Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Jendela Keluarga

Dakwah pada Orang Tua? Bismillah, Bisa!

muh. abdus syakur/hidayatullah.com
Sebut saja Ahmad, tampak tersenyum saat menggendong H Abdullah, orang tua yang sudah lansia, usai shalat Jumat di Masjid Jami' Baiturrahman, Depok, Jawa Barat, 30 Maret 2018.
Bagikan:

Hidayatullah.com | BERBAGAHAGIALAH orang-orang yang saat ini masih diizinkan untuk melewati hari-harinya bersama orang tua terkasih. Beliau yang masih bisa dilihat senyumnya, memberikan semangat lewat untaian do’a. Percayalah, detik-detik itu tak akan pernah bisa diganti dengan apapun di dunia ini.

Well, berbicara telah dua insan yang paling berjasa didunia ini, ayah dan ibu, mom and dad, abah dan amak, atau apa pun panggilannya, kita tetap sepakat mengatakan bahwa bahasan mengenai orang tua akan selau menjadi topik yang sensitive bagi siapa saja. Semua anak di dunia ini tanpa terkecuali pasti menginginkan kebagiaan untuk orang tuanya.

Tapi apakah hanya bahagia di dunia saja? Pernahkah terlintas difikiran kita sebuah soal, bagaimana caranya supaya bahagia bersama orang yang terkasih didunia ini dapat berkekalan hingga akhirat nanti?

Setiap muslim tahu tujuan hidupnya. Tak hanya sebatas hidup, tua, lalu mati tanpa bawa bekal apa-apa. Cita-cita tertinggi seorang muslim adalah menggapai Surga.

Baca: Raih Kemuliaan dengan Berbakti pada Orangtua

Tetapi tahukah kita?  Bahwasanya Allah subhanahu wata’ala dengan rahmat-Nya menyediakan pintu surga yang paling mudah dimasuki, pintu yang paling tengah yaitu berbakti kepada orang tua. Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺍﻟْﻮَﺍﻟِﺪُ ﺃَﻭْﺳَﻂُ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻓَﺈِﻥْ ﺷِﺌْﺖَ ﻓَﺄَﺿِﻊْ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﺒَﺎﺏَ ﺃَﻭِ ﺍﺣْﻔَﻈْﻪُ

“Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya.” (Hadits Riwayat. Abu Darda’, Shohih).

Perintah berbakti kepada orang tua menempati urutan kedua setelah perintah bertauhid kepada Allah.  Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu  jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” [Qur’an Surah: Al-Israa’ : 23-24].

Baca: Cara Berbakti kepada Orangtua yang Sudah Meninggal

Berbakti mengingat Akhirat

Termasuk berbakti kepada orang tua adalah mendakwahkan dan mengingatkan mereka  akan akhirat, dakwah ajaran Islam yang benar kepada keduanya, dan mengajarkan  indahnya ajaran Islam. Bukankah kita menginginkan pertemuan abadi di Surga-Nya Allah?  Jika jawabannya “iya”, maka kita harus siap dengan tujuan yang mulia ini. Ingat, jalan dakwah bukanlah jalan yang mudah, tapi ialah jalan yang penuh lika-liku, penuh onak dan duri yang siap melukai kapan saja.

Apalagi dakwah kepada keluarga, khususnya orang tua. Banyak di luar sana para da’i yang berhasil mendakwahi beribu orang, tapi kenyataannya dia gagal mendakwahi keluarganya sendiri, orang tuanya sendiri.

Tapi fikiran kita jangan hanya terfokus pada susah payahnya saja. Di sana ada Surga, ganjaran terbesar dari Allah Subhanahu Wata’ala untuk hamba yang mau berdakwah,  memperjuangkan agama-Nya. Namun bagaimanakah cara berdakwah kepada orang tua yang baik dan benar?  Apakah kita sudah benar dalam mendakwahi mereka, atau malah menyakiti hati mereka dengan dalih berdakwah?

Sederet pertanyaan yang akan muncul :

”Nak kamu berubah ya sekarang celananya cingkrang, kamu juga berjenggot. Gimana kalau nanti dicap radikal sama orang-orang”.

”Kok kamu tidak salaman dengan Bu Astuti, dia tetangga kita loh nak”.

“Nak kok shalatnya dirumah sekarang, apa dilarang seorang perempuan  shalat di masjid?”

”Kamu pendiam ya sekarang, kok kamu lebih betah dirumah. Bukankah kita juga dituntut untuk bisa bersosialisasi di luar rumah?”.

“Ini kan sudah diamalkan nenek moyang kita dari zaman dahulu, tentunya mereka punya dalilkan? Kamu sih dikit-dikit bid’ah”.

Baca: Muliakan Orangtua dan Rawatlah Ia Hingga Akhir Hayat

Hal ini perlu diperhatikan oleh para penuntut ilmu agama pada khususnya, terutama mereka yang  terlahir dari keluarga awam yang basic agamanya masih sangat rendah, yang memungkinkan adanya perbedaan pandangan dalam berbagai hal.

Seorang murid berkata kepada Syeikhnya, “Ya Syeikh, ayah saya masih meninggalkan shalat wajib 5 waktu, saya telah coba berdakwah kepadanya, tapi sepertinya itu semua sia-sia saja, tidak ada perubahan sedikitpun darinya. Saya putuskan akan meninggalkan rumah ya Syeikh, saya sudah berputus asa dalam mendakwahinya.”

Syeikh tersenyum dan dengan gayanya yang khas menjawab, “Wahai muridku, jangan pernah berputus asa dalam mendakwahi ayahmu, selama beliau  masih hidup, maka kesempatan untuk berubah masih sangat mungkin terjadi, karena sesungguhnya hidayah ditangan Allah Subhanahu Wata’ala, dan Dia-lah yang membolak-balikkan hati manusia, sangat mudah bagi Allah, maka kau jangan berputus asa, tapi dakwahilah beliau dengan akhlakmu yang baik kepadanya, jadilah engkau bayangan untuknya, penuhi semua kebutuhannya, bahkan sebelum ia memintanya kepadamu.”

Baca:  Hancurnya Generasi, Bisa karena Orang Tua

Maka murid tersebut pun melakukan semua yang diperintahkan Syeikh kepadanya. Ia mulai membuatkan kopi untuk ayahnya dipagi hari, membersihkan sepatunya, menyiapkan pakaian kerjanya, selalu tersenyum dan menampakkan aura kebahagiaan dihadapan ayahnya, memenuhi segala kebutuhannya,  seolah ia menjadi bayangan bagi ayahnya yang siap tanggap menolongnya kapan pun. Sang ayah pun terkesan dengan perubahan anaknya, dan mulai menerima nasehat-nasehat anaknya untuk mendirikan shalat 5 waktu dan tidak melalaikannya. Hari demi hari, sang ayah pun mulai terbiasa pergi shalat berjama’ah ke mesjid, meski selalu di saf terakhir.

Setelah sebulan berlalu, sang ayah mulai bersemangat untuk pergi ke masjid, bahkan sebelum adzan dikumandangkan, beliau bergegas untuk mendapatkan saf pertama. Dengan hati yang dipenuhi rasa syukur, si murid pun kembali menemui Syeikhnya, dan menyampaikan perubahan menakjubkan yang dialami ayahnya, dan  mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya .

Dari kisah tersebut dapat dipetik sebuah nasehat berharga bahwa dakwah kepada orang tua itu harus disampaikan dengan benar, akhlak yang baik, berusaha mendapatkan empati dari keduanya, berusaha semaksimal mungkin melakukan hal-hal yang mereka senangi selama itu masih dalam keta’atan kepada Allah subhanahu wata’ala. Menjaga adab sopan santun saat berinteraksi dengan mereka, selalu memperlihatkan contoh perilaku yang baik kepada mereka. Karena sebenarnya bukan maksud mereka menolak tanpa alasan apa yang kita sampaikan, tetapi ketidaktahuan merekalah  yang menjadi sebab itu terjadi.

Tanpa disadari, bahwa dakwah melalui tindakan jauh lebih berkesan dan mudah diterima, dibandingkan dakwah dengan sebatas teori saja. Bangun untuk shalat tahajud misalnya, coba bangunkan mereka, ajak untuk shalat tahajud bersama.

Hari pertama mungkin mendapatkan respon yang kurang baik, begitu juga dihari kedua, ketiga, danhari berikutnya. Tapi kita tidak boleh berputus asa, terus bangunkan mereka, sambil menerangkan secara perlahan keutamaan shalat tahajud.

Seminggu, dua minggu, sampai sebulan lamanya, dengan izin Allah mereka pun mulai meminta untuk selalu dibangunkan. Jangan sekali-kali berfikir untuk berhenti mendakwahi keduanya dan berputus asa, karena kita hanya mengusahakan sebab-sebabnya, namun hidayah tetaplah ditangan Allah ‘Azza Wajalla.

Begitu juga dengan kebiasaan baik lainnya, misal dengan rutin membaca qur’an setiap pagi sebelum memulai aktifitas, sholat duha ketika matahari mulai meninggi, shalat diawal waktu, selalu berwajah ceria dengan senyum hangat yang menghiasi pipi, dengan semua tindakan ini seakan menyampaikan pesan tersirat, seolah berkata, “Ayah Ibu inilah anakmu yang sekarang, yang sedang berjuang meraih rida Allah ‘Azza Wajalla, yang menginginkan keluarganya merasakan nikmatnya ibadah, hidup dibawah naungan sunnah, meniti jalan bersama meraih Surga, sehingga dapat berkumpul kekal abadi  di dalamnya, yang tidak akan ada lagi perpisahan setelahnya.”

Setelah sebab-sebab itu dilakukan, jangan lupa bahwa do’a adalah senjata seorang mukmin. Berdoa dan meminta kepada Allah dengan hati yang ikhlas, agar dibukakan kepada keduanya pintu hidayah. Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala tidak pernah menyianyiakan do’a setiap hamba yang tulus mengharap kepada-Nya.

Semoga kita senantiasa diberikan taufik dan hidayah untuk selalu bisa berbakti kepada  kedua orang tua, menjadi qurrata ain  bagi keduanya, dan semoga setiap yang kita usahakan didunia ini menjadi saksi (hujjah) dihadapan Allah Subhanhu Wata’ala pada hari dimana harta dan anak laki-laki tidak lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang sehat.  Amin ya rabbal ‘alamin.*/ Fitri Annisa Febriana, mahasiswi Semester 4 Prodi Komunikasi Penyiaran Islam STIBA Ar Raayah Sukabumi

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Agar Istri dan Anak Kita Jadi Qurrata A’yun

Agar Istri dan Anak Kita Jadi Qurrata A’yun

Lahirkan Generasi yang Tahu Bukan Hanya Palestin yang Menangis

Lahirkan Generasi yang Tahu Bukan Hanya Palestin yang Menangis

Tidak Perlu Tafsir Njelimet, Perintah Berjilbab Wajib Hukumnya

Tidak Perlu Tafsir Njelimet, Perintah Berjilbab Wajib Hukumnya

Wahai Suami, Dengarlah Cerita Isterimu!

Wahai Suami, Dengarlah Cerita Isterimu!

Refleksi Pagi: Damai

Refleksi Pagi: Damai

Baca Juga

Berita Lainnya