Kamis, 20 Januari 2022 / 16 Jumadil Akhir 1443 H

Hikmah

Sunnah Nabi dalam Memperlakukan Binatang

TEMPO
Hewan piaraan di Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang mati satu-persatu
Bagikan:

Oleh: Ali Akbar bin Aqil

BAGI masyarakat Jawa Timur Kebun Binatang Surabaya (KBS) merupakan salah satu tempat favorit mengisi hari liburan. Penulis sendiri di masa kecil beberapa kali berkunjung bersama keluarga. Rasanya asyik dan menghibur. Anak-anak yang lain juga riang gembira setiap mendengar akan diajak ke kebun yang berdiri sejak zaman Belanda. Konon KBS pernah menjadi kebun binatang terbesar di Asia Tenggara.

Namun, kini setiap menyebut KBS yang terlintas dalam benak adalah suasana suram dan pahit. Bagaimana tidak, satu demi satu binatang piaraan di dalamnya mati secara tak terduga dan misterius. Hewan-hewan yang mati biasanya dalam kondisi buruk, tubuh penuh luka dan kurus karena salah urus.

Kematian Singa Afrika dengan nama Micahel berusia 1,5 tahun adalah salah satu contohnya. Kematian singa jantan ini semakin menambah daftar kematian hewan sebelumnya.  Diduga Michael sengaja dibunuh sebagai ajang balas dendam pengurus lama kepada pengurus baru. Sehingga muncul istilah KBS sebagai Kebun Kematian. Ya, kebun yang menjadi neraka bagi hewan-hewan di dalamnya karena kurangnya perhatian yang berimbas pada kesehatan dan kelayakan hidup bagi hewan-hewan yang ada.

Dalam Islam hewan sama seperti halnya manusia, harus dihormati dan dipenuhi hak-haknya. Binatang membutuhkan asupan makanan dan minuman layak konsumsi agar dapat hidup dengan baik. Rasul SAW telah memberi contoh soal menangani dan memelihara hewan. Dalam buku berjudul “Muhammad al-Insan al-Kamil” karya as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, kita temukan sejumlah peristiwa yang langsung dialami oleh Rasulullah ketika berinterkasi dengan hewan. Interaksi ini sekaligus menjadi teladan bagi para pemelihara binatang dalam menangani hewan secara manusiawi.

Dalam buku yang sudah diterjemahkan oleh Hasan Baharun dengan judul Insan Kamil: Sosok Keteladanan Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, setidaknya ada Lima riwayat dalam menyayangi dan memperlakukan hewan. Riwayat pertama, pada suatu saat beliau melewati sebuah jalan lalu melihat ada seekor onta yang kurus kering, merana terlilit rasa lapar yang sangat. Melihat kondisi mengenaskan yang dialaminya Rasul angkat bicara, “Takutlah kalian kepada Allah dalam memperlakukan hewan-hewan ini. Tunggalilah ia dengan baik-baik. Makanlah dagingnya juga dengan baik-baik.” (HR. Abu Dawud)

Riwayat kedua, masih tentang seekor onta. Kali ini Rasul memasuki kebun milik seorang Kaum Anshar. Di dalamnya ada seekor onta yang tengah merintih dan menitikkan air mata. Nabi turun dari kendaraannya lalu mengelus-elus bagian belakang telinganya sampai ia merasa tenang. Sejurus kemudian, Nabi bertanya, “Siapa pemilik onta ini?” Seorang Anshar datang mengaku sebagai pemiliknya. Nabi berkata kepadanya, “Apakah kamu tidak takut kepada Allah dalam memperlakukan hewan  yang telah dianguerahkan kepadamu ini? Baru saja ia mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya kelaparan dan kepayahan karena banyaknya pekerjaan dan tumpukan beban di luar kemampuannya.” (HR. Ahmad, Adu Dawud dan Hakim).

Selain kedua riwayat tersebut, dalam riwayat yang lain Nabi pernah menjumpai beberapa orang sedang berbincang-bincang dengan kondisi duduk di atas hewan masing-masing. Melihat kejadian ini Nabi tidak diam diri. Beliau melakukan advokasi  atas hewan-hewan malang yang ditunggangi secara tidak semestinya. Nabi berkata kepada mereka, “Naikilah mereka dengan baik dan biarlah beristirahat melepas lelah dengan baik-baik. Jangan kalian menjadikan punggungnya sebagai kursi ketika kalian sedang saling berbicara. Bisa jadi yang dinaiki lebih banyak berzikir kepada Allah daripada orang yang naik di atasnya.” (HR. Ahmad, Abu Ya`la dan Thabrani).

Riwayat keempat, ada seorang anak mengambil dua ekor burung dari sarangnya, sehingga induknya mencari-cari ke sana kemari. Nabi bertanya, “Siapakah yang sudah mengusik ketenangan burung itu, siapakah yang mengganggunya? Kembalikan kedua anaknya ke tempat semula.” Dalam kesempatan yang lain, Nabi melarang kita untuk menyia-siakan hidup seekor burung, dijadikan sasaran permainan. Sabda beliau, “Siapa yang membunuh burung dengan sia-sia, maka burung itu akan datang pada Hari Kiamat dengan suara yang keras mengadu kepada Tuhan, ‘Ya Tuhan si fulan merampas nyawaku, menganiayaku dan membunuhku tanpa suatu yang bisa dimanfaatkan olehnya sehingga aku mati sia-sia.” (HR. Abu Dawud).

Riwayat kelima, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, “Tajamkanlah pisau terlebih dahulu, sebelum hewan yang disembelih itu akan dibaringkan.” (HR. Thabrani).

Semua riwayat di atas menjadi petunjuk tentang bagaimana seharusnya kita tidak berlaku semena-mena kepada siapa saja termasuk kepada binatang. Karenanya, Allah murka kepada seseorang yang menyiksa hewan kucing piaraannya sampaia mati mengenaskan. Si kucing yang malang itu tidak dberi makan, dibiarkan lapar sampai mati menggelepar. Allah masukkan ia ke dalam neraka karena perbuatannya ini.

Adalah sebuah keniscayaan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam memang seorang Rasul yang menjadi penyebar kasih sayang kepada seluruh makhluk di alam semesta, termasuk hewan. Islam tidak memberi tempat sekecil apapun terhadap kesewenang-wenangan atas semua makhluk.*

Penulis pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Malang

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Mencampuri Urusan Allah

Mencampuri Urusan Allah

Ketika Ada yang Menyebut Anda Bodoh

Ketika Ada yang Menyebut Anda Bodoh

Selamat dari Wabah Tha’un Setelah Buang Minuman Keras dari Rumah

Selamat dari Wabah Tha’un Setelah Buang Minuman Keras dari Rumah

Sikap Ulama, Saat Wanita Buang Angin di Dekatnya

Sikap Ulama, Saat Wanita Buang Angin di Dekatnya

Imam An Nawawi Mencintai “Bubur Kisyk” Sekaligus Sahabatnya

Imam An Nawawi Mencintai “Bubur Kisyk” Sekaligus Sahabatnya

Baca Juga

Berita Lainnya