Menguak Sejarah Ilmu Kentut, Flatologi [Bagian 3]

Dr. Levitt mencari biang keladi penyebab ledakan berlebihan gas perut pasiennya. Usahanya tidak sia-sia.

Terkait

 
oleh: Catur Sriherwanto

Hidayatullah.Com – Sebagaimana diuraikan di bagian ke-1 tulisan ini, datangnya seorang pasien kepada Dr. Levitt alias si “Dokter Kentut” mendorong dimulainya penelitian mengenai gas kentut. Tingkat keseringan, volume gas dalam satu kali semburan, serta jenis-jenis gas pembentuk kentut menjadi informasi penting yang didapatkan dalam penelitian itu, dan hal ini telah diuraikan di bagian ke-2.

Selanjutnya yang penting untuk dikaji ilmiah adalah apa yang menyebabkan perbedaan kentut pada setiap orang, baik dalam hal aroma, volume, dan tingkat keseringan? Ternyata Dr. Levitt menemukan bahwa ketidaksamaan ini kurang ditentukan oleh perbedaan kondisi tubuh manusia, namun lebih kepada apa yang masuk ke saluran pencernaan makanan mereka.  

Penggolongan makanan

Dalam ilmu gizi dan ilmu makanan telah diketahui bahwa terdapat beragam jenis karbohidrat atau hidrat arang yang dikandung makanan. Namun menurut Dr. Levitt tidak semua karbohidrat ini mampu dicerna oleh organ pencernaan makanan pada manusia. Ada karbohidrat yang hanya tersusun atas satu atau dua molekul gula sederhana; dan ini mudah dicerna manusia. Tapi sebagian karbohidrat lain ada yang terdiri dari tiga atau empat molekul gula; dan sulit diuraikan oleh organ-organ pencernaan makanan pada manusia.  

Ketika karbohidrat golongan ini tidak tercerna dan kemudian langsung memasuki usus besar, maka karbohidrat ini akan menjadi mangsa empuk bagi beragam mikroba yang menghuni usus besar. Mikroba inilah yang memanfaatkan kehadiran karbohidrat yang tak mampu dicerna tubuh ini, dan menguraikannya menjadi zat-zat lebih sederhana, termasuk gas.

Penelitian flatologi ini pun memunculkan pengelompokan makanan berdasarkan dampaknya terhadap buang angin. Kelompok pertama adalah bahan makanan yang mengandung zat hidrat arang rumit (sulit tercerna) dengan kadar paling rendah, sehingga berdampak pada produksi gas kentut paling sedikit pula. Termasuk dalam kelompok ini adalah daging, ikan, anggur, buah berry, keripik kentang, kacang-kacangan (bukan dari jenis legum), dan telur. Golongan makanan ini dikenal pula dengan istilah “normoflatugenic”, yakni pemicu gas kentut dalam jumlah normal.

Kelompok kedua adalah bahan-bahan makanan yang menghasilkan gas perut dalam jumlah lebih banyak dari kelompok pertama. Kue kering, kentang, jeruk, apel, dan roti termasuk dalam kelompok ini karena mengandung sejumlah karbohidrat berupa gula-gula rumit yang sulit tercerna pencernaan manusia, dan karenanya berpeluang memicu pembentukan hawa usus..  

Golongan terakhir, yakni makanan dengan daya ledak gas perut tertinggi, tidak lain dan tidak bukan adalah gula-gula atau hidrat arang jenis rumit dan sulit dicerna dalam tubuh manusia. Di antara “bahan peledak” yang dapat dimakan ini adalah kacang-kacangan (dari jenis legum), wortel, anggur kering (kismis), pisang, bawang, susu maupun bahan-bahan makanan yang dihasilkan dari susu.  
 
Golongan makanan terakhir inilah yang menjadi perhatian Dr. Levitt di saat mulai menangani pasien pengidap buang gas berlebihan itu. Biang keladi penghasil gas perut berlebihan itu dicari dengan cara  mengubah-ubah jenis makanan yang dimakan sang pasien.  

Uji coba “bahan peledak”

Selama 3 pekan pertama penanganan ini, sang dokter membatasi si pasien agar hanya memakan bahan makanan jenis “normoflatugenic”, yakni yang menyebabkan keluarnya gas perut dalam jumlah wajar atau paling rendah. Hasilnya pun segera terlihat: tingkat keseringan buang gas mengalami penurunan, dari 34 kali menjadi kurang dari 17 letupan gas per hari, dengan kata lain dalam batas kewajaran.  

Pasca masa percobaan awal itu, Levitt dan pasiennya melakukan uji coba terhadap kecenderungan berkurangnya kebiasaan kentut berlebihan pada sang pasien. Kali ini sang pasien diminta menambahkan sekitar 1 liter susu dalam menu makanannya. Sebagaimana disebut sebelumnya, susu tergolong bahan makanan dengan daya ledak perut tertinggi.

Apa yang kemudian terjadi? Dalam 24 jam setelah susu itu ditelan, sang pasien memberondongkan letupan gas perutnya sebanyak 90 kali. Enam puluh di antaranya terjadi dalam kurun waktu 3 jam saja. Penyebab yang masuk, dan dampak yang dikeluarkannya itu sedemikian cepat dan langsung sehingga Dr. Levitt tahu bahwa ia telah menemukan biang keladi ledakan hawa usus yang melebihi ambang batas kewajaran itu.

Kambing hitam ditemukan

Kambing hitam pemicu kentut berlebihan itu pun akhirnya dikenali. Dr. Levitt menyimpulkan bahwa pasiennya itu tidak tahan terhadap laktosa, yakni gula atau zat hidrat arang yang dikandung susu. Ketidaktahanan si pasien terhadap laktosa (gula susu) ini dikarenakan sistem pencernaannya tidak memiliki enzim yang dibutuhkan untuk mencerna gula susu itu.  

Ketika sang pasien meminum susu, maka laktosa itu langsung masuk ke dalam usus besar yang di dalamnya terdapat bakteri-bakteri yang akan membantu mencerna gula susu itu untuknya. Pencernaan bakteri inilah yang menghasilkan gas.

Pada banyak pasien yang tidak tahan terhadap gula susu ini, konsumsi susu memicu pembentukan hawa perut. Pada pasien Dr. Levitt ini, tingkat ketidaktahanan terhadap susu sangatlah parah, demikian pula ledakan gas perut yang diakibatkannya.

Penanganan permasalahan sang pasien itu ternyata sederhana, tak lebih dari sekedar menjaga agar menu makanan yang dimakannya termasuk dalam golongan bahan makanan pemicu ledakan gas perut tingkat rendah. Kalaupun ia hendak mengonsumsi susu, maka harus disertai pula dengan mengonsumsi laktase dengan dosis tertentu. Laktase adalah enzim yang membantu menguraikan gula susu, laktosa.

Merambah berbagai bidang

Di tahun-tahun berikutnya, Levitt pun kehilangan kontak dengan sang pasien. Akan tetapi, meskipun teka-teki permasalahan pasiennya telah dipecahkan dan dapat diatasi, Dr. Levitt tidak begitu saja melupakan apa yang telah dirintisnya di bidang ledakan gas perut ini. Dalam beberapa puluh tahun berikutnya, Dr. Levitt giat meneliti dan menerbitkan tulisan ilmiah sehingga ilmu kentut semakin berkembang dan maju.  

Kini, ilmu kentut tidak hanya dibahas oleh terbitan-terbitan ilmiah di bidang kedokteran, namun telah pula merambah berbagai bidang lain seperti ilmu kimia, makanan, pertanian, mikrobiologi, bioteknologi, kesehatan, lingkungan, farmasi dan industri. Tak hanya itu, berbagai teknologi dan produk industri yang berhubungan dengan kentut (flatulence) pun telah dipatenkan dan beredar di pasaran. (bersambung)

ilustras :http://www.ars.usda.gov

Rep: Admin Hidcom

Editor: Administrator

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik:

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !