Sabtu, 23 Januari 2021 / 10 Jumadil Akhir 1442 H

Oase Iman

Pemimpin dan Pengemis

ilustrasi
Bagikan:

SUDAH tak asing lagi, budaya mengemis merupakan budaya yang telah menjamur di berbagai penjuru dunia dari dulu hingga kini.

Tempat-tempat strategis bagi para pengemis pun berbeda-beda. Di Mesir, misalnya, kebanyakan para pengemis menunggu jama’ah shalat di depan pintu masjid-masjid. Tidak hanya beberapa hari, bahkan setiap hari pasti ada pengemis di sekitar masjid.

Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamiin memiliki pandangan tersendiri tentang budaya mengemis ini.

Kita sebagai umat Islam sepatutnya menghindari budaya mengemis , bukankah masih ada usaha lain yang lebih mulia dari pada mengemis?

Qais bin ‘Ashim, sahabat nabi sekaligus seorang penyair mewasiati putranya, “Jauhilah meminta-minta, sesungguhnya meminta-minta merupakan akhir usaha seseorang.” (Dinukil dari Kitab Bahjat al-Majalis, Ibnu ‘Abdul Barr)

Usaha biasa atau rendahan (yang dibolehkan Islam) itu jauh lebih mulia dibanding meminta-minta.

Bukankah Khalifah ‘Umar bin Khattab telah berkata, “Sebuah usaha biasa itu lebih baik dari pada meminta-minta manusia.” (Manaqib ‘Umar, Ibnu Al-jauzi)

Rakyat jelata yang mengemis karena tidak ada pekerjaan dan kebutuhan, seharusnya merupakan tanggungjawab seorang pemimpin untuk memberikan jalan keluar.

Bukankah di zamanRasulullah Shallallahu ‘alahi Wassallam ada seorang pengemis mendatangi beliau, seorang utusan Allah dan pemimpin. Namun apa yang beliau lakukan, sebagai suri tauladan yang baik beliau memberinya uang yang kemudian beliau memberikan solusi dengan memberinya sebuah kampak untuk mencari kayu. Hal ini menunjukkan bahwa pengemis merupakan tanggungjawab seorang pemimpin.

Walaupun Islam mencela usaha mengemis atau meminta-minta. Di sisi lain Islam juga melarang menghardik atau menolak seorang pengemis.

Allah Ta’ala berfirman;

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

“Dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah kamu menghardiknya.” (QS: adh-Dhuha [93]: 10)

Di dalam surat al-Baqarah, disebutkan;قَوْلُُ مَّعْرُوفُُ وَ مَغْفِرَةٌ خَيْرُُ مِّنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَآأَذًى وَاللهُ غَنِيٌّ حَلِيمُُ

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf bisa lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan.(2:263).*/Ridho el Faiz

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Waktu Doa Mustajab

Waktu Doa Mustajab

Juru Bicara Sekularisme

Juru Bicara Sekularisme

Imam Bukhari dan Uang Seribu Dinar

Imam Bukhari dan Uang Seribu Dinar

Lima Indikator Kesengsaraan Menurut Fudhail bin Iyadh

Lima Indikator Kesengsaraan Menurut Fudhail bin Iyadh

Saatnya Berikrar,  “Isyhadu Bi Anna Muslimun”

Saatnya Berikrar, “Isyhadu Bi Anna Muslimun”

Baca Juga

Berita Lainnya