Senin, 27 September 2021 / 20 Safar 1443 H

Gaya Hidup Muslim

Berobat dengan Kitab Syama’il

Bagikan:

Dunia sekarang ini sedang kering dan sakit. Maka jadikan cinta kepada Rasulullah ﷺ sebagai obatnya

Hidayatullah.com | KALAU kita masuk ke platform Youtube dan kita ingin menyaksikan video sebuah lagu dari penyanyi terkenal, niscaya setelah official music video dan official lyric, kita akan menyaksikan di bawahnya beberapa orang mengcover lagu itu. Mengcover lagu artinya seseorang menyanyikan lagu yang bukan lagunya sendiri.

Biasanya orang biasa yang mencover suatu lagu karena merasa memiliki suara yang mirip dengan penyanyi aslinya. Cover lagu juga biasa dilakukan pada instrumen musik seperti piano, gitar, flute, dan lain-lain. Mencover sama dengan meniru.

Lagu Michael Jackson yang terkenal berjudul Heal the World (Sembuhkan Dunia) beberapa waktu lalu juga dicover dengan instrumen angklung yang dilakukan secara masal oleh para tenaga kesehatan (Nakes) dan pasien Covid-19 di Wisma Atlet Jakarta. Selain untuk menghibur, baik yang di Wisma Atlet, di rumah sakit maupun isoman di rumah, mengcover lagu ini memiliki harapan agar pandemi segera berlalu.

Mencover atau dalam bahasa lain memodel adalah cara yang mudah dan cepat dalam menjadikan kita mirip dengan yang kita cover. Ilmu NLP (Neuro Linguistic Programming) yang biasa dipakai untuk pelatihan motivasi pada dasarnya juga covering atau modelling dari tokoh yang ingin kita contoh.

Metode NLP yang dikembangkan oleh Richard Bandler dan John Grinder itu awalnya dalam rangka memodel Fritz Perls, seorang gestalt therapist (disambung nulisnya ya, kalau dipisah the rapist, artinya beda jauh) dan Virginia Satir, seorang family therapist yang mampu menciptakan perubahan signifikan terhadap pasien-pasien mereka. Saat kedua tokoh itu melakukan terapi, dianalisis kalimat-kalimat yang biasa dipakai hingga perilakunya. Kemudian dijadikan suatu formula. Dari modelling seperti itu lahirlah ilmu NLP.

Dalam kehidupan sehari-hari tanpa sadar kita pun sering memodel orang lain. Misal, ada orang yang sudah sepuh dan tetap sehat lalu kita tanya, “Subhanallah, Bapak sudah berumur 90 tahun tapi masih tetap sehat dan semangat. Apa rahasianya pak?”

Lalu beliau menuturkan beberapa hal dan kita pun mengikutinya agar bisa seperti bapak tersebut, berumur panjang dan tetap sehat. Terhadap orang yang sudah sembuh atau pernah mengalami sakit, kita pun bertanya kepadanya bagaimana caranya sembuh dengan cepat. Makanan dan minuman apa yang dikonsumsi. Apa-apa yang harus dilakukan (the Do’s) dan apa-apa yang tidak boleh dilakukan (the Don’ts).

Lalu kita pun mengikutinya. Jadi, jika kita ingin seperti orang tersebut yang sudah berhasil melaluinya, kita pun akan mencoba memodel sebagian perilaku atau sesuatu yang pernah dilakukannya.

Rasulullah Muhammad ﷺ adalah manusia sempurna. Tutur kata dan perbuatannya sungguh luar biasa. Beliaulah manusia yang mempunyai kesempurnaan akhlak karena Allahlah yang menjaganya. Bahkan diamnya beliau pun diikuti.

Pada diri beliau ada suri tauladan yang baik (uswatun hasanah). Sudah berapa buku dan cabang ilmu terlahir dari sosok manusia pilihan ini. Bahkan dalam ilmu balaghah (sastra Arab) berkembang cabang ilmu Bayan, ilmu Badi’ dan ilmu Ma’ani yang kesemuanya memodel perkataan yang biasa Rasulullah saw ucapkan.

Rasulullah ﷺ juga sosok yang selalu menjaga fisik agar tetap bugar sehingga tidak ada penyakit yang menyerang. Beberapa kali beliau memberikan nasihat kepada para sahabatnya tentang bagaimana pola hidup sehat, baik dalam mengkonsumsi makanan, kebugaran tubuh dan senantiasa berpikiran positif.

Maka, sudah sepantasnya sosok Rasulullah ﷺ ini dijadikan teladan yang sepatutnya kita jadikan model. Lalu bagaimana cara memodel diri Rasulullah?

