Selasa, 30 November 2021 / 24 Rabiul Akhir 1443 H

Oase Iman

Ujian dalam Menapaki Perjuangan

ilustrasi
kisah Ka’ab bin Malik di atas hanyalah sepenggal dari episode kehidupan orang-orang beriman. Betapa mereka akan terus diuji dalam menapaki perjuangan ini
Bagikan:

API dalam tungku Ka’ab bin Malik Radhiyallahu anhu masih berkobar hebat. Dalam sekejap, jilatan api itu sanggup menelan sobekan kertas yang dilempar Ka’ab. Di hadapan api yang kian meninggi, jiwa Ka’ab benar-benar ikut menggelegak. Bergolak memberontak.

Hari itu Ka’ab baru saja menerima sepucuk surat dari Raja Ghassan, sang Penguasa Romawi. Ia ditawari untuk meninggalkan kota Madinah demi meraih kebebasan. Sekaligus menyelamatkan dirinya dari belenggu sanksi boikot yang diserukan Nabi Muhammad kepadanya.

Selama 50 hari 50 malam, Ka’ab menjalani hukuman pengucilan (pemboikotan) dari Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘aiahi Wassalam. Ia dianggap sengaja meninggalkan perintah jihad atas kaum Muslimin pada peristiwa Perang Tabuk.

Untuk itu ia diboikot. Seluruh kaum Muslimin Madinah tidak boleh berbicara dengannya hingga batas waktu yang belum ditetapkan.

Hingga beberapa saat, aura kebimbangan itu tampak merona di wajah Ka’ab. Ia benar-benar didera kegoncangan yang sangat.

Dilema di antara dua pilihan yang tak mudah. Menerima hukuman dari Nabi dengan perasaan terkucilkan dari seluruh masyarakat Madinah, bahkan dari istri dan keluarga sekalipun. Atau menerima pinangan Raja Ghassan yang tak bisa ia pungkiri, datang di waktu yang tepat. Dilema antara menyelamatkan keimanan yang lagi diterpa badai kerisauan atau meraih “kebebasan” yang menjadi dambaan setiap jiwa yang merdeka.

Kisah Ka’ab diabadikan dalam Al-Quran Surat at-Taubah [9]: 117-129.

Jalan Terjal

Sejak awal diciptakan, gemerlap dunia senantiasa menyisakan godaan kepada manusia. Tak pandang siapapun dia, rayuan dunia kan selalu datang mendayu. Kecendrungan (syahwat) tersebut adalah fitrah bagi manusia. Itulah garis yang ditetapkan Allah dalam kehidupan ini.

Sudah sunnatullah, jika seseorang bersinggungan dengan materi dan kesenangan dunia, maka yang termanjakan sebenarnya adalah hawa nafsu. Sebab di sana telah menanti kenikmatan buat jiwa manusia.

Tak heran, jalan kebaikan itu diliputi dengan berbagai onak dan kesulitan. Ia sarat dengan tantangan yang butuh perjuangan dalam melewatinya. Sebaliknya, pada jalan keburukan justru yang terpampang adalah berbagai kemudahan. Di kanan kirinya boleh jadi bertabur bunga yang semerbak mewangi. Olehnya, jamak terjadi orang-orang lantas lebih memilih jalan pintas tersebut.
Alih-alih bersabar menapaki pendakian nan terjal, mereka lalu berlomba menuruni jalan yang mudah tadi. Allah berfirman,

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu.” (Surah al-Balad [90]: 10-12).

Inilah jalan terjal orang-orang beriman di dunia. Segala pahala kebaikan itu ternyata berbungkus dengan hal yang tidak disukai oleh nafsu manusia.

Ibarat menelan obat, sebelum seseorang beroleh kesembuhan ia juga harus rela menelan kepahitan yang pekat. Sebaliknya, tak ada yang “aneh” jika orang itu terjerembab dalam lembah kemaksiatan. Sebab dalam diri manusia terselip potensi fujur (keburukan) yang setiap saat merayu untuk dimanjakan oleh nafsu itu sendiri.

Alhasil, kisah Ka’ab bin Malik di atas hanyalah sepenggal dari episode kehidupan orang-orang beriman. Betapa mereka akan terus diuji dalam menapaki perjuangan ini. Benteng keimanan menjadi target sasaran yang terus dibombardir oleh berbagai macam syahwat dan syubhat. Sebuah perseteruan abadi dalam jiwa manusia antara potensi takwa (kebaikan) dan dorongan fujur (keburukan). Sekaligus sebagai ajang pembuktian di antara orang-orang beriman, siapa gerangan pemilik amalan-amalan terbaik (ahsanu amalan) tersebut.

Hari ini, derasnya arus budaya Barat yang kian menggurita menjadi pe-er (PR) khusus  bagi umat Islam. Para orangtua dituntut mampu memberikan imun yang ampuh bagi anak-anaknya. Menanamkan kepada mereka nilai mahal keimanan dalam kehidupan dunia. Sebagai harga mati yang tak boleh ditawar oleh seorang Muslim. Manusia hanya bernilai di hadapan Allah jika keimanan itu kokoh dalam diri.*/Masykur Abu Jaulah

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

kalimat tauhid

Generasi Syahadat, Generasi Tahan Uji (1)

Khutbah Jumat: Lima Langkah Mengelola Perbedaan

Khutbah Jumat: Lima Langkah Mengelola Perbedaan

Membersihkan Hati dengan Terus Memperbarui Iman

Membersihkan Hati dengan Terus Memperbarui Iman

Adab Islam dalam Bertetangga

Adab Islam dalam Bertetangga

Jangan Hidup Seperti Ayam dan Burung

Jangan Hidup Seperti Ayam dan Burung

Baca Juga

Berita Lainnya