Mendengar, Resep Menguatkan Rumah Tangga [2]

Karena berbeda itulah, semestinya berupaya untuk saling memahami

Mendengar, Resep Menguatkan Rumah Tangga [2]
Mendapatkan pasangan yang simpatik dan empatik tentu adalah dambaan (ilustrasi)

Terkait

Sambungan dari artikel PERTAMA

ALANGKAH indahnya, jika kita pun bersikap layaknya Rasulullah Saw dan Khadijah ra. Bukankah rentang waktu pernikahan mereka hingga kerasulan telah menjejak waktu 15 tahun? Namun, jika melihat apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat mengadu pada istrinya dan apa yang istrinya lakukan, maka kita bisa mengetahui indahnya komunikasi mereka selama 15 tahun.

Indahnya Bicara

Kitapun juga pasti ingin mendapatkan pasangan yang bersedia menjadi teman “curhat” yang mau menyediakan perhatian dan hatinya. Mengapa pasangan yang mau diajak bicara ini penting? Karena, yang tahu persis problem-problem yang terjadi dalam rumah tangga adalah pasangan itu sendiri. Sehingga yang paling tepat untuk melakukan evaluasi plus menyepakati solusi tentu adalah pasangan sendiri. Bukan orang lain yang tidak mengetahui secara pasti masalah yang sesungguhnya dan pastinya bilapun menjadi bagian dari solusi, maka pelaku utama tetap kita sendiri.

Pasangan yang saling terbuka membicarakan keinginan dan kekhawatiran mereka, biasanya akan tumbuh menjadi pasangan yang saling mendukung. Sehingga mereka dapat tumbuh bersama termasuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka berdua dan mengantisipasi hal buruk yang mungkin terjadi.

Mulailah Bicara

Namun demikian, untu jadi pasangan yang tumbuh bersama, semuanya justru diawali oleh perbedaan. Dari mulai beda fisik, beda kebiasaan, bahkan bisa jadi beda pemahaman keislaman. Inilah yang luar biasa bila memperhatikan firman Alah Subhanahu Wata’ala dalam surat Ar-Ruum  [30]: 21, “…supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang.”

Bagaimana mungkin jadi tumbuh rasa kasih sayang kalau begitu berbeda? Karena berbeda itulah, semestinya berupaya untuk saling memahami.

Memahami perbedaan inilah yang akan membuat kita memahami bahwa waktu bicara dengan suami atau waktu bicara dengan istri sangat berbeda. Bicara dengan suami butuh pengertian bahwa mereka butuh waktu untuk dirinya lebih dahulu dan butuh verbalisasi yang jelas. Sehingga istri memang tidak dianjurkan merajuk atau bertele-tele. Sedangkan bicara dengan istri pasti butuh kesabaran untuk membujuk dan mendengarkannya bicara.

Rasa dan upaya untuk bisa mencapai paham inilah yang akan membuahkan kasih sayang. Bila langsung paham tanpa belajar dan mengelola perasaan maka tentu tidak akan ada pengalaman-pengalaman indah yang dapat dikenang. Tidak ada canda atau tangis yang menguatkan perasaan memiliki.  Juga tidak ada hikmah yang dapat diambil bersama dan tidak ada saat-saat manis setelah berselisih paham dan akhirnya berbaikan.

Akhirnya, dengan berbekal iman dan kasih sayang, semoga kita termasuk orang yang diridhai Allah dan Rasul-Nya karena berjuang mengikuti sunnah. Sebagaimana Rasulullah menyampaikan berita gembira untuk Khadijah ra, “Aku diperintahkan menyampaikan berita gembira kepada Khadijah berupa rumah dari qashab (mutiara) yang didalamnya tidak ada teriakan keras dan kelelahan.” (Sirah Ibnu Hisyam:203).*/Kartika Ummu Arina

Rep: Admin Hidcom

Editor: Huda Ridwan

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !