Kamis, 25 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

Selaksa Ibrah Peristiwa Hijrah

Bagikan:

Oleh; Ahmad Arif Ginting

SESAAT lagi umat islam di seluruh dunia akan sampai pada akhir dari tahun 1433 H dan kemudian memasuki tahun baru 1434 H. Tidak terasa begitu cepat masa satu tahun itu berlalu. Masalah demi masalah masih terus menghantui umat islam di berbagai belahan dunia. Umat islam selalu saja dijadikan objek dari sandiwara di atas panggung demokrasi. Umat islam –khususnya di Indonesia- memang mayoritas secara statistik, namun minoritas di gelanggang politik.

Tulisan berikut ini berupaya menghadirkan selaksa ibrah dari peristiwa paling momumental di awal terbitnya fajar al islam untuk direnungkan kembali, lalu mengaktualisasikannya dalam praksis kehidupan sehari hari dimulai dari diri sendiri, keluarga inti, sanak family dan masyarakat sekitar tempat berdomisili.

Sejarah Perayaan Hijrah

Dalam bukunya “Islam Idealitas Islam Realitas”, Prof. Dr. H. Mohammad Baharun mencatat, pada tahun 1976 dilaksanakan sidang ketujuh Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang diikuti oleh para Menteri Luar Negeri negara anggota -organisasi itu- di kota Istanbul. OKI saat itu memiliki anggota empat puluh lima negara, 22 di antaranya adalah negara Arab dan selebihnya negara-negara Asia dan Afrika.

Atas usulan Komisi Sosial dan Budaya OKI, konferensi Istanbul itu menghimbau agar negara anggotanya merayakan 1 Muharram dengan kegiatan festival yang meriah. Sebelum itu, Sekretariat Jendral Islam untuk perayaan hari-hari besar islam yang bermarkas di London telah lebih dahulu mengumumkan dunia islam agar dalam menyambut tahun baru hijriah segenap umat islam seantero dunia memeriahkannya dengan perayaan yang bermanfaat.

Tentu saja perayaan itu dimaksudkan untuk mengilhami para pemikir dan cendikiawan muslim untuk mengingatkan penelitian mereka dikaitkan dengan peranan tahun hijriah tersebut. Paling tidak supaya mereka sadar bahwa peranan islam dalam kemajuan bidang-bidang sains, ekonomi dan social sepanjang sejarah tidaklah kecil.

Namun demikian, sudah pasti memperingati 1 Muharram dalam abad 15 Hijriah ini umat jangan sampai Cuma ‘berkutat’ pada masalah penanggalan kalender saja. Yang penting tentu, bagaimana mengisi event itu dengan segala macam kegiatan yang bermanfaat buat masyarakat luas.

Pembuktian Iman

Tak ada suatu kata yang menyiratkan makna demikian kuat seperti kata hijrah yang merupakan salah satu dari tiga amal islami seperti ditegaskan dalam Al Quran (QS; al-anfal [8]: 74) berikut;

وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ آوَواْ وَّنَصَرُواْ أُولَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِي

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah dan orang-orang yang meberi tempat kediaman dan meberi pertolongan (kepada kaum muhajirin), mereka itulah orang-orang yang beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki yang mulia.”

Tak ada perjuangan seberat hijrah dan tak ada pengorbanan setulus hijrah. Bertolak dari iman, seorang hamba memutuskan pilihan sulit; diam di tempat dengan kehinaan, iman yang tidak produktif dan masa depan yang sangat gelap; atau ‘berangkat’. Pilihan iman saja sudah menuntut keberanian.

Berani berbeda dari seluruh bangsa yang masih terbelenggu, menuntut pengorbanan, dari ‘bubar jalan’ karena kelemahan mereka yang kerap kagum dengan konsep islam tetapi terbelenggu oleh rasa takut atau gengsi, sampai makar pemenjaraan, pengusiran atau pembunuhan (QS. 8;30);

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُواْ لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” [QS: al-Anfal [8]: 30]

Menggetarkan Status Quo

Hijrah bukanlah (seperti) anggapan naik, ‘sebuah keterpaksaan mengamankan diri’. Ia sebuah aksioma abjadiyat pembangunan Islam yang harus sampai ke dzirwatu sanamih (puncak bangunannya) yaitu jihad.

Pada detik-detik awal tibanya rombongan hijrah Rasulullah, mengapa ada pembangunan base-camp dan masjid sebagai pusatnya? Mengapa pula kaum Quraisy masih tetap memburu mereka –hingga- di Madinah?

Mengapa ada muakh (mempersaudarakan) antara Muhajirin dan Anshar? Mengapa ada pembangunan pasar Muslimin dan sekian lagi institusi?

Jawabnya adalah karena dua kalimah syahadat sendiri -dengan tegas- menyuratkan dan menyiratkan kekuatan pesan pembebasan, menggetarkan pendukung status quo jahiliyah.

قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَداً

“Katakanlah, “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.” (QS: Jin [72]: 20)

Tiga “Kelas”

Hijrah melahirkan kelas, bukan berbasis fatalisme konflik protelar vis a vis borjuis dan kapitalis. Tetapi pada iltizam (komitmen), wala (loyalitas) dan tadhhiyah (pengorbanan) yang terekam dengan jelas pada tiga hal berikut ini.

Pertama, Muhajirin yang meninggalkan Makkah, merelakan begitu banyak yang sepatutnya disedihkan; tanah air, keluarga, kekayaan, harapan dan masa depan. Mereka menuju Madinah yang dalam parameter materialism penuh masalah; masa depan yang tidak jelas, iri dan benci Yahudi, munafiqin dan nashara (Kristen) Rum, perasaan menjadi beban orang lain dan seterusnya.

Dalam “Al Hijrah fi al-Qur’an”, Dr. Ahzami Samiun Jazuli, MA menukilkan riwayat dari Tarmidzi dan Ibnu Majah.

“Di Jazurah, di pasar Makkah Rasulullah berhenti sejenak melantunkan perasaan paling dalam: “Demi Allah, engkaulah bumi Allah terbaik dan paling dicintai-Nya, kalaulah aku tidak dipisahkan darimu niscaya takkan daku keluar meninggalkanmu,” demikian tulis dalam buku itu.

Kedua, kaum Anshar menerima saudara Muhajirin mereka dengan penuh kecintaan yang dibuki nyatakan dengan menyediakan modal usaha untuk Muhajirin, menyiapkan hunian untuk mereka berteduh. Bahkan , diri mereka sendiri menjadi benteng dan perisai bagi muhajirin.
Ketiga, tabi’in (generasi pelanjut) yang arif, serius dan tulus.

Hijrah tidak menyisakan bagi pengecut, pemalas, penghasud dan semua yang berfikiran sempit. Ruang hijrah hanya bagi tiga kaum; Muhajirin dan semua pengambil inisiatif; Anshar dan semua pembela dengan jiwa, raga dan harta; para tabi’in dan pendukung sesudah mereka. Selebihnya, bila masih ada itulah ruang keterasingan bagi iman dan ruang kegelapan bagi kejujuran.

Seleksi “Alami”

Hijrah bukan hanya perpindahan dari wilayah ancaman ke wilayah aman, tulis almarhum KH Rahmat Abdullah (2008; 125-127). Ia adalah seleksi “alami” yang akan membuktikan kekuatan seseorang atau sekelompok hamba Allah untuk menjadi pemimpin. Siapa yang diam, dia takkan menjadi besar. Siapa yang menghalangi gerak, mereka akan terlindas.

“Al harakah fiha barakah”, dalam gerak ada berkah. Para Muhajirin telah memulainya dengan benar; suatu perpindahan yang beranjak dari kesadaran dan bukan dari kemarahan. Sadar bahwa iman itu punya nilai tinggi yang hanya dapat dibuktikan dengan pengorbanan. Jiwa dan semangat hijrah dengan dinamika, tantangan dan kepedihannya yang beragam mempunyai satu mata air dari telaga yang sama, “Inni Muhajirun Ila Rabbi” (aku berangkat menuju Rabbku).

Bukan kebetulan bila susunan bulan dalam perhitungan tahun hijriah diakhiri dengan bulan haji dan dimulai dengan bulan muharram sebagai pembuka tarikh hijri. Haji yang bagi sebagian kita berarti tamatnya islam, justru menjadi puncak pagi pendakian berikutnya. Hijrah menjadi milestone (batu loncatan), menjadi munthalaq (titik tolak) keagungan syariah yang abadi.

Inilah mozaik kejujuran, keikhlasan, kesabaran, pengorbanan, harapan dan kekuatan. Hijrah ialah keutuhan harga diri. Sekeping tanah bersama kemerdekaan di rantau, lebih berharga dari pada tinggal di negeri sendiri dengan kehinaan, tak dapat mengekspresikan iman. Inilah terjemahan hakiki sifat islam yang ‘alamiyah (semestawi) tak tersekat oleh batas-batas sempit kesukuan dan kebangsaan. Kecuali perjuangan kebangsaan bertujuan menyelamatkan dzawil qurba (keluarga, sanak kerabat). Wallahu a’lam.*

Penulis adalah pendiri pustaka RUMAN (Rumoh Baca Aneuk Nanggroe) Banda Aceh

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Dicari Pemuda Pemburu Syurga

Dicari Pemuda Pemburu Syurga

Pelajaran dari Wanita Pelit

Pelajaran dari Wanita Pelit

Muadz bin Jabal; Hakim Penuh Hikmah

Muadz bin Jabal; Hakim Penuh Hikmah

Ber-Islam dengan Ber-Iqro

Ber-Islam dengan Ber-Iqro

Menjadi Manusia Pilihan

Menjadi Manusia Pilihan

Baca Juga

Berita Lainnya