Jum'at, 24 September 2021 / 17 Safar 1443 H

Jendela Keluarga

Berbeda Hak Berbeda Kewajiban (1)

Bagikan:

Oleh: Dr. Elly Warti Maliki, MA

MASALAH “kekerasan terhadap perempuan dan anak” menjadi topik hangat saat ini. Tuntutan untuk menghapus semua bentuk kekerasan terhadap perempuan yang masuk dalam agenda persidangan sesi ke-57 Komisi Kedudukan Perempuan yang berlangsung dari 4-15 Maret 2013 di Markas Besar PBB New York, sungguh membingungkan.

Apakah benar bahwa tugas sebagai ibu rumah tangga tanpa upah adalah bentuk kekerasan? Apakah benar bahwa perempuan menjadi miskin karena tugasnya sebagai ibu rumah tangga tidak diberikan imbal bayaran?

Jika setiap pekerjaan mengharuskan adanya upah yang seimbang, maka upah sebagai ibu dalam Islam adalah upah yang termahal. Upah yang tidak cukup dibayar dengan berapapun jumlah uang. Upah yang tak terbayar dengan setinggi apapun gumpalan emas.

Tugas sebagai ibu dalam Islam adalah tugas yang sangat mulia. Karena itu Allah Subhanahu Wata’ala mewasiatkan kepada manusia tentang kewajiban bersyukur dan berbuat baik kepada kedua orangtua.

ووصينا الإنسان بوالديه حملته أمه وهنا على وهن وفصاله في عامين أن اشكرلي ولوالديك إلي المصير.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS: Luqman [31]: 14]

Wasiat adalah suatu hal penting yang dipesankan seseorang agar dilaksanakan. Wasiat biasanya dipesankan oleh seorang kepada ahli waris ketika ajal mendekatinya. Dan, wasiat wajib dilaksanakan.

Begitu tinggi dan mulianya kedudukan ibu dalam Islam sehingga Allah Subhahahu Wata’ala merasa perlu memberikan wasiat kepada makhluk ciptaan-Nya berupa kewajiban agar anak berbakti kepada kedua orangtua, dengan memberikan penekanan kewajiban bersyukur dan berbuat baik kepada ibu, karena beratnya tugas yang harus dipikul ibu selama mengandung, melahirkan, menyusui dan mengasuh.

ووصينا الإنسان بوالديه احسانا حملته أمه كرها ووضعته كرها وحمله وفصاله ثلاثون شهرا

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.” (QS: Al Ahqaaf [46]: 15]

Mengandung, melahirkan, menyusui dan mengasuh balita adalah beban yang sangat berat bagi seorang ibu. Mengandung, membuat kondisi fisik ibu terasa tidak nyaman. Terutama pada bulan-bulan pertama kehamilan. Perubahan hormon dalam tubuh ibu menyebabkan rasa mual dan pusing. Nafsu makan hilang. Badan terasa tidak enak. Tenaga berkurang. Rasa nyeri dibagian rahim sering diiringi rasa sakit di kepala. Bahkan, bagi sebagian ibu, menjelang tiga bulan usia kehamilan, dunia seperti berhenti berputar. Sebagian yang lain mengalami hal ini sampai kehamilan berusia tujuh bulan. Berapa bayaran yang layak untuk tugas seberat ini

Bulan-bulan terakhir kehamilan adalah beban fisik lain yang harus dipikul seorang ibu. Ibu harus betul-betul menjaga kondisi fisiknya agar bayi lahir dalam keadaan sehat dan sempurna. Ibu tidak dapat tidur dengan nyaman. Miring ke keri susah, miring ke kanan terasa sulit, apalagi membujur menelentang. Semua serba salah. Semua serba tidak nyaman. Berapa upah yang layak untuk tugas seberat ini?

Detik-detik menjelang melahirkan adalah masa yang paling menegangkan. Rasa sakit luar biasa sudah dirasakan begitu kontraksi pertama dimulai. Sebagian ibu menanggung rasa sakit ini dalam hitungan jam. Sebagian yang lain sampai berhari-hari. Puncaknya terjadi ketika seorang ibu harus mengeluarkan seluruh tenaga, menguras semua daya dan kekuatan, bersimbah darah terluka-luka demi kehadiran sang bayi di tengah keluarga. Dalam banyak kasus, seorang ibu harus berjuang mempertaruhkan nyawa untuk sebuah kelahiran. Berapa upah yang layak untuk tugas seberat ini?

Menyusui, apalagi sampai dua tahun adalah beban lain yang harus dipikul ibu. Menyusui, kelihatannya seperti urusan sepele saja. Padahal ibu harus menanggung rasa sakit ketika pertama kali sang bayi menghisap makanan dari tubuh ibunya. Air susu yang memadati payudara tidak jarang membuat badan ibu terasa panas dingin. Disamping itu, ibu harus menjaga gizi makanan agar bayi tumbuh sehat dan sempurna. Tengah malam dalam keadaan tidur nyenyak, tidak jarang ibu harus bangun menyusui atau mengganti popok sang bayi. Siang malam selama dua tahun, semua kenyamanan hidup diberikan untuk si kecil. Bahkan, dalam kondisi sakit sekalipun. Berapa upah yang layak untuk tugas seberat ini?

Mengasuh balita sampai berusia lima tahun adalah beban berikutnya yang harus dipikul ibu. Dari menyiapkan makanan khusus bayi, yang harus serba steril dari kuman. Popok dan pakaian yang setiap kali harus diganti dan dicuci. Tempat tidur yang nyaman dari gangguan nyamuk dan suara yang mengganggu kenyamanan tidur sang bayi. Sampai pada pencegahan agar bayi tetap sehat dan tumbuh berkembang menjadi anak yang cerdas. Dalam keadaan bayi sakit, seluruh waktu dan perhatian ibu tertuju pada bayi. Siang malam ibu tidak bisa tidur ketika buah hatinya terserang demam panas. Berapa upah yang layak untuk tugas yang tidak kenal waktu dan tidak kenal lelah ini?

Karena itulah kenapa dalam berbakti kepada kedua orangtua ibu diutamakan tiga kali dari ayah.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.” (HR: Bukhari dan Muslim)

Karenanya, sungguh sangat layak jika dikatakan bahwa surga berada di telapak kaki ibu.*/bersambung bagian Kedua

Jeddah, 22 Maret 2013

Penulis adalah anggota International Union for Muslim Scholars. Email: [email protected]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Fatimah, Wanita Idaman Semua Muslimah!

Fatimah, Wanita Idaman Semua Muslimah!

Anak-Anak Mendengar dengan Mata, Tidak dengan Telinga Mereka

Anak-Anak Mendengar dengan Mata, Tidak dengan Telinga Mereka

Wanita dalam Islam dan Cara Nabi Menghormati Istri

Wanita dalam Islam dan Cara Nabi Menghormati Istri

Anak Sholeh Investasi Tak Pernah Rugi

Anak Sholeh Investasi Tak Pernah Rugi

Jadikan Keluarga sebagai Pengikat Ketaatan, Bukan Musuh

Jadikan Keluarga sebagai Pengikat Ketaatan, Bukan Musuh

Baca Juga

Berita Lainnya