Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Jendela Keluarga

“Ibu Madrasah bagi Anak, Ayah Kepala Sekolahnya”

muhammad abdus syakur/hidayatullah.com
Ayah mengajari anak berinfaq.
Bagikan:

Hidayatullah.com– Konon, Raja Frederick, penguasa Jerman abad ke-13 saat itu pernah merampas 50 bayi dari dekapan ibunya.

Frederick ingin tahu, jika bayi-bayi manusia tidak diasuh dan diajak bicara, bahasa seperti apa yang mereka gunakan.

Berhari-hari bayi-bayi malang itu hanya diasupi susu, dimandikan, lalu ditinggal di tempat tidur. Hingga akhirnya bayi-bayi itu meninggal satu persatu. Sang Raja pun tak pernah menemukan jawabannya hingga kini.

Kisah di atas disampaikan oleh penulis buku sekaligus pegiat parenting, Ida S Widayanti, dalam acara Seminar “Mendidik Karakter dengan Karakter” yang digelar di Jalan Cimatis, Jatikarya, Bekasi Jawa Barat, 31 Maret lalu. Dihadiri puluhan keluarga besar Sekolah Quantum Indonesia dan Komite Sekolah.

Pegiat Parenting: Mengurus Mesin Saja Butuh Waktu 4 Tahun Belajar

Menurut Ida, hal itu mengajarkan arti sentuhan ibu bagi anak-anaknya bahkan sejak awal kehidupan mereka.

Dengan sentuhan ibu, timbul rasa nyaman dan membantu perkembangan otak pada anak.

“Ketika anak sedih atau sedang bermasalah, jangan dibentak atau dipaksa menceritakan apa yang terjadi. Tapi peluklah agar anak bisa merasakan kehangatan seorang ibu,” papar Ida.

Dalam acara yang bertajuk “Living Values and Character Building”, pengarang buku Mendidik Karakter dengan Karakter tersebut menerangkan peran orangtua dalam mengasuh anak.

Menurutnya,  seorang ayah juga bertanggung jawab dalam mengasuh dan mendidik anak.

Diterangkan Ida, ada 17 dialog tematik dalam al-Qur’an yang tersebar pada 9 surat.

“14 dialog di antaranya adalah dialog antara ayah dan anaknya. Sedang dialog antara ibu dan anaknya hanya 2 dialog saja,” ujar penulis tetap rubrik “Celah” di sebuah majalah Islam nasional itu.

Baca: Tugas Perempuan Gaza Menjadi “Madrasah” bagi Anak-anak

Ida menambahkan, meski ibu adalah madrasah pertama bagi anak. Tapi kepala sekolahnya adalah ayah.

Tugas ayah memimpin, menentukan kurikulum keluarga, serta mengevaluasi agar visi-misi keluarga bisa terwujud.

“Ayah itu tak hanya sukses memimpin perusahaan saja, juga harus berhasil memimpin keluarganya,” terangnya lagi.

Ibarat kendaraan, mobil bisa melaju di atas jembatan dan sampai pada tujuannya, jika jembatan yang dilalui itu kokoh. Namun apabila rapuh apalagi roboh, laju mobil itu tentunya terhenti.

“Inilah pola kerja sama yang baik, jadinya anak tumbuh dan berkembang dengan baik pula,” lanjut Ida.

Terakhir, Ida menegaskan bahwa peran ayah harus kuat dalam mendidik karakter anak.

Children need models more than they need critics. Anak lebih membutuhkan teladan daripada kritik.

“Agar dihormati, maka perlakukan anak dengan hormat pula,” tutup Ida.* Arsyis, pegiat komunitas menulis PENA Depok

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Belajar Ketabahan dari Ummu Sulaim

Belajar Ketabahan dari Ummu Sulaim

Berpikirlah Seribu Kali untuk Berhutang!

Berpikirlah Seribu Kali untuk Berhutang!

Beri Kepercayaan dan Jangan Pernah Tertawakan

Beri Kepercayaan dan Jangan Pernah Tertawakan

Prinsip-Prinsip Dasar Pendidikan Kedewasaan dalam Islam

Prinsip-Prinsip Dasar Pendidikan Kedewasaan dalam Islam

Anak dan Tahapan-tahapan Mengenalkan Hobi Membaca

Anak dan Tahapan-tahapan Mengenalkan Hobi Membaca

Baca Juga

Berita Lainnya