Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

Antara Hari Raya dan Patroitisme Kemerdekaan

Bagikan:

Oleh: Falah Abu Ghuddah 

RAMADHAN kini telah meninggalkan kita. Bulan ketaatan, bulan puasa dan bulan Quran itu kini telah “tutup buku”. Beruntunglah orang-orang yang telah mengoptimalkannya serta merugilah mereka yang menyia-nyiakannya. Ibarat sebuah pasar, yang padat seketika namun ia akan sepi sesaat kemudian. Beruntunglah orang-orang yang bisa memanfaatkannya dan merugilah mereka yang hanya berpangku tangan.

Pertanyaan setelahnya adalah, apa yang kita lakukan setelah sebulan kita dilatih dan ditempa di bulan tarbiyah ini? Bagaimana kita mempertahankan serta meningkatkan nilai-nilai Ramadhan yang telah kita raih setelah satu bulan bertaqrrub pada Allah? Lalu hari raya yang lazim ada setelah Ramadhan seperti apakah yang ada dalam Islam? Bagaimanakah seorang pejuang yang sukses dalam menyambutnya?

Allah memberikan sebuah pesan yang sangat berharga dalam Surat An-Nahl ayat 92 bagaimana kita merayakan hari raya dan masa kemenangan dalam hidup kita.

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.”

Ayat ini memberikan perumpamaan pada kita bagaimana seorang perempuan yang biasa menguraikan benang, berkreasi serta hampir membuat baju darinya namun sebelum usai perempuan tersebut menguraikan benang yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. Hal serupa banyak kita temukan usai Ramadhan, di mana para jiwa-jiwa yang sudah mensucikan diri selama satu bulan mulai mengotori serta melumurkannya dengan dosa dan kemaksiatan. Seakan perubahan dan keberhasilan yang telah diraih dengan susah payah sirna seketika itu. 

Sewajarnya kita memang boleh bergembira dengan kemengan yang kita raih setelah bulan Ramadhan. Namun selebrasi kemenangan yang sering kita sebut hari raya ini berbeda dengan hari raya (ied) pada umat non-Islam. Hari raya dalam Islam tidak hanya bermuatan hura-hura, canda tawa serta bersenang-senang sebagaimana yang ada pada umat lain namun lebih dari itu Islam memasukkan nilai-nilai syariat serta beberapa muatan penuh hikmah di dalamnya.

Dalam Islam hari kemenangan tidak dilakukan sebatas momen-momen yang bersifat duniawi atau pada hal yang bersifat sementara seperti kesuksesan dalam ujian, perayaan hari-hari bersejarah dan hal semisalnya namun jauh dari itu ia menjadi sangat istimewa karena kita merayakannya setelah sukses melakukan perintah-perintah wajib Allah. Iedul fitri kita rayakan usai melakukan perintah puasa, sedangkan iedul adha sendiri kita sambut usai melukakan ibadah haji setiap tahunnya.

Hari raya (Ied) dalam Islam juga tidak hanya dirasakan oleh sebagian kelompok sebagaimana yang ada pada perayaan lainnya, misalnya hari raya ibu lebih dirasakan oleh para ibu saja, hari buruh terbatas pada buruh saja, hari Revolusi hanya bangsa tertentu saja. Namun hari raya Islam menyentuh seluruh kelompok dan golongan, dirasakan semua usia karena hari yang bahagia dan kesenangan ini berkaitan dengan pelaksanaan ibadah di mana setiap individu dituntut untuk melaksanakannya.

Nabi Muhammad pernah berpesan pada salah seorang sahabatnya (Abu Dzar al-Ghifari);

اتق الله حيثما كنت، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن.

“Bertaqwalah kamu di mana pun kamu berada, iringkan perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik niscaya ia akan menghapusnya, dan bergaulah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Imam Tirmidzi dan Ahmad)

Tiga pesan Nabi tersebut hendaknya ada pada setiap momen Muslim yang telah sukses menempuh masa juang di medan Ramadhan. Bila kita lihat sesaat ternyata pesan pertama sangat sesuai misi puasa yaitu menjadi pribadi yang bertakwa (la’allakum tattaqun). Karena tidak ada yang dapat menjamin kesuksesan puasa sesorang selain ketakwaan dan muroqabahnya pada Allah. Sifat takwa ini yang akan membawa merasa selalu diawasi dan takut pada Allah karena pejuang yang sebenarnya adalah orang-orang yang selalu berjuang demi agama dan Tuhannya bukan karena manusia atau dunia.

Dari sifat takwa inilah timbul rasa ihsan dan muroqobah yaitu kita dapat beribadah seakan Allah melihatnya atau walau pun tidak, maka paling tidak kitalah yang dapat  merasakan bahwa kita melihat-Nya. Sifat ini juga yang akan melahirkan jiwa-jiwa patriot di mana ia akan sangat takut melakukan perbuatan yang dilarang agama karena ia selalu merasa bahwa ia selalu berada dalam pengawasan Allah. Ia juga akan selalu berusaha untuk melakukan ibadah semaksimal mungkin karena keyakinannya yang sangat kuat terhadap rahmat dan anugerah Tuhannya. Karena pejuang yang hakiki bukanlah mereka yang mengharap jasa dari manusia, dia juga bukanlah yang hanya takut pada pengawasan manusia. Karena semua itu amatlah terbatas nilainya. Berbeda dengan balasan dan pengawasan Allah yang tanpa batas.

Dalam hadis tersebut kita juga mendapatkan rosul menegaskan bahwa takwa tidaklah terbatas dalam tempat tertentu serta waktu tertentu. Dengan sabda beliau haistu ma kunta (di mana pun kamu berada). Maka ketakwaan tidak terbatas pada tempat ibadah saja seperti musholla, masjid dan sekolah saja namun ia juga harus berada di kantor, di pasar, di ladang serta di segala tempat. Sebagaimana ia juga tidak terbatas pada masa tertentu, di mana ia tidak hanya ada pada bulan puasa (Ramadhan) saja, atau bulan haji (Dzulhijjah) saja namun ia harus ada pada bulan Muharram hingga bulan Dzulqo’dah dari Januari hingga Desember.

Adapun pesan kedua Nabi yaitu hendaknya selalu mengiringi perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik karena ia akan menghapusnya. Ini mengisyaratkan pada kita agar jangan pernah berpuas diri dengan kemenangan dan kesuksesan yang telah kita raih karena The real winner adalah mereka yang dapat mempertahankan kemenganan yang ia raih.

Nabi memerintahkan kita untuk selalu menutupi kekurangan dengan kebaikan dengan kata lain beliau juga memerintahkan kita agar terus berbuat baik (istiqomah dalam ketaatan) karena salah satu bukti diterimanya sebuah ketaatan adalah dengan konsisten di jalan itu serta semakin meresponnya sebagaimana salah satu tanda ditolaknya ibadah dengan berhenti dan berpaling darinya (maksiat). Semua ini dapat dicerminkan dari ibadah puasa di siang hari yang kemudian dilanjutkan dengan taraweh di malamnya. Usai melaksanakan ibadah shiyam (puasa) dan qiyam (sholat tarawih) pada bulan Ramdahan tak membuat kita merayakan kemenangan dengan maksiat namun kita diperintahkan untuk terus istiqomah dalam ketaatan dengan ibadah lain berupa zakat fitr dan sholat ied.  

Pesan ketiga dalam hadis tersebut adalah selalu baik dalam pergaulan sesama kita. Pesan moral yang selalu kita dapat dalam Islam adalah bahwa ia agama rahmat pada semua umat. Karena ia merupakan agama adab dan akhlak. Sebagaimana kita tahu bahwa Islam tidak hanya mengandung komponen keyakinan (iman) serta ibadah (Islam) saja namun ia juga mengandung komponen lainnya yaitu akhlak (ihsan).

Dalam perayaan iedul fithri sendiri kita dapat mengerti bahwa pejuang yang sejati bukanlah dia yang dapat melawan dirinya sendiri saja lalu merasa senang serta lupa orang-orang sekitarnya namun pahlawan adalah mereka yang dapat selalu berbagi kesenangannya dengan orang lain. Karena orang yang paling bermanfaat adalah mereka yang paling banyak dirasakan manfaatnya oleh orang lain (khoirun nas anfa’uhum linnas) dan itu semua tidak dapat terwujud tanpa jiwa berbagi.

Semua ini kita fahami dari perintah Allah untuk membayarkan zakat fitr kepada fakir miskin usai kita menyempurnakan ibadah puasa, juga perintah Allah untuk menyembelih kurban sesudah pelaksanakan ibadah haji. Maka tak heran bila dalam Al-Quran sendiri kita selalu mendapatkan perintah zakat setelah perintah sholat (wa aqiimush sholah wa atuz zakah). Ini semua menandakan bahwa selain kita dituntut untuk melakukan ibadah individu seperti sholat dan puasa kita juga diingatkan untuk melakukan ibadah sosial seperti zakat dan berkurban.

Dalam lebaran juga kita dididik untuk berbagi, peduli dan merangkul sesama. Bila pada bulan Ramadhan kita beribadah berpuasa di mana kita dilatih untuk merasakan kesusahan orang lain, kita juga dianjurkan untuk memberikan makanan berbuka pada orang lain dengan dijanjikan pahala yang sama dengan orang berpuasa sendiri. Pada bulan lebaran dengan pembayaran zakat fithri kita juga dilatih untuk merasa seperjuangan dan sepenanggungan, tidak dapat berbahagia sementara saudara kita menderita.

Begitu juga halnya yang terjadi pada ledul Adha, selain kita dilatih untuk merasakan persamaan dan persaudaraan saat berhaji kita juga diperintahkan untuk saling berbagi, mengungkapkan rasa syukur kita dengan menyembelih qurban bersama.

Bila kita lebih cermati ternyata selain memerintahkan untuk ibadah Islam juga menekankan sisi akhlak dan kemanusiaan. Dalam ibadah sholat selain diperintahkan kita diperintahkan untuk menyembah Allah kita juga agar shalat itu dapat mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.

“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS: Al-‘Ankabut: 94)”

Begitupula pada ibadah puasa, zakat dan haji sebagaimana yang telah kami sampaikan sebelumnya. Maka bila kita perhatikan ternyata Islam selalu membawa misi kemanusiaan selain misi ibadah karena untuk menjadi seorang kholifah di muka bumi seorang Muslim dituntut untuk cakap secara vertical dan horizontal. Dibentuk pemimpin yang berkarakter dan pejuang yang solider. Mudah-mudahan latihan dan pendidikan yang kita tempuh selama puasa dan diteruskan dengan lebaran dapat kita lanjutkan pada masa-masa selanjutnya. Wallahu a’alam bi showab.*

Rep: -
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Sungguh! Masa Tidur Telah Habis

Sungguh! Masa Tidur Telah Habis

Masihkah Ramadan Bersama Kita?

Masihkah Ramadan Bersama Kita?

Hikmah Puasa Tasu’a dan Hari Kesebelas Muharram

Hikmah Puasa Tasu’a dan Hari Kesebelas Muharram

Kaum Madyan dan Akibat Kecurangan

Kaum Madyan dan Akibat Kecurangan

Musyawarah dan Demokrasi

Musyawarah dan Demokrasi

Baca Juga

Berita Lainnya