Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Hikmah

Mulia karena Memberi Manfaat

muh. abdus syakur/hidayatullah.com
Bagikan:

Oleh Masrokan

Hidayatullah.com–Syaikh Aidh Al-Qarni dalam Laa Tahzan-nya berkisah, “Suatu ketika, saya i’tikaf di Masjidil Haram pada saat cuaca sangat panas, sekitar satu jam menjelang shalat Zhuhur. Tiba-tiba seorang lelaki yang sudah sangat tua berdiri dan memberikan air dingin kepada orang-orang yang hadir di tempat itu. Kedua tangannya masing-masing memegang gelas. Dia memberi minum jama’ah shalat dengan air Zam Zam.

Setelah seseorang selesai minum, dia kembali mengambil air dan memberi minum kepada yang lain. Sudah sekian banyak orang yang telah dia beri minum. Saya lihat keringatnya mengucur deras, sedangkan orang-orang hanya duduk menunggu giliran mendapatkan air minum dari orang tua itu. Saya kagum pada semangat, kesabaran dan kecintaannya kepada kebaikan, serta wajahnya yang selalu menebar senyum saat memberi minum.

Akhirnya, saya tahu bahwa kebaikan itu sangat mudah dilakukan oleh siapa yang dimudahkan Allah untuk melakukannya. Allah memiliki simpanan kebaikan yang banyak sekali, yang akan dikaruniakan kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah juga mengalirkan keutamaan, meski sedikit, kepada orang-orang baik yang senang melakukan kebaikan kepada sesama. Dan Allah tidak senang melihat keburukan menimpa sesama.” (La Tahzan, Syaikh Aidh Al Qarni).

Menjaga Kemuliaan Diri

Manusia adalah makhluk Allah yang diberi kelebihan di atas makhluk lainnya. Bentuknya lebih sempurna dan lebih bagus daripada jenis mahkluk yang lain. Manusia dapat berdiri tegak di atas kedua kakinya, makan dan minum dengan kedua tangannya. Sedang jenis makhluk binatang berjalan di atas empat kakinya, makan dan minum dengan mulutnya. Manusia dikaruniai pendengaran, penglihatan dan hati yang berguna untuk memahami dan meneliti segala sesuatu, membedakan yang bermanfaat dan yang mudharat dalam soal duniawi maupun ukhrawi.

Manusia dikaruniai rezeki berupa makanan dari daging, buah-buahan, susu dan jenis makanan lain yang lezat. Manusia juga dapat menutupi tubuh dan auratnya dengan pakaian yang dibuatnya sendiri dari berbagai ragam bahan yang dikaruniakan Allah kepadanya. Demikianlah kelebihan manusia dibanding makhluk lainnya. Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Al Israa : 70).

Dengan berbagai kelebihan itu, manusia berpeluang menjadi hamba Allah yang terbaik dan termulia. Namun patut dicatat, manusia tak serta merta akan tetap mulia dengan berbagai kelebihan yang dimiliki itu. Kemuliaan itu akan sirna bila tak dijaga. Upaya menjaga kemuliaan itu di antaranya dengan berperilaku mulia. Seperti itulah semestinya orang beriman.

Patutlah kita renungi firman Allah SWT:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ

ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سَافِلِيْنَۙ –

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍۗ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus putusnya.“ (At Tiin: 4-6).

Ayat tersebut menjelaskan, awalnya manusia diciptakan Allah dalam sebaik-baik bentuk. Setelah lahir ke dunia, berangsurlah manusia itu bertubuh kuat dan bisa berjalan. Akal pun berkembang, sampai dewasa, sampai puncak kemegahan umur.

Kemudian, manusia dikembalikan ke tempat yang serendah-rendahnya. Maksudnya, kekuatan tubuh yang awalnya kuat dan gagah berangsur menurun. Berangsur pula menjadi tua. Badan dan pikiran pun menjadi semakin lemah. Tenaga juga makin berkurang. Di saat itulah, manusia kembali menjadi seperti anak-anak, berharap akan belas kasih anak cucu.  

