Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Jendela Keluarga

Berjilbab, Kok tidak Bisa Menjaga Muru’ah dan Agamanya (1)

Bagikan:

SIANG itu warung makan langganan saya  nampak ramai. Warung makan yang berdekatan dekat kampus sebuah PNT ternama itu memang tak pernah sepi dikunjungi anak-anak mahasiswa yang kost dekat areal itu.

Di saat menunggu antri, puluhan mata dikejutkan dengan sebuah kejadian kecil. Seorang gadis berjilbab, usianya sekitar 20 tahun baru saja turun dari motor besar diantar seorang pemuda.

Usai basa-basi, sang pemuda berpamitan pada teman wanitanya, disertai hadiah ciuman dan lambaian. “Daa, ketemu besuk ya?,” ujar si wanita.

Seorang pria, yang kebetulan sedang antri makanan di dekatnya menegurnya. “Mbak, itu suami atau pacarnya?”. “Pacar saya, memang apa urusannya dengan Anda,” ujar wanita itu dengan ketus.  Dari penampilannya, dia sepertinya seorang mahasiswi.

Si penegur, yang terlihat dari seragamnya seorang pegawai BUMN itu menjawab, “Jelas ada urusannya dengan saya. Anda bukan suami-istri, Anda berjilbab pula, menampakkan pemandangan tak selayaknya di depan banyak orang, di depan mata saya ikut mengganggu mata, hati dan kemusliman saya. Apakah Anda juga seorang Muslim?”

Si mahasiswi berjibab tadi langsung ngeloyor masuk rumah kos, disaksikan puluhan orang antri makan siang itu.

Ramadhan tahun lalu. Haidar (36), teman kami suatu hari membawa tamu orang asing berkebangsaan Inggris untuk menikmati wisata pegunungan yang yg berdekatan dengan sebuah perguruan tinggi di Jawa Timur.

“Saat pertama ditawari menjadi pengajar bahasa Inggris ke negaramu, saya langsung sujud syukur,” ujar si bule  yang juga muallaf ini.

“Saya sudah tak minum alkohol, sudah tidak lakukan seks bebas bahkan tertarik ajaran Muhammad setelah banyak bergaul dengan teman-teman Muslim dari Pakistan, Maroko dan Indonesia. Mereka hebat, tinggal di Eropa tetapi istiqomah menjaga akhlaknya, tidak terpengaruh maksiat bahkan tetap menjaga aurat dan hubungan dengan lawan jenis.”

Belum sempat ceritanya selesai, Namun ketika mobil melewati belokan yang dihuni pohon-pohon rimbun dan sejut. Mendadak kedua mata si bule menangkap pemandangn kurang mengenakkan. Beberapa pasangan muda-mudi duduk di atas motor, di antara mereka ada anak berjilbab dan berciuman dengan pasangannya.

Di saat yang sama, dari arah belakang datang dua rombongan kendaraan bermotor menyalip si muallaf.  Sepasang muda-mudi wanitanya berjilbab melintas dengan kecepatan tinggi. Anak-anak yang masih belia itu nampak mesrah memeluk pasangan prianya.

“Haa, bukannya mereka anak-anak Muslim?” ujar si bule.

Haidar tentusaja merasa malu dibuatnya.  “Hari itu saya merasa malu menjadi orang Indonesia,  ” ujar Haidar.

Aurat Kita, Kebanggaan Kita

Dua kisah di atas hanyalah secuil pemandangan sehari-hari. Entah di kantor, di kampus, sekolah dan di sekeliling kita.

Pemandangan anak-anak berjilbab namun tidak bisa menempatkan harkat agamanya di tengah-tengah lingkungan dan publik.

Banyak anak-anak pengguna jilbab makan sambil berdiri atau berjalan. Ini bisa kita saksikan di kampus-kampus. Campur-baur dengan pria bukan suami dan mahramnya, bahkan bergaya narsis berfoto-ria, berpeluk-pelukan dengan lawan jenis dan bangga dipamerkan di blog, FB atau twitter.

Facebook dan twitter mereka bahkan diisi foto-foto dengan pasangannya yang mesrah, seolah ingin mengabarkan pada dunia, “Oh hari ini aku wanita paling bahagia”. Mereka mengira, itulah akhir dari semua tujuan hidupnya.

Padahal lusa, bisa jadi semuanya berubah. Banyak kejadian, mereka  ditinggalkan oleh si pria dan dirinya tak bisa menuntut siapa-siapa, hatta, kepada polisi sekalipun meski kehormatannya yang paling berharga telah dicuri oleh orang yang bukan hak nya.

Lagipula, di Indonesia, tidak ada pasal yang bisa menjerat seorang gadis yang kecewa karena ditinggal pacarnya. Bahkan sekalipun kegadisan dia dirampas habis-habisan lalu ia melapor, yang terjadi justru sebaliknya.

“Tidak ada delik pidana. Hasil investigasi, pelaku melakukannya atas dasar suka sama suka, ” ujar si aparat.

Bahkan kasusnya jauh lebih pedih dari yang ia rasakan. Sudah laporannya ditolak polisi karena deliknya kurang kuat, foto-foto dia dan video dokumentasi maksiatnya yang dulu ia simpan sudah ditebar oleh mantan kekasihnya di mana-mana.

Esok, lusa dan hari-hari selanjutnya ia menyaksikan adegan-adegannya yang diaggapnya manis dan penuh kenangan itu sudah muncul di internet dengan judul, “Terbaru SMU Antah Barantah- Jilbab Mesum”.

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mantan kekasihnya tak dapat dijerat, aibnya bertambah-tambah. Orangtua, saudara, famili, sahabat, tetangga bahkan alumni sekolah yang bersangkutan menanggung malu hingga tujuh turunan.

“Hai, sudah lihat gak video scandal terbaru anak SMU Antah Barantah yang heboh?” Begitu orang-orang mempermalukan.

Ada kisah menarik. Rombongan pria menggerutu di sebuah warung kopi karena ada pasangan muda-mudi di mana si wanitanya berjilbab. “Gak tau nih, bapak-ibunya seperti apa jam 01.00 dini hari gini  membiarkan anak gadisnya jam segini keluyuran.” Rupanya, gerutuan itu terdengar oleh si wanita. “Hei, jangan bawa-bawa orangtuaku ke sini, ini pakaian-pakaianku, tubuh-tubuhku, dan hak ku”

Rupanya, pria penggerutu tak kalah cerdasnya. “Oh ya? Baik. Begini saja, jika kau tidak siap dengan pakaian (jilbab) yang kau sematkan, lebih baik jangan paksakan diri memakainya. Bukankah tidak ada paksaan dalam beragama? Daripada menggunakannya dengan cara salah?”/Ihsan. Kisah-kisah ini diambil dari pengalaman langsung yang pernah ditemui penulis

Rep: -
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Wanita di Persimpangan Jalan [3]

Wanita di Persimpangan Jalan [3]

Bersama Suami di Surga, Bagaimana Caranya?

Bersama Suami di Surga, Bagaimana Caranya?

Membangunan Keluarga dan Masyarakat Islami [1]

Membangunan Keluarga dan Masyarakat Islami [1]

Membangun Generasi Literasi di dalam Keluarga

Membangun Generasi Literasi di dalam Keluarga

Mencetak Keluarga Inovatif

Mencetak Keluarga Inovatif

Baca Juga

Berita Lainnya