Dompet Dakwah Media

Mencintainya Tanpa Syarat

Sering orangtua menumpahkan kemarahannya tanpa memikirkan perasaan " buah hati”

Mencintainya Tanpa Syarat

Terkait

Cintai aku dengan tulus
Disaat aku membuatmu senang dan susah
Aku akan tahu bahwa aku dicintai
Dan membawa lebih banyak cinta kepada Dunia

ALKISAH, ada seorang guru sekolah dasar, telah melewati fase sulit dalam kelas hiperaktif-nya. Biasanya, sang guru mengeraskan intonasinya dengan nada tinggi untuk menegur murid-muridnya. Namun pada hari itu, ia pandangi dalam-dalam wajah muridnya satu-persatu dengan tatapan penuh harapan dan cinta. Terbersit dalam dirinya bahwa keberadaanya di kelas adalah semata-mata karena ia mencintai murid-muridnya.

Dipandanginya sekeliling ruangan dalam kelas beserta anak-anak yang tidak bisa diam tersebut. Sepontan sang guru mengucapkan sambil memandang anak-anak, “karena bu guru mencintai kalian semua mari satu pelajaran kita pakai untuk bermain bebas dengan tema “cinta.” (sambil merentangkan tangannya).

Di luar dugaan hampir seluruh siswa merangkulnya dan bersuka ria sesama temannya tanpa ada perasaan tertekan sedikitpun. “Terima kasih Bu, telah memberikan cinta kepada kami.” Ada rasa diguyur air dari langit, terasa ces di dada atas karunia yang tak ternilai, semenjak itu sang guru akan mendekati siswanya dengan cinta. Kedengarannya sepele, namun sesuatu yang sangat luar biasa!

Suasana seperti ini tidak menutup kemungkinan juga terjadi di rumah kita, di saat anak-anak kita sedang bertengkar atau berduel dengan saudaranya. Rasanya, membuat rumah berantakan seperti kapal pecah.

Wajah kita di rumah bisa dilihat manakala anak-anak kita merusakkan barang berharga milik kita. Apa kira-kira reaksi yang akan kita perbuat?. Apalagi jika kita dalam keadaan capek karena pulang dari kerja atau yang lain. Apa yang akan kita hadapi? marah dan kepala panas disertai dengan teriakan dan bentakan? Atau berteriak sambil membawa kayu?

Sejujurnya banyak orangtua yang tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika menghadapi suasana seperti itu. Saat itu, yang penting bagi para orangtua, mereka merasa puas dengan menumpahkan seluruh kemarahannya tanpa memikirkan perasaan “sang buah hati”.

Sayangnya, yang tidak banyak diketahui para orangtua, setiap kemarahan mereka (orangtua), baik dengan cara suara kasar, bentakan, pukulan atau reaksi-reaksi negative lain di depan anak-anak mereka sangat beresiko terhadap perkembangan psikologis mereka di masa depan yang tak akan terlupakan sepanjang hidup baginya. Bukan saat itu.

Sudah saatnya, kecintaan orangtua, harus dapat dikedepankan dengan kelembutan hati, tidak sekedar pemenuhan fasilitas dan kebutuhan. Kekerasan dan kekasaran bukan suatu cara yang dianjurkan oleh Islam.

Rasulullah Muhammad pernah diingatkan oleh Allah untuk menghindarkan kekerasan dan kekasaran.

Dalam QS Al-Imran 159, Allah berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat Allahlah kamu bersikap lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau berlaku keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada-Nya.”

Mudah-mudahan ayat di atas bisa menjadi pengingat kita, para orangtua.*

Masfufah, MA. Penulis konselor psikologi anak SD Integral Lukmanul Hakim, PP Hidayatullah Surabaya

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !