Senin, 5 Juli 2021 / 26 Zulqa'dah 1442 H

Jendela Keluarga

Sang Guru Perempuan Pertama dalam Islam

Bagikan:

“Terpancar dari kilauan cahaya hatimu

Menyentuh jiwa yang rindu

Melepas dahaga

Pencari ilmu

Mutiara ilmu warisan Nabimu

Kau reguk hingga lepas hayatmu”

Hidayatullah.com | Kiprahnya dalam dunia ilmu telah ia jalani sejak masa Jahiliyah. Ketika itu ia dikenal sebagai guru baca dan tulis di Makkah. Tidak hanya mahir dalam bidang menulis, ia juga menguasai bidang pengobatan maupun ruqyah.

Nalurinya sebagai seorang pendidik tidak terhenti sampai disitu. Tatkala ketika cahaya iman menembus relung hatinya, ia berupaya meraih pahala dan ridha Allah subhanahu wata’ala dengan cara mengajarkan ilmunya, sehingga ia digelari sebagai “Guru perempuan pertama dalam Islam”.

Ia masuk Islam sebelum hijrahnya Nabi Muhammad  ﷺ dan beliau termasuk muhajirin angkatan pertama dan termasuk perempuan yang berbaiat kepada Rasulullah ﷺ. Dialah termasuk yang Allah subhanahu wata’ala sebutkan dalam firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِذَا جَاۤءَكَ الْمُؤْمِنٰتُ يُبَايِعْنَكَ عَلٰٓى اَنْ لَّا يُشْرِكْنَ بِاللّٰهِ شَيْـًٔا وَّلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِيْنَ وَلَا يَقْتُلْنَ اَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِيْنَ بِبُهْتَانٍ يَّفْتَرِيْنَهٗ بَيْنَ اَيْدِيْهِنَّ وَاَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِيْنَكَ فِيْ مَعْرُوْفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Qur’an Surat Al-Mumtahanah: 12].

Dia adalah Syifa’ binti Abdullah bin Abdu Syams bin Khalaf bin Sadad bin Abdullah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka’ab radhiyallahu ‘anha. Menurut para ahli, Syifa’ binti Abdullah radhiyallahu ‘anha memiliki nama asli yaitu Laila. Karena melalui perantaraan dirinya, Allah subhanahu wata’ala memberikan kesembuhan kepada beberapa orang yang diobatinya.

Baca: Menjaga Perempuan seperti Menjaga ‘Gentong’

Syifa’ radhiyallahu ‘anha menikah dengan Abu Hatsman bin Hudzaifah bin ‘Adi radhiyallahu ‘anhu dan menjalani bahtera kehidupan bersamanya. Dari pasangan ini Allah mengaruniai mereka seorang anak yang bernama Sulaiman bin Abu Hatsmah.

Perempuan yang cerdas ini memang patut mendapatkan kemuliaan, hatinya bak tanah yang subur dengan ilmu dan iman. Syifa’ radhiyallahu ‘anha, dialah sebagai pelepas dahaga bagi kaum perempuan yang haus akan ilmu.

Dia mengajarkan ilmu ruqyah kepada para muslimah setelah ia tunjukkan kepada Rasulullah ﷺ. Di antara perempuan yang menjadi muridnya adalah Hafshah binti Umar ibnu Khattab radhiyallahu ‘anhuma, istri Rasulullah ﷺ. Bahkan Nabi sendiri yang meminta kepada Syifa’ radhiyallahu ‘anha untuk mengajarkan Hafshah Ummul Mu’minin radhiyallahu ‘anha.

Telah diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah meminta kepada Syifa’ radhiyallahu ‘anha untuk mengajarkan kepada Hafshah radhiyallahu ‘anha tentang menulis dan sebagian ruqyah. Syifa’ radhiyallahu ‘anha berkata: “Suatu ketika Rasulullah masuk sedangkan saya berada di samping Hafshah Ummul Mu’minin radhiyallahu ‘anha, Rasulullah bersabda: “Mengapa tidak kau ajarkan kepadanya ruqyah sebagaimana engkau ajarkan kepadanya menulis?”[Hadits Riwayat Abu Daud].

Baca:  Kaum Perempuan Melawan Gempuran Barat

Di antara doa yang dibaca ketika meruqyah adalah:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِهُ وأَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah Rabbnya manusia yang menghilangkan bahaya, sembuhkanlah Engkau adalah Penyembuh, tidak ada penyembuh kecuali Engkau, penyembuhan yang tidak meninggalkan sakit.” (Hadits Riwayat. Bukhari)

Sebagai seorang muslimah, ia pun mencintai Rasullullah seperti kaum muslimin dan muslimah lainya. Sikapnya terlihat dari semangatnya mempelajari hadits-hadits dalam perkara-perkara agama dan dunia. Dengan berbekal pengetahuan inilah ia mendakwahkan Islam dan memberi nasihat kepada masyarakat.

Selain itu, Syifa’ radhiyallahu ‘anha juga termasuk salah seorang perawi hadits. Dia meriwayatkan beberapa hadits dari Nabi ﷺ, juga dari ‘Umar ibnu Khattab radhiyallahu ‘anhu, yang diambil periwayatanya oleh anaknya, cucunya, yaitu Ishaq radhiyallahu ‘anhu dan bekas budaknya, serta Hafshah binti ‘Umar ibnu Khattab Ummul Mu’minin radhiyallahu ‘anhuma, dan selain mereka. Demikianlah peranya dalam dakwah Islam dan semangatnya dalam menasehati masyarakat.

Syifa’ radhiyallahu ‘anha adalah perempuan beruntung karena mendapatkan perlindungan dan perhatian yang banyak dari Rasulullah ﷺ, di antaranya berupa pemberian rumah khusus di Madinah yang berdekatan dengan para penderita penyakit gatal. Dia menempati rumah tersebut bersama anaknya, Sulaiman radhiyallahu ‘anhu.

Rasullullah biasa mengunjunginya dan berbincang denganya, sehingga ia termasuk shahabiyah yang mendapat pengajaran langsung dari beliau. Perhatian istimewa juga ia peroleh dari sahabat jalil (yang mulia) ‘Umar ibnu Khattab radhiyallahu ‘anhu, berupa permintaan dan pengutamaan pendapatnya, perlindungan dan pemuliaan. Terkadang ‘Umar radhiyallahu ‘anhu mewakilkan masalah jual beli kepadanya. Begitu pula sebaliknya, Syifa’ radhiyallahu ‘anha pun memuliakan dan menghormati ‘Umar radhiyallahu ‘anhu. Syifa’ radhiyallahu ‘anha memandangnya dan mengakui bahwa beliau adalah seorang muslim yang shadiq (jujur), memiliki suri teladan yang baik dalam keshalihan, ketakwaan, dan keadilan.

Ketika ia melihat pemuda-pemuda yang berjalan dan berbicara dengan lamban ditegurnya, dan mencontohkan kepribadian ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dengan mengatakan: “Demi Allah, ‘Umar itu bila berbicara, keras; bila berjalan, cepat; dan bila memukul, terasa sakit.”

Syifa’ radhiyallahu ‘anha menjalani sisa hidupnya sepeninggal Rasulullah dengan tetap memperhatikan keadaan dan memuliakan kaum muslimin. Ia wafat pada tahun 20 hijriyah pada masa kekhalifahan ‘Umar ibnu Khattab radhiyallahu ‘anhu, setelah banyak pengabdianya demi kepentingan umat dan banyak mengajari musliman dalam membaca dan menulis.

Baca:  Pemimpin Wanita Penghuni Surga

Perangai Ramah

Kawan…di era modern saat ini masih banyak yang bermalas-malasan dalam menuntut ilmu bahkan ada yang enggan untuk menerapkan dalam keseharianya, ia tak peduli dengan keadaan lingkungan sekitar, acuh dan cuek. Entah karena memang dia benar-benar ‘tak peduli atau mungkin dia belum memiliki keberanian untuk berbagi ilmu yang dia punya kepada sekitarnya.

Nah dari sini kita dapat mencontoh dan menerapkan perangai shahabiyah Rasulullah yaitu Syifa’ radhiyallahu ‘anha dalam semangatnya ketika menimba ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain yang haus akan ilmu.

Semoga Allah subhanahu wata’ala merahmati Syifa’ radhiyallahu ‘anha yang telah memberikan semua kebaikan yang ia miliki kepada umatnya berupa ilmu dan agama. Dialah contoh yang baik bagi muslimah, maka janganlah kalian –wahai muslimah— bakhil untuk mendermakan ilmu dan segala yang kalian miliki di jalan Allah, demi mendapatkan ridha-Nya. Wallahu a’lam.*/Syifa Humairah, mahasiswi Prodi Komunikasi Penyiaran Islam 4 STIBA Ar Raayah Sukabumi

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Pembunuhan Karakter yang Sangat Kejam

Pembunuhan Karakter yang Sangat Kejam

“Om Telolet Om “ dari kacamata Parenting

“Om Telolet Om “ dari kacamata Parenting

Kembalikan Moralitas Keluarga dengan Berislam [2]

Kembalikan Moralitas Keluarga dengan Berislam [2]

Anak-Anak Mendengar dengan Mata, Tidak dengan Telinga Mereka

Anak-Anak Mendengar dengan Mata, Tidak dengan Telinga Mereka

Menjemput Jodoh dengan Ta`āruf

Menjemput Jodoh dengan Ta`āruf

Baca Juga

Berita Lainnya