Jum'at, 22 Oktober 2021 / 15 Rabiul Awwal 1443 H

Jendela Keluarga

Ajaklah Anak Berdialog

Ilustrasi.
Bagikan:

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

“Iyyapa nari isseng lamunna salo’e na loanna, rekko purai ri atengngai”
Luas dan kedalaman sungai itu bisa diketahui ketika telah menyeberanginya (petuah Bugis)

Hidayatullah.com | HANYA sepintas melihat raut muka anak atau sikap yang ditunjukkan tidak serta merta menjadikan kita mengerti apa yang sungguh-sungguh dia rasakan dan pikirkan. Kita bisa langsung berbicara kepada mereka, tetapi kita tidak mampu meraba luas dan dalamnya apa yang dirasakan, dipikirkan dan diinginkan oleh anak.

Kenapa? Ibarat sungai, kita belum menyeberangi. Kalau ingin mengetahui luas dan dalamnya, kita perlu menyeberanginya.

Lalu bagaimana cara kita menyeberangi perasaan dan pikiran mereka? Ya kita ajak anak untuk berdialog. Kita ajak berbicara dari hati ke hati, pikiran terbuka dan perasaan lapang.

Kita dengarkan pembicaraan anak, memberikan umpan balik kepadanya, dan bila diperlukan kita pun dapat menyampaikan apa yang kita pikirkan tentang dia. Melalui dialog itu kita lebih mengetahui perasaan anak sesungguhnya dan pada saat yang sama anak merasa lebih diterima.

Inilah yang patut dilakukan jika menginginkan anak memiliki sikap hormat (respek) kepada orangtua. Merasa didengarkan dan dihargai akan menjadikan anak lebih tumbuh dorongan untuk respek dan dekat hatinya dengan orangtua.

Sebaliknya, cara-cara yang menjatuhkan harga diri justru membuat anak kehilangan rasa hormat kepada orangtua. Bahkan dapat terjadi, anak mengembangkan pemberontakan dalam berbagai bentuknya. Boleh jadi ia menunjukkan ketaatan di depan orangtua, tetapi memberontak meledak-ledak di luar rumah. Ini ketika anak takut kepada orangtua.

Sangat berbeda antara takut dan respek. Yang kedua akan mendorong anak tetap melakukan hal yang baik, meskipun orangtua tidak melihatnya.

Martabat

Demikian besar manfaat mengajak anak berdialog, tetapi kerap kali kita tak mampu melakukannya. Bukan karena anak sulit diajak berdialog, tetapi karena orangtua yang tak cukup memiliki kesabaran dalam mendengar dan menyampaikan gagasan maupun perasaannya kepada anak. Orangtua tergesa-gesa sebelum memiliki cukup informasi, belum pula mendengarkan anak dengan baik. Ingin anak memahami, tetapi tak sabar dalam memberi penjelasan.

Astaghfirullahal ‘adziim. Dan diri ini masih termasuk orangtua sumbu pendek yang mudah tersulut emosi sehingga kurang tenang dalam berbincang menyelami pikiran dan perasaan anak. Mudah tersulut emosi sehingga lupa bahwa anak punya martabat yang harus dijaga.

Ibarat pemimpin, orangtua dituntut untuk “Nasiri’i alena, nasiri toi padanna rupatau.” (Menjaga harkat dan martabat dirinya, serta menghormati harkat martabat orang lain).

Jadi, agar harkat dan martabat orangtua terjaga, anak menghargainya, maka kita sebagai orangtua harus menjaga harkat martabat anak. Tidak menjatuhkan di depan teman-temannya.

Kata siri’ sebenarnya memiliki makna malu. Sedangkan kata nasiri’i bermakna membuat diri sendiri malu memperbuat sesuatu yang jelek, hina, tercela.

Dari makna dasar ini dapat diambil pengertian bahwa orangtua seharusnya nasiri (menjaga martabat) anaknya dengan tidak mempermalukannya dan menjatuhkan harga dirinya. Jika anak sampai merasa dipermalukan atau jatuh harga dirinya, ia bisa kehilangan orientasi hidup yang baik. Bukankah “siri’ na pesse”? (Malu itu luka)

Lawrence E Tyson dari University of Alabama at Birmingham menunjukkan 4 sebab kenakalan anak di kelas. Salah satunya adalah dendam.

Ia terluka karena merasa dipermalukan oleh orangtua atau karena merasa orangtua tidak adil. Ketika anak mendendam kepada orangtua, maka ia tidak peduli lagi dengan prestasi. Ia hanya berpikir dan berusaha untuk membayar lunas dendamnya.

Boleh jadi ketika kita selaku orangtua menjatuhkan harga diri anak, ia tidak memiliki keberanian untuk menyuarakan perasaannya kepada kita. Atau ia sebenarnya cukup terbuka untuk mengungkapkan gagasannya. Tetapi ketika orangtua menanggapinya dengan mengedepankan kuasa, anak tidak punya pilihan selain taat. Dan ini bukanlah ketaatan yang baik. Di saat kecil merunduk kepada orangtua karena takut, tetapi ketika mulai beranjak besar mulai unjuk keberanian. Tak ada lagi perkataan orangtua yang ditaati.

Respek

Sebagian ulama mengatakan, “Al-hurmat khairum minath-tha’ah.” Respek itu lebih baik daripada taat, sebab dari respek akan lahir ketaatan yang tulus.

Saya lebih suka memaknai al-hurmah dengan respek daripada hormat karena kata-kata yang diserap dari hurmat ini sudah banyak mengalami pendangkalan makna. Di luar itu, kita juga mengenal istilah takzim (mengagungkan, memuliakan, menghormati) dan takrim (memuliakan, menghormati) yang biasa dipakai dalam konteks sikap kepada tamu maupun tetangga. Nah, sikap hurmat melahirkan keduanya.

Bagaimana agar anak memiliki sikap respek kepada kita? Berusahalah memahami perasaan dan pikirannya, serta mendengarkan dan memberikan umpan balik kepadanya. Kita tidak akan tahu dalam dan luasnya sungai kecuali apabila kita telah menyeberanginya. Cara untuk menyeberangi itu adalah berdialog. Bukan menjadi orangtua yang sok tahu.

Ya…, ya…, berdialog. Kata sederhana yang rasanya masih sangat perlu diperjuangkan untuk benar-benar dapat hadir di tengah keluarga kita. Bukan tak ada teladan, bukan kurang contoh. Tetapi tatkala tak menjadi perhatian, maka dialog yang dilakukan oleh Nabiyullah Ibrahim AS tatkala mengabarkan perintah menyembelih kepada putranya tercinta, Nabiyullah Isma’il AS (yang ketika itu belum diangkat menjadi Rasul) tak membekaskan pelajaran sama sekali. Kita mengingat percakapan tersebut, tetapi tidak mengambil pelajaran bahwa bahkan untuk hal-hal besar pun, kita sangat perlu berdialog dengan anak agar pesan tersebut membekas dan dilakukan penuh kerelaan.

Bukankah kita juga ingat bagaimana sikap Rasulullah ﷺ tatkala ada seorang pemuda datang meminta izin berzina? Ini merupakan dosa yang sangat besar. Tetapi beliau tidak langsung menghardiknya, tidak pula marah besar, apalagi mengeluarkan ancaman yang mengerikan. Kesediaan pemuda itu untuk datang meminta izin sudah cukup untuk menjadi bukti bahwa ada iktikad baik dalam dirinya. Inilah yang perlu dihargai.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam ath-Thabarani, Rasulullah ﷺ menanggapi permohonan izin berzina tersebut dengan mengajak sang pemuda berdialog. Melalui dialog itulah beliau hunjamkan sikap, tanamkan sikap dan pada akhirnya beliau mendoakan:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ

“Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

Semenjak itu, pemuda tersebut sangat menjaga pandangannya, bersih hatinya, tak lagi memiliki keinginan untuk berzina. Sebuah pelajaran sangat berharga. Sudahkah kita berusaha menerapkannya dalam mendidik anak?*

Penulis buku Positive Parenting

Rep: Admin Hidcom
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Muslimah, Berapa Berat Badanmu?

Muslimah, Berapa Berat Badanmu?

Menghadirkan Sosok Teladan pada Anak

Menghadirkan Sosok Teladan pada Anak

Dakwah pada Orang Tua? Bismillah, Bisa!

Dakwah pada Orang Tua? Bismillah, Bisa!

Saudariku, Jangan Kalian Meniru Wanita Jahiliyah Modern!

Saudariku, Jangan Kalian Meniru Wanita Jahiliyah Modern!

Tak Ada Kedewasaan Instant

Tak Ada Kedewasaan Instant

Baca Juga

Berita Lainnya