Rabu, 1 Desember 2021 / 25 Rabiul Akhir 1443 H

Oase Iman

Perlu Ilmu Dan Tak Putus Asa Dalam Berdakwah (2)

Bagikan:

 

sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Fais al-Fatih

AJAKAN dan seruan itu memiliki makna yang indah dan tersembunyi. Dia menggunakan metode yang paling indah dalam berdialog, berdebat dan berdiskusi. Dimana dia berusaha agar mereka menerima dengan lapang apa yang diserukan olehnya tanpa ada sedikit pun unsur pemaksaan. Dalam hal ini seolah-olah dia mengatakan, “Bayangkanlah, andaikan mereka itu bukanlah rasul Allah dan bukan pula para Nabi yang memberikan pengajaran menuju jalan yang benar, namun mereka itu orang yang mendapat petunjuk dan mengetahui dengan benar jalan lurus yang akan mengantarkan kepada jalan yang benar, kemudian mereka termasuk orang yang sama sekali tidak mengharapkan imbalan dan upah sepeserpun dari kalian.”
Lelaki itu juga bertanya, “Mengapa aku tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku?” (QS. Yasin: 22). Itu adalah sebuah pertanyaan yang bersifat pengingkaran. Di dalamnya ada isyarat bahwasanya setiap orang hendaknya menyembah kepada Allah, Dzat yang sangat jelas eksistensi-Nya. Maka bagi yang tak mau menyembah Allah, hendaklah dia mengedepankan alasan yang barangkali dapat menghalanginya untuk beribadah kepada-Nya. Pada pertanyaan itu pula terdapat sebuah sentuhan makna yang demikian indah, dimana orang itu bertanya dan mengajak bicara dirinya sendiri, sebelum mengajak kaumnya. Dia mengatakan “Yang menciptakanku…”, bukan “Yang menciptakanmu..” Pertanyaan itu dia tutup dengan mengatakan, “Dan hanya kepada-Nya-lah kamu semua akan dikembalikan.” (QS. Yasin: 22).

Dia kembali melontarkan pertanyaan kepada kaumnya, “Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya?” (QS. Yasin: 23). Pertanyaan itu benar-benar menggambarkan kesempurnaan tauhid yang telah telah dimilikinya. Pertanyaan itu mengingkari kesyirikan terhadap-Nya dan ketiadaan ibadah kepada selain Dia.

Mereka semua termasuk ketiga utusan, Habib al-Najjar dan kaumnya sama-sama sebagai makhluk yang lemah dan tiada daya, yang senantiasa membutuhkan Allah dan menghajatkan-Nya. Dan jika sang lelaki itu tidak mengikuti seruan tauhid dari para utusan maka, “Sesungguhnya aku kalau begitu berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yasin: 24).

Dia menutup ajakannya kepada kaumnya itu dengan sebuah closing statement yang mengagumkan. Dalam firman-Nya lelaki itu berkata, “Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhan kalian, maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.” (QS. Yasin: 25).

Pernyataan itu bukan hanya permintaan kepada kaumnya untuk sekedar mendengarkan pengakuannya saja, tetapi juga merespon ajakan kebenaran dan masuk dalam iman kepada-Nya.

Lelaki itu kemudian dibunuh oleh kaumnya. Dari Ibnu Mas’ud ra dikatakan, “Mereka menginjakkan kaki pada tubuhnya hingga tulang punggungnya keluar.” Sungguh Allah subhanahu Wata’ala tidak menyia-nyiakan pengorbanan yang telah dia lakukan. Allah berfirman, “Masuklah ke surga.” (QS. Yasin: 26).

Betapa mulianya ia setelah mendapatkan nikmat surga kemudian dia mengingat kaumnya dengan hati yang tulus penuh dengan keridhaan, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui.” (QS. Yasin: 26). Alangkah baiknya, jika kaum itu mengetahui apa yang akan mereka dapatkan jika mengikuti para utusan dan beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Tapi sayang, mereka mengingkari dan Allah menghinakan mereka dengan, “Satu teriakan suara saja, maka tiba-tiba mereka mati semuanya.” (QS. Yasin: 29).

Bagi para da’i yang menyerukan kebenaran, baik itu di dunia maya maupun dunia nyata, termasuk lulusan pesantren kilat sekalipun hendaknya metodologi yang digunakan lelaki ini ditiru dan dipelajari, adanya kebenaran dalam dakwah yang disampaikan dan keikhlasan arah tujuan, semangat untuk mengantarkan pada hidayah, keberanian yang luar biasa, cara berpikir yang runtut dan penuh dengan kekuatan logika, dan itu semua kembali pada kuatnya iman yang mengakar pada lelaki rabbani tersebut.

Dia berani pasang badan di depan materialisme yang kejam. Dengan penuh kelembutan dia mengajak kaumnya untuk mengikuti kebenaran dan meminta kepada mereka untuk menyambut seruan para utusan. Walaupun dia sendiri melihat akan ada marabahaya yang akan menimpa dan siksaan yang akan melanda, dia tetap beriman dan dengan ikhlas mengumandangkan dengan lantang pengakuan keimanannya dan dia siap menanggung resiko yang bakal menimpanya.

Dan janganlah ketika berdebat atau adu argumentasi dengan pihak yang ingin kita dakwahi dengan tujuan untuk mencari kemenangan, pamor dan popularitas karena itu merupakan akhlak yang tercela. Ilmu yang mungkin tidak seberapa yang kita bisa jadi membantu untuk meraih kemenangan saat berdebat tapi sayang tak akan memberikan manfaat kelak di akhirat. Hasbunallaahu wa ni’mal wakil…*

Mahasiswa Pascasarjana Informatika Kelompok Studi Palestina (KSP)

 

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Keberkahan Hidup

Bagaimana Mengukur Keberkahan Hidup?

Ja’far At-Thayyar, Terbang Sesuka Hati

Ja’far At-Thayyar, Terbang Sesuka Hati

Menjemput Kemenangan Dakwah: Hakekat dan Kiat-kiatnya

Menjemput Kemenangan Dakwah: Hakekat dan Kiat-kiatnya

Belajar dari Ketabahan Keluarga Yasir

Belajar dari Ketabahan Keluarga Yasir

Kaya untuk Dakwah

Kaya untuk Dakwah

Baca Juga

Berita Lainnya