 Ringan Menebar Manfaat

Apa yang dilakukan oleh orangtua pada kisah di atas, patutlah menjadi spirit bagi kita untuk ringan menebar manfaat. Meski usianya telah senja, tapi semangatnya untuk menebar manfaat masih tetap menyala. Tentu, kita juga semestinya seperti itu. Apalagi bila usia kita masih muda, mestinya lebih bersemangat lagi untuk menebar manfaat.

Potensi apa saja yang kita miliki, seperti usia muda, tubuh yang kuat, akal yang cerdas, harta dan kuasa yang kita miliki dan potensi lainnya, patutlah kita jadikan energi untuk menebar manfaat. Sehingga potensi yang ada ini menjadikan kita sebagai hamba terbaik. Kita meyakini, orang terbaik bukan sekedar yang berharta banyak, berkedudukan dan berstatus sosial tinggi. Tetapi, orang terbaik adalah orang yang bisa memberikan yang terbaik untuk sesamanya.

Rasulullah SAW bersabda,

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (Hr. Daruqutni dan At-Thabrani).

Menjadi apapun dan di manapun, seyogyanya kita tampil sebagai sosok yang ringan menebar kebaikan. Sehingga kehadiran kita tak sekedar menambah jumlah. Tetapi, kehadiran kita betul-betul bisa memberi arti. Orang lain berbahagia dengan kehadiran kita. Sebab, selalu manfaat dan kebaikanlah yang kita tebarkan.

Menebar kebaikan tidaklah sulit. Kuncinya adalah kemauan. Potensi apapun yang kita miliki bisa menjadi sarana untuk menebar manfaat. Harta berlebih, bisa kita sedekahkan kepada orang yang tak berpunya. Ilmu yang kita miliki bisa kita ajarkan kepada orang lain. Hingga kekuasaan yang kita genggam, bisa kita manfaatkan untuk menolong orang yang terdzalimi, mengeluarkan kebijakan yang berpihak kepada kemashlahatan orang banyak.

Allah SWT menyerukan, “……Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu……” (Al Qashash : 77).

Memberi itu Bahagia

Syaikh Aidh Al-Qarni menuturkan, “Orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat memberi itu adalah pihak yang memberi itu sendiri. Mereka akan merasakan ‘buah’ memberi seketika itu juga, dalam jiwa, akhlaq dan nuraninya. Sehingga mereka selalu lapang dada, merasa tenang, tenteram dan damai.”

Sungguh, umur kita di dunia ini amat terbatas. Maka, tebarkanlah manfaat sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya dalam waktu yang terbatas ini. Dengan spirit menebar manfaat ini, sebenarnya kita telah membuat umur yang terbatas ini menjadi panjang tak terbatas. Karena kebaikan-kebaikan yang telah kita ukir akan terus dikenang. Jasad kita boleh tertanam di bumi, tapi kebaikan-kebaikan kita akan selalu dikenang di muka bumi. Meski umur biologis kita telah berakhir, tapi ukiran kebaikan kita akan berumur panjang tak terbatas. Untuk itu, marilah kita berlomba menebar kebaikan di tengah kehidupan. Allahu a’lamu bishshowab.

*Pengasuh Pesantren Hidayatullah Kendari, Sulawesi Tenggara

Rep: Ahmad
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Lari dari Damaskus Hindari Ujub

Lari dari Damaskus Hindari Ujub

Shalat Ditunggu, Tidak Menunggu

Shalat Ditunggu, Tidak Menunggu

At Tsauri pun Menilai Dirinya Bermasalah

At Tsauri pun Menilai Dirinya Bermasalah

Ilmu Berbahaya Jika Tidak Merubah Akhlak

Ilmu Berbahaya Jika Tidak Merubah Akhlak

“Tidak Tahu” yang Menunjukkan “Tahu”

“Tidak Tahu” yang Menunjukkan “Tahu”

Baca Juga

Berita Lainnya