Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

Inilah Jalan Hidup Seorang Mukmin (2)

ilustrasi
Bagikan:

Sambungan Artikel PERTAMA

Oleh: Dr. Achmad Yani, Lc, Med
JADI apa sebenarnya tujuan hidup kita? Apakah kita dilahirkan, tumbuh jadi anak-anak, remaja, dewasa, kemudian menua, dan akhirnya mati… Adakah dengan itu berarti hidup kita telah selesai?

Allah berfirman dalam Al-Quran:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?.” (QS: Al-Mu’minuun: 115)

Sesungguhnya jawaban dari pertanyaan ini adalah dalam firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS: Adz-Dzaariyat: 56)

Ayat tersebut diatas merupakan petunjuk dari Allah Subhanahu Wata’ala kepada manusia tentang tujuan diciptakannya di muka bumi ini. Sebagai manusia, kita memang perlu makan, minum, tidur, bekerja, menikah, istirahat, pakaian, tempat tinggal, alat transportasi, harta, dan lain sebagainya. Namun kesemuanya itu bukanlah tujuan, melainkan itu hanyalah alat untuk kita beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Makna ibadah dalam islam sangatlah luas, semua aktivitas yang dilakukan manuasia bisa bernilai ibadah, sejak dari bangun tidur, sampai tidur lagi, bahkan tidur itu sendiri, juga bernilai ibadah. Ibadah dalam islam bukan hanya berbentuk sholat, puasa, haji, baca al-Quran, melainkan semua aktivitas manusia bisa bernilai ibadah.

Ketika kita bangun tidur, kemudian kita ke kamar mandi untuk buang air kecil, kita niatkan itu sebagai ibadah, menjaga kesehatan, merawat anugerah Allah berupa badan, sebab kalau air kencing ditahan itu bisa menyebabkan penyakit, dengan niat yang seperti maka buang air kecil itupun bernilai ibadah.

Dilanjutkan berwudlu dan kemudian sholat, ini juga ibadah. Setelah itu kita sarapan, diniatkan agar badan kita ada energy sebagai bekal ibadah, maka sarapan kita itupun bernilai Ibadah.

Kemudian kita mandi pagi, gosok gigi, dan membersihkan badan, diniatkan untuk menjaga kesegaran badan, biar tidak bau, dan tidak menganggu orang disekitar kita, maka ini pun bernilai ibadah.Begitu juga ketika kita pergi ke tempat kerja, kita niatkan mencari rizki yang halal, untuk diri sendiri dan keluarga, maka sejak pagi sampai sore kita bekerja, selama itulah pahala ibadah terus mengalir.

Semua aktitas yang sifatnya duniawi seperti ke pasar, ke kampus, ke kantor, ke sawah, dan lain sebagainya,itu semua bisa bernilai ibadah jika kita betul dalam meniatkannya. Namun jika kita salah niat, maka semua aktivitas itu hanyalah bernilai amalan dunia saja, dan tidak ada pahalanya di akhirat.

Tidak penting bagi seorang mukmin apakan dia menjadi kaya atau misikin, pejabat atau rakyat, bos atau kuli, atasan ataupun bawahan, sebab bagi seorang mukmin, apapun situasinya, bagaimanapun keadaannya, semuanya adalah kesempatan untuk beribadah.

Jika dia miskin dan sabar dengan kekurangannnya, maka kemiskinan adalah keberkahan baginya, sebab kesabaran menjalani kehidupan dengan serba kekurangan mendatangkan pahala untuknya. Jika dia kaya, itu juga kesempatan baginya untuk beribadah, mensyukuri kekayaan yang diberikan, banyak berzakat dan bersedekah, menolong siapa saja yang memerlukan, maka dengan begitu kekayaan adalah keberkahan untuknya, sebab harta yang dimiliki menjadi sumber pahala.

Rasulullah bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ المؤمنِ إِنَّ أمْرَه كُلَّهُ لهُ خَيرٌ ليسَ ذلكَ لأَحَدٍ إلا للمُؤْمنِ إِنْ أصَابتهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فكانتْ خَيرًا لهُ وإنْ أصَابتهُ ضَرَّاءُ صَبرَ فكانتْ خَيرًا لهُ) رواهُ مُسْلِمٌ

“Alangkah mengagumkan kehidupan seorang mukmin, sungguh segala urusannya mendatangkan kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan yang seperti itu hanya ada dalam kehidupan seorang mukmin.Ketika dia mendapatkan kesenangan, maka diapun bersyukur, dan itu mendatangkan kebaikan untuknya (pahala).Begitu juga ketika dia sedang ditimpa kesusahan, maka dia pun bersabar, dan itu pun mendatangkan kebaikan untuknya (pahala).” [HR: Muslim].Wallahu A’lam.*

Penulis adalah Dosen di Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM)

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Menagih Janji Empat Istri (1)

Menagih Janji Empat Istri (1)

Iman Tak Sekadar Membenarkan

Iman Tak Sekadar Membenarkan

Mereka yang Ingin Masuk Surga dengan Kaki Pincang

Mereka yang Ingin Masuk Surga dengan Kaki Pincang

Syahadat Kunci Surga

Syahadat Kunci Surga

Inilah Tiga Warisan Rasulullah

Inilah Tiga Warisan Rasulullah

Baca Juga

Berita Lainnya