Quranic Quotient; Merefleksi Pembentukan Insan Qur’ani

Tanpa tadabur Al-Quran kita tidak mungkin memahami Al-Quran dan tidak memiliki Kecerdasan Qurani

Quranic Quotient; Merefleksi Pembentukan Insan Qur’ani

Terkait

SALAH satu anugerah yang patut disyukuri adalah kecerdasan, dengan kecerdasan tersebut maka kecerdasan dapat membentuk karakter yang berkualitas serta dapat membuat menjadi pribadi yang lebih dinamis dan atraktif. Kecerdasan bak sebuah mutiara yang sangat berharga. Pembentukan kecerdasan tidak serta merta akan terbentuk sendiri tanpa proses, mulai dari masih kecil bahkan masih bayi itu sudah terdapat kecerdasan.

Lantas bagaimanakah membentuk kecerdasan yang baik dan benar?

Berbicara tentang kecerdasan yang baik dan benar, maka tentunya akan lebih relevansi dan lebih menarik jika dikaitkan dengan Al-Qur’an. Intinya adalah bagaimana membentuk pribadi muslim agar menjadi Pribadi yang Qur’ani dengan memanfaatkan Kecerdasannya sesuai dengan Al-Qur’an?

Berbicara tentang Al-Qur’an, pasti sudah mengetahui banyak tentang bagaimana Al-Qur’an bisa ada di dunia ini, tentunya kandungan dari Al-Qur’an tersebut banyak mengandung beberapa aspek yang sangat berkaitan dengan kehidupan. Alangkah baiknya dengan segala kemampuan yang ada para insan qur’ani lebih Semangat dan aktif dalam pengkajian Al-Qur’an. Jika Al-Quran terus digali kandungan maknanya dan tidak hanya dibatasi atau berhenti pada masalah-masalah diniyah (keagamaan) atau ubudiyah (peribadatan) saja, maka Al-Quran potensial membuat umat Islam menjadi cerdas dalam memahami dan menyikapi persoalan apa saja dalam kehidupan ini.

Jika kemampuan itu dimiliki, itulah yang dinamakan sebagai kecerdasan Qurani atau Quranic Quotient.

Umat Islam akan bisa hidup benar-benar sesuai dengan tuntunan Al-Quran dalam menghadapi kemajuan zaman seperti apa pun bila memiliki dan menggunakan kecerdasan Qurani ini. Hanya saja, kenyataan menunjukkan bahwa dewasa ini umat Islam sendiri masih sangat awam dan kebanyakan jauh dari Al-Quran.

Dengan kenyataan tersebut, umat Islam harus digalakkan terus untuk dekat dengan Al-Quran dan dibimbing untuk bisa membacanya dengan baik dan memahami kandungan isinya. Sebab, itulah dasar bagi dibangunnya kecerdasan Qurani itu.

Konklusi yang di ambil dari pemikiran ini ialah pentingnya dibangun dan ditumbuhkan kecerdasan Qurani itu. Kecerdasan Qurani harus dimulai sejak dini, yakni sejak anak-anak hingga terus berkelanjutan tanpa henti.

Seharusnyalah, sebagai umat Islam, tersentak dengan pertanyaan Allah Subhanahu Wata’ala melalui surah Muhammad ayat 24 ini.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Apakah Mereka tidak mentadabur Al-Quran, ataukah hati mereka telah tertutup?.”

Jangan sampai kita menjadi orang yang tertutup hatinya sehingga tidak mau mentadabur Al-Quran. Padahal, tanpa tadabur Al-Quran kita tidak mungkin memahami Al-Quran dan tidak memiliki Kecerdasan Qurani.

Telah jelas bahwasannya pembentukan kecerdasan Qur’ani itu sangatlah urgen demi membentuk pribadi Muslim yang selalu berpikir positif dan berperilaku yang sesuai dengan isi kandungan Al-Qur’an yang telah dibacanya dan dipelajari ma’nanya, maka dari itu sesuai dengan doktrin yang telah dipaparkan di atas, alangkah baiknya kaum Muslim mulai menata diri dan tazkiyatun nafs guna membersihkan karakter apatis terhadap Al-Qur’an, dan menambah karakter dinamis pada jiwa dan kalbu insan manusia sehingga terbentuklah insan yang formatif sesuai dengan Al-Qur’an atau disebut dengan Human Qur’anic.*/Mahrus Sholeh. Penulis adalah alumni asrama huffadz Zaid Bin Tsabit PP. Nurul Jadid Paiton Probolinggo dan Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !