Rabu, 27 Oktober 2021 / 20 Rabiul Awwal 1443 H

Oase Iman

Pidato Pertama Abu Bakar dan Umar Minta Diingatkan dan Ajak Shalat

MBC
Film Omar
Bagikan:

PASCA meninggalnya Rasulullah Muhammmad Shallallahu’alaihi Wassallam, khususnya kondisi politik dan pemerintahan masa Al-Khulafa‟al Rasyidin berbeda-beda tatkala di masa Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali Bin Abi Thalib. Meski berbeda, satu hal yang tak ada perbedaan, setiap memegang kepimpinannya para Khulafaur Rasyidin tetap menjaga prinsip musyawarah dan memegang ajaran Al- Quran dan Sunnah Rasul disertai ketinggal akhaq islami.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menggantikan beliau sebagai pengganti. Beliau nampaknya menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya. Karena itulah, tidak lama setelah beliau wafat, belum lagi jenazahnya dimakamkan, sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshar berkumpul di balai kota Bani Sa’idah, Madinah. Mereka memusyawarahkan siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin.

Musyawarah itu berjalan cukup alot karena masing-masing pihak, baik Muhajirin maupun Anshar, sama-sama merasa berhak menjadi pemimpin umat Islam. Namun, dengan semangat ukhuwah Islamiyah yang tinggi, akhirnya, Abu Bakar Radhiallahu’anhu terpilih.

Dalam pidato pertamanya saat Khalifah Abu Bakar Assiddiq ra dilantik menjadi pemimpin umat, ia tak menyatakan rasa syukur, apalagi terlihat gembira atau mengadakan pesta.

“Saudara-saudara, aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik diantara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku. Sifat jujur itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. ‘Orang lemah’ di antara kalian aku pandang kuat posisinya di sisiku dan aku akan melindungi hak-haknya. ‘Orang kuat’ di antara kalian aku pandang lemah posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak mereka yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak menerimanya. Janganlah diantara kalian meninggalkan jihad, sebab kaum yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhiku. Kini marilah kita menunaikan Shaat semoga Allah Subhanahu Wata’ala melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua.”

Tatkala Abu Bakar ash-Shiddiq merasakan ajalnya sudah dekat, ia mengundang para sahabat untuk membahas siapa penggantinya. Abu Bakar juga menulis surat yang ditujukan kepada khalayak, yang menjelaskan atas apa pilihannya itu. Abu Bakar menjatuhkan pilihannya kepada Umar bin Khaththab. “Tapi, kepada para sahabat, Abu Bakar berkata, ‘Saya menjatuhkan pilihan kepada Umar, tapi Umar bebas menentukan sikap’.”

Rupanya, umat juga bersetuju dengan Abu Bakar. Lalu, kepada Umar, Abu Bakar berpesan, “Sepeninggalku nanti, aku mengangkatmu sebagai penggantiku…” ucap Abu Bakar pada Umar bin Khaththab.

“Aku sama sekali tak memerlukan jabatan khalifah itu,” ujar Umar menolak.

Tapi, atas desakan Abu Bakar dan dengan argumentasi yang membawa misi Ilahi, Umar luluh dan menerimanya. Sepeninggal Abu Bakar, ketika Umar dilantik jadi khalifah, ia justru menangis. Orang-orang pun bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau menangis menerima jabatan ini?”

“Aku ini keras, banyak orang yang takut padaku. Kalau aku nanti salah, lalu siapa yang berani mengingatkan?”

Tiba-tiba, muncullah seorang Arab Badui dengan menghunus pedangnya, seraya berkata, “Aku, akulah yang mengingatkanmu dengan pedang ini.”

“Alhamdulillah,” puji Umar pada Ilahi, karena masih ada orang yang mau dan berani mengingatkannya bila ia melakukan kesalahan.*/AU Shalahuddin Z, dari berbagai sumber

Bersambung Pidato Pertama Khalifah Umar Bin Abdul Aziz..

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Tidak Ada Adzab Seberat Adzab Kaum Nabi Luth

Tidak Ada Adzab Seberat Adzab Kaum Nabi Luth

Tetangga Baik, Tetangga Jahat (2)

Tetangga Baik, Tetangga Jahat (2)

Strategi Setan Menghancurkan Keikhlasan Orang Beriman (1)

Strategi Setan Menghancurkan Keikhlasan Orang Beriman (1)

Mendadak Bodoh

Mendadak Bodoh

Percikan Hikmah: Hidup dan Nikmat Sehat (2)

Percikan Hikmah: Hidup dan Nikmat Sehat (2)

Baca Juga

Berita Lainnya