Bila “Dia” adalah Sumber Masalah

Kendali terhadap masalah ada pada diri kita. Masalah justru dapat menjadi ladang kebaikan dan penguat kasih sayang

Bila “Dia” adalah Sumber Masalah

Terkait

Hidayatullah.com—Permasalahan pasti tak akan pernah sepi dalam kehidupan berumah tangga. Permasalahan seringkali timbul dari ketidakpuasan kita pada pribadi pasangan atau sikap-sikap yang ditampakkan olehnya. Kondisi ini seringkali menimbulkan ketidaknyamanan, bahkan perselisihan yang kadang berujung pada pertengkaran hebat.

Menanyakan apa pangkal masalah tidak selalu dapat mendamaikan masalah. Karena, terkadang masalah bukan datang dari diri pasangan, tetapi justru dari diri kita sendiri. Bagaimana kita menyikapi kekurangan yang ada dalam diri pasangan, dari bagaimana kita memahami sikap yang diambil oleh pasangan, atau bahkan dari bagimana kita berkompromi dengan diri kita sendiri terhadap apa yang diputuskan oleh pasangan.

Jadikan Lebih Baik

Inilah yang kerap kali terlupa. Yang lebih sering kita lakukan adalah fokus pada objek masalah, pada “seperti apa bentuknya” masalah tersebut. Namun, kita lupa bahwa yang memiliki kendali untuk melihat sesuatu itu sebagai masalah atau bukan sesungguhnya adalah diri kita sendiri.

Mari sejenak undur diri dari pekatnya masalah, dari ketidaknyamanannya hati, dan dari keinginan untuk segera melihat masalah itu pergi. Tanyakanlah pada diri kita, sesungguhnya apa yang dapat kita lakukan untuk membuat sesuatu yang kita pandang masalah tersebut menjadi lebih baik.

Bila memang masalahnya ada pada sikap pasangan kita, maka lakukanlah apa yang dapat membuatnya “terbebas dari masalah”. Misalkan saja, bila masalahnya ia adalah “ice man” yang sangat minim ekspresi, bahkan tak pernah berbicara kecuali mengeluarkan perintah, maka sentuhlah hatinya untuk dapat sedikit merasakan indahnya mengekspresikan perasaan dalam kata-kata. Sentuhan tersebut dapat diberikan melalui perhatian-perhatian yang intens.

Jangan malu untuk memulai karena sesungguhnya yang meneguhkan anggapan bahwa pasangan kita adalah si “ice man” adalah diri kita sendiri. Maka, mulailah dari diri kita untuk memberikan perhatian tak kenal jemu karena kita berkeyakinan bahwa ia adalah sang “halfsoul of love”. Maka, suatu saat dengan pertolongan Allah yang Maha Penyayang, ia pun akan bergerak untuk menyayangi. Karena, Ia telah menjamin bahwa pernikahan yang senantiasa memohon perlindungannya adalah pernikahan yang akan menumbuhkan kasih-sayang, sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam surat Ar-Ruum ayat 21.

Mencegah Masalah

Marilah bergerak untuk menjadi orang yang berkontribusi untuk menjadikan sesuatu lebih baik ketimbang memandang sesuatu sebagai masalah. Selain kita dapat mengisi jiwa kita dengan pikiran-pikiran positif, kita juga dapat berperan untuk mencegah timbulnya masalah.

Bukankah, sesungguhnya kita tidak dianugerahi seorang yang kita inginkan untuk menjadi pendamping hidup kita? Melainkan seseorang yang menolong kita untuk lebih baik dan juga menolongnya untuk menjadi pribadi yang lebih dicintai? Dari kenyataan itulah hadirnya makna ketentraman di hati dalam sebuah pernikahan. Ketentraman yang merupakan buah dari kesigapan masing-masing pasangan untuk saling menolong melengkapi kekurangan, mengingatkan kekeliruan, dan mencegah timbulnya masalah.

Karena, memang tujuan pernikahan bukanlah sekadar berkutat pada masalah yang ada di depan mata. Namun, tujuannya menyatu dengan kehendak langit untuk menjadikan semesta tunduk bergerak di bawah kehendak-Nya, termasuk pasangan dan anak-anak kita tentunya.

Saat masalah menghinggapi, alangkah lebih berharga bila masalah justru menjadi kesempatan emas untuk berbuat kebaikan dan menjadi pribadi yang lebih baik, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah saw: “Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang orang yang sedang kesulitan, niscaya Allah mudahkan baginya di dunia dan di akhirat dan siapa menutupi (aib) seorang Muslim, Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan di akhirat.” (HR.Muslim)

Marilah menerapkan wasiat Rasulullah ini, terutama pada pasangan kita. Tentu masalah akan segera berubah menjadi ladang amal kebaikan dan kasih sayang semakin bertambah.*

Kartika Trimarti, penulis lepas dan ibu rumah tangga tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Rep: Ibnu Syafaat

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !