Tak Ada Kamus Istirahat Mendakwahkan Islam

Masih kah kita dininah-bobokkan oleh angan-angan tak berujung. Padahal dari kanan-kiri dan atas-bawah musuh Islam sudah merangsek masuk

Tak Ada Kamus Istirahat Mendakwahkan Islam

Terkait

SIAPA saja yang mau menelaah Al-Qur’an secara jeli, pasti akan menemukan peringatan Allah Subhanahu Wata’ala tentang “kebencian” dan “ketakutan” kaum kafir terhadap Islam (islamophobia). Bentuk kebencian ini tidak akan pernah berakhir dan akan terus berulang dan berulang hingga yaumul qiyamah. Kebencian itu begitu mendalam. Sebagaimana saat ini, ketika Islam saat ini benar-benar menjadi bulan-bulanan mereka. Islam “diserang” dari berbagai sudut dan dari segala penjuru.

Islamophobia itu sudah diramalkan oleh Rasulullah sejak beliau masih hidup. Umat Islam memang akan menjadi sasaran yang tak habis-habisan.

Rasulullah meramalkan, “Hampir tiba saatnya persatuan bangsa-bangsa memperebutkan atas kamu sekalian sebagaimana bersatunya orang-orang yang berebut makanan yang ada dalam nampan. Seorang sahabat bertanya Apakah karena sedikitnya jumlah kita pada sa’at itu Ya Rasulullah? Beliau bersabda: “Bahkan jumlah kalian saat itu sangat banyak, tetapi kalian bagaikan buih yang mengalir diatas lautan. Dan sungguh Allah Swt akan mencabut dari dada musuh–musuh kalian rasa takut terhadap kalian. Serta dia akan memunculkan penyakit al-wahnu dalam hati kalian. Seorang sahabat bertanya: “Ya Rasulullah apakah al-wahnu itu? Beliau menjawab, “Terlalu cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud, hadis Shahih: 4297).

Jika kita renungkan sabda Nabi di atas, akan jelas bahwa penyakit kebencian kepada Islam bukan saja memang sifat dasar mereka yang iri kepada agama yang mulia ini, tetapi juga karena penyakit yang diidap oleh kaum Muslimin sendiri. Penyakit itu namanya al-wahn, kata Rasulullah saw. “Terlalu cinta kepada dunia dan (akhirnya) takut mati.”

Bukti dari kronisnya penyakit al-wahn ini tampak dari perilaku umat Islam yang semakin hari semakin hedonis. Para pemimpin hidupnya begitu glamor. Zuhud tidak menjadi kamus sehari-hari. Sekali hidup, puas-puaskan lah menikmati dunia dan menumpuk harta-kekayaan. Maka wajar banyak pemimpin yang nota-bene Muslim tidak punya ‘gigi’ ketika berhadapan dengan kepentingan dan kebijakan Barat.

Padahal, zuhud bukan berarti meninggalkan dunia. Ia hanya sikap memenej duniawi agar berada di tangan, bukan masuk ke dalam hati. Kalau sudah merasuk ke dalam hati, amat sulit untuk keluar. Itu yang menyebabkan banyak dari kita akhirnya “takut mati”, karena sudah menganggap dunia ini segala-galanya. Kondisi ini lah yang dijadikan sasaran empuk orang-orang yang sudah lama memendam benci terhadap Islam. Karena mereka tahu benar umat Islam sangat lemah di hadapan glamor duniawi.

Akibat terjangkitnya penyakit al-wahn itu, membuat musuh-musuh Islam tak lagi gentar berhadapan dengan kaum Muslim. Wibawa umat begitu hancur: luluh-lantakkan di hadapan hegemoni pemikiran, budaya, dan kepentingan mereka.

Dari Chechnya, Iraq, Libya, sampai Palestina, umat Islam seolah menjadi buruan. Alasannya sederhana: Iraq tidak demokratis, Chechnya memberontak, Libya presidennya otoriter dan Palestina dihuni “teroris” dan membahayakan kepentingan Israel dan Amerika. Padahal alasan dasar sesungguhnya bukanlah itu. Yang benar, “Umat Islam memang harus dilenyapkan. Karena ajarannya menjadi batu sandungan kepentingan ideology lain, termasuk kepentingan Barat.”

Apakah pengalaman mahal belum bisa sadarkah kita akan kondisi ini?

Masih kah kita dininah-bobokkan oleh angan-angan tak berujung. Padahal dari kanan-kiri dan atas-bawah musuh Islam sudah merangsek masuk. Masuk ke jantung pertahanan umat Islam, hati. Hati kita dihabisi oleh dunia, yang perangkatnya dilahirkan dan disebarkan oleh Barat. Tapi sedikit dari kita yang menyadarinya. Memilukan sekaligus memilukan. Ironis, tapi realitas.

Kapan Mereka berhenti memerangi umat Islam? Tidak akan berhenti, kata Allah. jangan percaya kepada kata-kata manis mereka. Mereka hanya pintar ‘menanam tebu di bibir’. Untaian dan rajutan kata-kata mereka tak lebih dari lips service. Mereka pendusta. Di belakangnya banyak kepentingan. Jauh-jauh hari Allah sudah mengingatkan kita,

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

“Kaum Yahudi dan Kristen tidak akan pernah ridha terhadap kalian, sampai kalian mau mengikuti millah mereka.” (Qs. al-Baqarah (2): 120).

Millah bukan hanya dimaknai sebagai “agama”. Ia adalah cara pandang (mindset), pandangan-hidup (worldview), budaya dan tradisi. Mereka bermimpi kalau ingin mengeluarkan kaum Muslimin dari Islam. Oleh karena itu, mereka mencoba minimal orang-orang Islam – meski tetap dalam agamanya – berprilaku tidak Islam. Ini yang paling penting. Dan sepertinya, di sini, mereka sudah meraup hasil.

Allah juga sudah mengingatkan kita dalam Firman-Nya, “Mereka akan terus memerangi kalian, sampai murtad dari agama kalian, jika mereka mampu melakukannya…” (Qs. al-Baqarah (2): 217).

Siang dan malam mereka memikirkan agar agama ini hancur. Begitu lah kegigihan mereka. Maka jangan mimpi mereka akan berhenti memerangi agama ini. Karenanya umat Islam harus bangkit dan berpikir lebih cerdas. Kaum Muslim harus bangun dan sadar dari “mabuknya”, agar dapat melihat dunia dengan nyata, bukan dalam alam mimpi.

Kasus film The Innocence of Muslims dan Kartun Nabi, hanyalah bukti kecil dari sekian panjang rantai pekerjaan mereka terhadap Islam. Dan yang penting dicatat bahwa rantai penistaan dan hujatan terhadap Islam, Al-Qur’an dan Allah tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun.

Maka, kata yang pantas untuk kita semua adalah; jangan ada lagi istilah dan kamus “istirahat” bagi siapa saja yang mengaku sebagai Muslim dan Mukmin untuk mendakwahkan Islam. Jika orang lain tidak pernah istirahat “memikirkan” kita, maka apakah pantas kita mengaku lelah, cape –apalagi– cuek terhadap keadaan dan tantangan. Fa’tabiru ya ulil albab!. Qosim Nursheha Dzulhadi, penulis buku “Lezatnya Menuntut Ilmu: Begini Seharusnya Anda Menuntut Ilmu”. Mengajar di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !