaman?

Perkembangan Iptek Tanda Akhir Zaman?

Dinamika dan Peran Strategis Majelis Ulama Indonesia

Dinamika dan Peran Strategis Majelis Ulama Indonesia

Baca Juga

Berita Lainnya