Selasa, 19 Oktober 2021 / 12 Rabiul Awwal 1443 H

Jendela Keluarga

Childfree, Yakin Bikin Happy?

childfree
Bagikan:

Hidayatullah.com | ISTILAH  childfree sedang hangat menjadi pro dan kontra di dunia maya. Ide ini awalnya dicetuskan oleh seorang Youtuber Indonesia yang menempuh studi di Jerman. Selain dia, salah seorang artis negeri ini juga menyatakan ke publik untuk tidak ingin memiliki anak alias childfree.

Sang Youtuber beralasan bahwa memiliki anak adalah sebuah pilihan, bukan kewajiban. Dia takut tidak mampu bertanggung jawab dan malah akan melukai anaknya. Seperti yang ia jelaskan di kanal Youtube-nya, “Saya tidak merasa berkewajiban untuk melahirkan anak, saya tidak merasa harus mempunyai anak untuk menghibur diri saya sendiri. Kita tidak menemukan alasan kita harus melahirkan anak, kami bahagia.” Oleh karena itu, ia dan suaminya memutuskan ingin hidup berdua saja tanpa anak.

Sementara itu, salah seorang artis Indonesia yang pernah menempuh studi di Amerika Serikat juga mengemukakan hal yang sama. Meskipun ia masih single, ia mengungkapkan bahwa ketika menikah nanti, alih-alih ingin memiliki anak, ia lebih memilih untuk mengadopsi anak. Karena menurutnya populasi manusia di bumi ini sudah terlalu banyak.

“Aku suka melihat fakta. Dunia kita sangat over populasi. Terlalu banyak manusia yang tinggal di dunia ini. Kenapa aku harus melahirkan satu manusia lagi kalau aku bisa mengadopsi anak yang sekarang nggak punya siapapun yang menjaga mereka?” jelasnya di sebuah kanal Youtube.

Sebenarnya dari mana asal muasal ide childfree ini?

Childfree adalah istilah yang digunakan bagi perempuan yang memutuskan dan memilih tidak menjadi ibu (shedefined.com.au). Ini berbeda dengan childless yang berarti tidak memiliki anak karena keadaan dan kondisi tertentu, misalnya kesehatan.

Childfree telah lama muncul di beberapa negara Barat. Pada 1970-an, 1 dari 10 perempuan AS mengakhiri tahun subur mereka tanpa hamil sekalipun. Pada tahun 2010, angkanya naik dua kali lipat menjadi 1 dari 5 perempuan memilih untuk childfree.

Penelitian Jennifer W. Neal dan Zachary P. Neal yang dipublikasikan Juni 2021 menyebutkan 1 dari 4 orang dewasa di Michigan, AS, adalah pengusung childfree. Bahkan dalam kasus ini mereka tidak mau memiliki anak, baik anak biologis maupun anak angkat. Kini, ide childfree sudah memasuki Indonesia. Bahkan komunitasnya ada di Jakarta dan memiliki grup Facebook yang berisi 300 anggota sejak tahun 2016 lalu.

Dalam sebuah studi tentang childfree, ditemukan beragam alasan yang kompleks. Pilihan ini bukan semata karena gila kerja atau karir, akan tetapi salah satu alasan utamanya berkaitan dengan pilihan hidup, lingkungan, atau masalah kesehatan.

Lantas, bagaimana kita seharusnya menyikapinya?

Sebagai seorang muslim, tentu dalam menilai segala sesuatu harus dikembalikan kepada syariat Islam sebagai aturan hidup. Jangan sampai kita mengadopsi suatu pemahaman  tanpa menganalisanya terlebih dahulu, apakah pemahaman tersebut benar ataukah salah dalam pandangan Islam. Apalagi sampai hanya ikut-ikutan trend yang pada akhirnya membuat pola pikir salah dan menyalahi fitrah.

Jika memilih childfree karena alasan ekonomi, hal ini akan berbahaya bagi keimanan seseorang, karena tidak meyakini rezeki itu datangnya dari Allah SWT. Allah SWT berfirman pada surat Al-An’am ayat 151, “…Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka…”

Disebutkan pula dalam sebuah hadist, memiliki anak atau keturunan dapat menjadi pembawa orang tua ke surga di akhirat kelak, jika anak tersebut shalih. Memiliki anak juga pada hakikatnya tidak wajib, tetapi memiliki banyak keutamaan.

Pertama, memiliki anak berarti memiliki kualitas amal yang tidak terputus, karena salah satu amal jariyah adalah doa anak shalih yang mendoakan kedua orangtuanya.

Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah ﷺ bersabda

ذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Kedua, memiliki anak dan menjadi orangtua dapat menjadi jalan menuju Surga. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

“Orang tua adalah pintu surga yang paling baik. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi).

Allah juga berfirman dalam Surat Ar Ra’d ayat 23:

جَنّٰتُ عَدۡنٍ يَّدۡخُلُوۡنَهَا وَمَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآٮِٕهِمۡ وَاَزۡوَاجِهِمۡ وَذُرِّيّٰتِهِمۡ‌ ۖ وَالۡمَلٰٓٮِٕكَةُ يَدۡخُلُوۡنَ عَلَيۡهِمۡ مِّنۡ كُلِّ بَابٍ‌ۚ

“(yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang shalih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;Puncak tertinggi keutamaan mempunyai anak, yaitu anak shalih yang bermanfaat bagi orang tua di dunia dan di akhirat. Bukan semata mempertimbangkan dari segi materi atau perkara duniawi.” (QS: Surat Ar Ra’d:23).

Tapi hal ini tidak akan terpikir bagi penganut feminisme atau mereka yang pola pikirnya masih sekuler (memisahkan agama dari kehidupan), dimana anak sebatas beban. Namun jika kita melihat dari kacamata agama, anak adalah anugerah, yang juga akan menyelamatkan kita di akhirat kelak.

Jadi, masih yakin childfree akan selalu bikin happy alias membawa kebahagiaan? Mari kembali perdalam ilmu agama agar kita tak salah langkah. Agar kita semakin tertunjuki ke jalan yang lurus, jalan yang diridhoiNya, yaitu jalan Islam.*/ Ummu Syifa, dosen Perguruan Tinggi Swasta di Malang, ibu dari dua anak

Rep: Admin Hidcom
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Jadilah Imam yang Baik Bagi Keluarga

Jadilah Imam yang Baik Bagi Keluarga

Tumbuhkan Sifat Penyayang dan Kehangatan Cinta ala Rasulullah

Tumbuhkan Sifat Penyayang dan Kehangatan Cinta ala Rasulullah

Muliakanlah Anak-Anakmu!

Muliakanlah Anak-Anakmu!

Ajak Anak Kita Mengenal Negeri Syam, Yuk!

Ajak Anak Kita Mengenal Negeri Syam, Yuk!

Menuju Generasi yang Mengutamakan Ilmu, bukan Gadget

Menuju Generasi yang Mengutamakan Ilmu, bukan Gadget

Baca Juga

Berita Lainnya