Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

Menjaga Keberkahan Waktu

Bagikan:

Oleh: Ali Akbar Bin Agil

TIDAK terasa tahun 1433 H akan segera berakhir. Esok, jika Allah Subhanahu Wata’ala masih memberi kita umur, kita berada di tahun baru, tepatnya tanggal 1 Muharram tahun 1434 H. Suka duka sudah banyak kita lewati dalam mengisi lembaran sejarah hidup pada tahun sebelumnya. Ada kebaikan yang sudah kita upayakan dan tak sedikit kesalahan yang terjadi.

Waktu berjalan begitu cepat. Waktu tidak pernah berhenti sejenak atau memberi kesempatan kepada umat manusia untuk beristirahat. Ia tetap berjalan mengikuti aliran takdir Tuhan.

Siapa yang tak sanggup mengatur waktunya, niscaya ia akan tergilas dalam nestapa. Dan barangsiapa yang mampu mengatur waktunya, ia akan tampil menawan sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menyampaikan pemberitahuan tentang siapakah sosok yang beruntung, rugi, dan celaka. Ketiga sosok ini dihubungkan dengan efektifitas waktu.

Manakala seseorang beramal dengan lebih baik dari hari kemarin, ia beruntung. Jika sama, tidak lebih maupun kurang, ia rugi. Celakanya, jika lebih buruk dari sebelumnya.

Pada kesempatan lain, Rasulullah menyifatkan cepatnya perjalanan waktu kehidupan di dunia ini seperti perjalanan seorang musafir yang hanya berhenti sejenak di bawah pohon di tengah perjalanan yang amat panjang. Permasalahan terbesar kita adalah ketika kecepatan umur dan waktu hidup tidak sebanding dengan kegesitan kita dalam menyelamatkan diri dari penderitaan abadi di akhirat, karena perbuatan munkar yang kita lakukan.

Seseorang yang memanfaatkan waktu dengan baik pasti melihat hasilnya, baik secara lahir maupun batin, jasmani ataupun rohani. Orang yang melewatkan banyak waktunya dengan pergi ke sawah, misalnya, akan bisa terlihat dari warna kulit, cara berpakaian, dan perilakunya sehari-hari. Begitu pula dengan orang yang mengatur waktunya dengan baik.

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…” (QS: Al-Fath: 29).

Pengikut Rasulullah memiliki nur (cahaya) karena rutinitas sujudnya kepada Allah. Keberkahan waktu dapat kita sadari ketika waktu yang singkat ini dapat menghasilkan banyak amal.

Banyak contoh yang bisa kita jadikan sebagai panutan.

Lihatlah Imam Nawawi, usianya sekitar empat puluh tahunan tapi ilmunya bermanfaat hingga detik ini, jutaan umat Islam mendulang keberkahan ilmunya lewat torehan karya-karya beliau semasa hidupnya yang singkat itu.

Ada pula contoh menarik. Habib Abdullah bin Husain bin Thahir, begitu ketatnya beliau dalam mengatur waktu hingga dalam urusan makan dan minum dilakukannya dengan mencampur keduanya di sebuah tempat layaknya bubur. Beliau “terpaksa” melakukan hal ini karena khawatir waktunya terkuras sia-sia hanya gara-gara urusan makan dan minum. Sementara sisa waktunya yang lain beliau isi dengan belajar, berdzikir, dan beribadah kepada Allah.

Imam Abdullah bin Alwi Al Haddad dalam bukunya “Risalah Al-Mu`awanah” mengatakan, “Tiap hembusan nafasmu adalah permata yang tak ternilai harganya, tidak ada duanya. Jika hilang ia tak akan kembali lagi selama-lamanya.”

Ungkapan ini mengajak kita untuk memakmurkan waktu dengan aneka kegiatan yang berasas manfaat, sehingga tiap saat yang berlalu bernilai tambah sejak bangun tidur hingga tidur kembali. Pengaturan waktu yang efektif akan membuat hidup menjadi baik dan terhindar dari kesemerawutan.

Menurut Imam Abdullah Al Haddad, tanda orang yang tidak bisa istiqamah dalam sebuah perbuatan adalah ketika ia sudah tidak lagi menghargai waktu. Jika kita menghargai waktu yang ada, pekerjaan duniawi akan mampu diselesaikan dengan memuaskan, lebih-lebih dalam urusan akhirat.

Ingatlah betapa sering kita membaca Al Quran sekenanya saja agar kemudian bisa melakukan kesenangan-kesenangan yang tidak ada kaitannya dengan kebaikan di sisi Allah. Ingatlah ketika usia yang sangat terbatas itu tidak berfungsi sebagai pelindung diri kita dari beratnya siksa Allah swt. Sadarilah tatkala kita tahu bahwa hembusan dan tarikan nafas kita tak lagi berimbang dengan dengan upaya serta jihad kita untuk terhindar dari lubang kemurkaan Allah Subhanahu Wata’ala.

Lihatlah ayam dalam menjaga mutu waktu hidupnya dengan penuh kemanfaatan. Ia bangun sebelum azan sebelum berkumandang sebagai tamsil seorang hamba Allah yang tengah bersiap-siap melaksanakan shalat subuh, lalu ayam keluar dari kandangnya yang merupakan gambaran seseorang yang bekerja. Ayam juga tidak pernah risau dengan rezeki yang merupakan sikap tawakkalnya, seakan ia berkata, “Jika aku ditakdirkan hidup, berarti jatah rezekiku masih ada di hari esok.”

Waktu adalah umur kita

Waktu cepat berlalu. Mengalir tak pernah berhenti. Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, bergerak. Waktu tak dapat ditunda, tak dapat ditahan dan tak mungkin ada yang mampu mengulang. Itu artinya, usia kita pun berkurang. Kita semakin dekat ke liang lahat.

Waktu kita adalah adalah umur kita. Umur berjalan seiring dengan berlalunya waktu yang semakin berkurang dari hari ke hari, bahkan di tiap detik. Umur adalah modal kita, yang dari modal ini seharusnya kita dapat lebih memperoleh keuntungan dan daya guna. Umur yang bermanfaat akan menjadi jembatan menuju kenikmatan yang abadi.

Umur atau usia bisa kita andaikan dengan tiga botol. Botol pertama diisi minyak sebanyak botol tersebut. Botol kedua diisi minyak hanya setengahnya dan botol ketiga hanya diisi minyak seperempatnya. Setelah itu, ketiga botol yang masing-masing sudah diisi minyak dengan kadarnya masing-masing, dimanfaatkan sebagai lampu minyak.

Botol yang terisi seperempat minyak akan redup terlebih dahulu, kemudian botol yang terisi separuh, adapun botol terakhir yang terisi penuh paling lama menyala lampu minyaknya. Hal ini memberi pelajaran tentang ketidaktahuan kita apakah usia kita berhenti ‘menyala’ di usia tua? Saat dewasa atau justru ketika masih muda belia?

Oleh karena itu, jangan lewatkan umur dengan sia-sia. Mari bekerja keras untuk mencari pahala, meraih rahmat dan ampunan Allah Subhananu Wata’ala sebanyak-banyaknya, mulai sekarang juga.

Mari memperbanyak dzikir, sedekah, jihad, dan melakukan amal-amal shalih. Tak ada kata terlambat untuk melakukan kebajikan. Semoga Allah meneguhkan hati dan semangat kita untuk melakukan amal kebaikan.*

Pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Kota Malang

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Tutupnya Masjid Kami

Tutupnya Masjid Kami

Seakan-akan Kubur Telah Dekat (1)

Seakan-akan Kubur Telah Dekat (1)

Jujur dalam Sejarah

Jujur dalam Sejarah

Didi Kempot dan Sebuah Kematian

Didi Kempot dan Sebuah Kematian

Tidak Ada Adzab Seberat Adzab Kaum Nabi Luth

Tidak Ada Adzab Seberat Adzab Kaum Nabi Luth

Baca Juga

Berita Lainnya