Ahad, 26 September 2021 / 18 Safar 1443 H

Jendela Keluarga

Mari Lindungi Anak-anak di Zaman Fitnah

pinjaman online
Bagikan:

Hidayatullah.com | SEBUAH media online membuat judul yang cukup membelalakkan mata para orang tua. “4 ABG Terlibat Kejahatan Jalanan, Mulai dari Begal hingga Penipuan, Hasilnya untuk Foya-foya”.  Berita mengisahkan empat anak baru gede (ABG) yang terlibat serangkaian kejahatan jalanan,  mulai dari begal hingga penipuan di wilayah Surabaya Timur, Jawa Timur.

Yang mengagetkan, usia mereka antara 15-17 tahun. Hasil tindak pidana pencurian itu digunakan para pelaku untuk foya-foya.

Tahun lalu, kita juga dikejutkan berta 37 pasangan remaja yang digerebek tengah melakukan pesta seks di Jambi. Mereka tertangkap tim gabungan TNI/Polri yang sedang melakukan razia penyakit masyarakat (pekat) bersama pemerintah Kecamatan Pasar Kota Jambi.

Tim mengamankan puluhan remaja di kamar hotel, rata-rata mereka berusia antara 13- 15 tahun. Sebagian dari mereka yang terjaring di hotel itu bahkan merayakan ulang tahun dengan cara pesta seks.

Anak-anak kita yang masih kecil itu jangan dikira hanya diam terhadap perkembangan yang terus bergerak maju di lingkungannya. Apalagi di era digital ini,  merepa mudah menyerap informasi, yang seharusnya belum waktunya. Mereka bisa melakukan apa saja hanya cukup di dalam kamar.

Anak-anak dengan memori pikirannya yang masih baik, seharusnya diisi dengan informasi dan ilmu yang baik pula. Namun gegap gempita dunia komunikasi dan informasi, membuat mereka lebih mudah menerima apasaja, hatta, hal-hal yang tidak seharusnya. Inilah zaman fitnah.

Akibatnya sungguh sangat fatal. Mereka berkembang liar di tengah lingkungannya sendiri.

Mereka beramai-ramai mendemonstrasikan makna-makna kehidupan dalam imajinasi kenikmatan yang dijabarkan dengan versinya sendiri. Sehingga ketika mereka pulang, orang tua pun kehilangan kemampuan untuk mengendalikan.

Kita kemudian seperti tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ada temali yang terputus. Benang nasihat terlepas sebelum keyakinan dan keimanan kita berikan sebagai bekal menghadapi gelombang kehidupan.

Sebagai orang tua kita dituntut untuk selalu mawas diri agar keluarga dapat selamat dari bahaya peradaban yang semakin kelam ini.

Baca:  Anak yang Dibesarkan dengan Doa

Pelajaran dari Luqman al-Hakim

Semestinya kita tidak melepas anak-anak kita begitu saja sebelum memberinya bekal yang cukup. Sekalipun mungkin berbagai nasihat sering dinilai sebagai kolot, namun selagi hal itu akan menyelamatkan perjalanan hidup mereka dan keselamatan aqidah, tetap harus ditegakkan.

Kelonggaran kita selama ini cenderung terdorong oleh perasaan-perasaan; cinta kasih dan rasa sayang berlebihan, yang justru menyusahkan mereka di kala dewasa. Mereka menjadi lebih mudah goyah dan kehilangan kendali.

Mengenai hal ini Luqman memberikan pelajaran:

اِذۡ قَالَ لُقۡمٰنُ لِا بۡنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَىَّ لَا تُشۡرِكۡ بِاللّٰهِ ‌ؕاِنَّ الشِّرۡكَ لَـظُلۡمٌ عَظِيۡمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS: Luqman: 13).

Sebelum anak-anak kita lepas dan berinteraksi dengan kehidupan, kita berkewajiban menanamkan ke dalam jiwa mereka rasa ketergantungan hanya kepada Allah swt. Hendaklah mereka jangan dilepas begitu saja hingga keliru mengambil sandaran dan pegangan selain kepada Allah dan kitab-Nya.

Arahkan penidikan aqidah ini sebagai basis yang kuat sebelum mereka mengayunkan langkah pertamanya. Menanamkan keyakinan perihal kekuasaan Allah ini harus diutamakan.

Sebab kekokohan aqidah akan membawa pengaruh yang sangat besar bagi motivasi hidup anak, utamanya untuk memelihara dan menyelamatkan imannya dari banyak godaan. Bila nama Allah sudah tegak, maka pribadi mereka akan terbentuk dengan tegak dan kokoh pula.

Baca: Nasihat Luqman pada Anaknya

Selanjutnya Luqman berkata:

يٰبُنَىَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَاۡمُرۡ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَانۡهَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَاصۡبِرۡ عَلٰى مَاۤ اَصَابَكَ‌ؕ اِنَّ ذٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ الۡاُمُوۡرِ‌ۚ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS: Luqman: 17)

Jadikanlah shalat menjadi ‘perisai’ yang selalu ditegakkan ke manapun pergi. Di sini tentu perlu ketelatenan menuntun dan membimbing mereka.

Sampai terlihat bahwa shalat telah menjadi bagian dari kegiatan dan kehidupannya. Bila shalat mereka telah baik, ada jaminan mereka bisa membawa diri, masih tahu kewajibanya kepada Allah.

Sejujurnya kita (sebagai orang tua) sering tidak bertanggungjawab, dengan berlindung dibalik  kalimat  “Bukankah mereka masih kecil, mengapa harus dipaksakan untuk beribadah, nanti kalau sudah besar juga akan jalan sendiri!”

Sekalipun tidak terucap tapi sikap yang mencerminkan pengesahan pernyataan seperti itu. Anehnya, di lain waktu dengan enteng kita ‘mempersilakan’ anak-anak membaca,  menonton tayangan yang justru cenderung merusak, membiarkan pikiranya berselandar di alam maya dengan HP di kamar pribadinya . Alasannya, anak-anak itu perlu istirahat,  perlu menambah wawasan dan perlu behubungan dengan temamnya.

Padahal apakah artinya alasan istirahat,  menambah wawasan, atau berkomunikasi,  bila dibandingkan dengan mahalnya persiapan benteng iman yang kelak akan dibawa sampai di yaumul akhir?

Baca: “Anak-anak yang Mati Rasa”

Budak Nafsu

Yang kita harapkan adalah agar anak-anak kelak terut menciptakan suasana yang baik. Anak-anak yang bisa mencegah kemungkaran, dan dapat bersabar terhadap apa yang menimpa dirinya.

Sehingga sebagai orang tua berarti kita telah menciptakan susana hidup bagai Surga. Jika anak-anak baik aqidah dan akhlaknya, keluarga akan baik dan lingkungan pun otomatis baik.

Kita tidak ingin sebaliknya. Anak dan generasi penerus kita menjadi generasi yang malah menumbuhsuburkan kejahatan dan kemungkaran. Generasi yang semata menjadi budak nafsu dan keserakahan,  hanya mementingkan kepuasan yang sifatnya sangat semu, generasi yang mementingkan dirinya sendiri.

Rasulullah ﷺ mensinyalir karakter mereka itu seperti yang termaktub dalam hadits berikut:

سيأتي على الناس زمان همتهم بطونهم و شرفهم متاعهم و قبلتهم نساؤهم و دينهم دراهمهم و دنانيرهم . أولئك شر الخلق لا خلاق لهم في الأخرة .

Akan tiba suatu zaman atas manusia dimana perhatian (obsesi) mereka hanya tertuju pada urusan perut dan kehormatan mereka hanya pada kekayaan (benda) semata, kiblat mereka hanya urusan wanita (seks) dan agama mereka adalah uang (harta, emas dan perak). Mereka adalah makhluk Allah swt yang terburuk dan tidak akan memperoleh bagian di sisi Allah swt di akhirat kelak. (HR. Ad-Dailami)

Generasi seperti itu hanya akan membawa pencemaran bagi lingkungannya.  Tidak ada yang bisa diharapkan dari generasi yang seperti ini selain dari musibah saja. Semoga kita semua Allah memberkahi kita keluarga yang baik dan anak-anak yang sholih dan shalihat.*

Rep: Ahmad
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Jangan Umbar Urusan Ranjangmu pada Orang Lain!

Jangan Umbar Urusan Ranjangmu pada Orang Lain!

Saatnya Jatuh Cinta

Saatnya Jatuh Cinta

Mengelola Emosi dan Cemburu [3]

Mengelola Emosi dan Cemburu [3]

Ketika Istri Nabi Dilanda Cemburu

Ketika Istri Nabi Dilanda Cemburu

Nikah Muda yang Barakah

Nikah Muda yang Barakah

Baca Juga

Berita Lainnya