Kita patut berterima kasih kepada para ulama jaman dulu yang sudah mengumpulkan riwayat-riwayat tentang sosok Rasulullah. Itulah yang dalam kitab hadits disebut dengan Kitab asy-Syamail. Ada banyak Kitab Syamail, tapi yang paling terkenal adalah Kitab Syamail karangan Imam at-Tirmidzi yang berjudul Asy-Syamail al-Muhammadiyah, selanjutnya disingkat Syamail saja.

Kitab Syamail ini terdiri dari 56 bab dan 417 hadits yang bercerita tentang sosok Nabi saw baik fisik, tindakan maupun tutur katanya. Mulai dari postur tubuh, rambut, uban, pakaian, sendal, cincin, pedang, baju, surban, sarung, gaya berjalan, posisi duduk, bersandar maupun berdiri, adab makan, roti dan menu kesukaan, senyum, senda gurau, diskusi, cara tidur, ibadah, tangis, akhlak, kesederhanaan hidup dan masih banyak lagi.

Jika kita membaca dan mempelajarinya, kitapun paling tidak bisa mencontoh atau memodelnya. Semua sosok mulia itu dirangkum di dalam Kitab Syamail. Alhamdulillah sudah banyak terjemahannya dalam Bahasa Indonesia termasuk syarahnya. Jadi tidak ada alasan untuk tidak mempelajarinya.

Imam Qadhi Iyadh mengarang kitab berjudul asy-Syifa dan didalamnya beliau menyuruh kita berobat dengan mengenali sosok Nabi ﷺ. Dalam syairnya: Orang-orang berkata (pada Qadhi Iyadh), “Aku lihat engkau mencintai kitab asy-Syifa, engkau kabarkan di dalamnya tentang al-Musthofa (Nabi Muhammad saw).” Lalu dijawab oleh Qadhi Iyadh, “Karena aku sedang sakit hati (fuad)-nya, dan setiap orang sakit mencintai asy-Syifa.” Qadhi Iyadh menyembuhkan orang sakit dengan memperkenalkan secara mendalam sosok baginda Nabi ﷺ, tentu agar kita bisa menirunya.

Ketika seseorang terkena atau dinyatakan positif Covid-19, selain diberikan nasihat ini itu untuk mengerem laju berkembangnya virus secara fisik, maka sering diberikan saran begini, “Yang penting mental/psikis jangan drop.” Mental yang jatuh akan menurunkan imunitas dan virus mudah menyerang serta berkembang biak dalam tubuh.

Maka, penting imunitas itu dijaga dan diperkuat. Imun muncul dari hormon dan syaraf-syarat yang dikendalikan dari hati (fuad). Sedangkan jika hati itu selalu terinspirasi dan terhubung dengan sosok Nabi ﷺ maka imunitas tubuh tidak akan terganggu. Dengan demikian, masuk akal jika orang sakit diobati dengan kecintaan kita pada Nabi ﷺ. Guru saya KH Didin Hafidhuddin dalam suatu kajian pernah menyatakan, “Dunia sekarang ini sedang kering dan sakit. Maka jadikan cinta kepada Rasulullah ﷺ sebagai obatnya.”

Rasulullah ﷺ memerintahkan kita ketika sakit berobat. Maka segala bentuk ikhtiyar kita coba, termasuk berobat dengan mencintai Nabi saw melalui wasilah (perantara) Kitab Syamail Muhammadiyah.

Anak saya saat ini sedang KKN di Jogja dan hasil tes swab menunjukkan dia positif Covid-19. Kami pun dari Bekasi mengirim berbagai macam kebutuhan melalui kawan dan saudara di Jogja.

Tak lupa saya juga kirim Kitab as-Syamail serta saya minta membacanya ulang (kami pernah menambatkan kitab ini bersama-sama sekeluarga di awal pandemi tahun lalu). Mohon doa dari pembaca agar dia diberikan kesabaran dan segera Allah angkat penyakitnya.

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari berbagai macam penyakit termasuk Covid-19 yang sudah cukup parah ini dan menyembuhkan saudara-saudara kita yang saat ini tengah menderitanya. Kita berharap ujian ini sudah cukup dan sudah menyadarkan kita semua sehingga Allah berkenan mengangkat pandemi ini dari bumi Indonesia. Amiin ya Rabb.*/ Budi Handrianto, peneliti INSISTS

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad

Bagikan:

Berita Terkait

Mengerem dampak Miras dengan Ingat Mati

Mengerem dampak Miras dengan Ingat Mati

Seni Mendidik Buah Hati

Seni Mendidik Buah Hati

Rasulullah Sangat Memuliakan Hari Jumat

Rasulullah Sangat Memuliakan Hari Jumat

Empat Tips Amaliah Mengisi Ramadhan

Empat Tips Amaliah Mengisi Ramadhan

Menjadi Tetangga Yang Baik Termasuk Tanda Iman

Menjadi Tetangga Yang Baik Termasuk Tanda Iman

Baca Juga

Berita Lainnya