Selasa, 4 Mei 2021 / 22 Ramadhan 1442 H

Gaya Hidup Muslim

Ini yang Diteladankan Nabi di Akhir Ramadhan

Hidayatullah Zakhi
Bagikan:

Hidayatullah.com | IBNU Umar Radhiyallahu anhu berkata, ”Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam selalu melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari Muslim).

Secara bahasa, menurut Imam Nawawi di dalam Riyadhus Sholihin, i’tikaf berarti menahan. Sedangkan secara istilah syariat berarti tinggal di masjid untuk beribadah dalam jangka waktu tertentu.

Hadits di atas, menurut Imam Nawawi menjelaskan secara gamblang bahwa umat Muslim diperintahkan melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana dicontohkan Rasulullah .

“Kegiatan ini baik untuk menjernihkan hati, menyibukkan diri secara utuh untuk ketaatan, meniru perilaku malaikat, dan sebagai upaya mendapatkan Lailatul Qadar,” urai Imam Nawawi lebih lanjut.

Baca: Menjelang 10 Hari Terakhir Ramadhan

Kemudian, Aisyah Radhiyallahu anha juga menjelaskan apa yang dilakukan Nabi pada 10 hari terakhir Ramadhan.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر – أي العشر الأخير من رمضان – شد مئزره، وأحيا ليله، وأيقظ أهله . متفق عليه

“Adalah Rasulullah ﷺ apabila memasuki 10 terakhir Ramadhan, beliau mengencangkan tali sarungnya (yakni meningkat amaliah ibadah beliau), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan istri-istrinya.” (HR. Bukhari Mulim).

Demikianlah Rasulullah meneladankan bagaimana mengisi 10 hari terakhir Ramadhan. Berusaha semaksimal mungkin fokus dalam ibadah dan memutus sementara waktu dengan segala urusan keduniawian. Terlebih dalam rentang 10 haari terakhir Ramadhan itu ada yang namanya Lailatul Qadar, satu malam yang nilainya setara dengan 1000 bulan alias 83 tahun, bahkan pada hakikatnya, jauh lebih baik dari angka tersebut.

Dalam kata yang lain, 10 hari terakhir mesti menjadi puncak usaha umat Islam dalam ibadah, yang awalnya sebatas hatam Al-Qur’an, sekarang bagaimana hatam dan paham maknanya. Pendek kata, meningkat ibadah, meningkat pencerahan di dalam diri. Itulah mengapa 10 hari terakhir Ramadhan disunnahkan i’tikaf, agar proses menuju tangga taqwa kian mudah untuk digapai.

Baca: Sedihnya Pisah dengan Orang-orang Shaleh di I’tikaf

Sebab, 10 hari terakhir Ramadhan adalah momentum perpisahan, dimana segala perilaku yang positif di dalam diri mesti tetap terjaga di luar Ramadhan, dan segala amal sholeh yang dilakukan di bulan Ramadhan, terus menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan diri dan keluarga sepanjang hayat.

Tantangan terberatnya adalah bagaimana menjadikan Ramadhan tetap hidup dalam rentang waktu 11 bulan ke depan, terutama setelah beberapa hari lepas dari Ramadhan, saat lebaran dan selanjutnya.

Oleh karena itu, 10 hari terakhir Ramadhan inilah penentu, karena momentum tersebut adalah puncak dari tarbiyah diri, puncak dari jihad, puncak dari mujahadah, yang tentu saja harus benar-benar dapat difokuskan dan dipertahankan. Inilah momentum pembebasan yang harus benar-benar diraih dalam bulan Ramadhan.

Baca:  “Mumpung Belum 10 Terakhir Ramadhan, Kejar Lailatul Qadr dengan Doa”

Lantas apa saja yang harus dilakukan selama 10 hari terakhir Ramadhan, terutama bagi yang melakukan i’tikaf?

Pada hakikatnya sangat banyak yang bisa dilakukan. Namun garis besarnya bisa dilihat beberapa yang populer, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an (tentu secara kualitatif dan kuantitatif). Kemudian memperbanyak istighfar, memperbanyak sholawat atas Nabi Muhammad. Mensucikan diri dengan membayar zakat fitrah. Dan, menjauhi sifat dusta.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari). Berkata dusta di sini, termasuk fitnah.

Kemudian, meninggalkan perkataan yang sia-sia (lagwu) dan rofats (kata-kata negatif alias jorok).

Memperbanyak sholat sunnah, terutama saat malam tiba, bisa sholat Tarawih dan sholat Witir, serta qiyamul lail. Semua amalan itu akan lebih mudah terlaksana jika diri menjalani ibadah i’tikaf.

Sebab, i’tikaf merupakan amalah sunnah yang bsersifat preventif, sehingga seorang Muslim terhindar dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat di waktu-waktu luan yang dimilikinya, khususnya di bulan Ramadhan.

Lantas bagaimana jika kemudian karena hal-hal tertentu seorang Muslim tidak bisa melakukan i’tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan?

Baca: Merindui Lailatul Qadar

Tentu saja tidak berdosa. Karena pada hakikatnya, hukum perintah i’tikaf ini adalah sunnah. Dan, beruntunglah orang-orang yang bisa mengamalkannya, karena ada niat dan usaha kuat untuk benar-benar mengikuti apa yang diteladankan oleh Rasulullah.

Namun demikian, tidak beri’tikaf bukan berarti ibadah diperlonggar. Tetap harus diperkuat dan diperbanyak. Perbanyaklah dan sibukkanlah diri dengan beragam ketaatan, seperti berdo’a, dzikir, dan membaca Al Qur’an.

Bahkan, ada peluang yang bisa dilakukan secara sungguh-sungguh, terutama bagi mereka yang sibuk berniaga atau aktivitas apapun yang tidak memungkinkannya untuk beri’tikaf, yakni memperbanyak sedekah.

Memperbanyak sedekah dan infak

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ»

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan dan saat beliau paling dermawana adalah di bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemui beliau. Malaikat Jibril senantiasa menemui beliau pada setiap malam dalam bulan Ramadhan untuk saling mempelajari al-Qur’an. Pada saat itu Rasulullah lebih dermawan dalam melakukan amal kebajikan melebihi (cepat dan luasnya) hembusan angin.” (HR. Bukhari).

Artinya, banyak amal ibadah lain yang bisa dilakukan dan dikuatkan. Baik, bagi yang tidak beri’tikaf, lebih-lebih yang beri’tikaf. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengisi hari-hari kita di bulan Ramadhan dengan amalan sholih yang ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi . Dan, bagi yang belum atau tidak bisa beri’tikaf, semoga amal ibadah dan ketaatannya kepada Allah Ta’ala juga tetap terjaga. Wallahu a’lam.*

 

Rep: Ahmad
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Jangan Berbohong, Meski Untuk Melucu

Jangan Berbohong, Meski Untuk Melucu

Amal Sholeh, Cara Cerdas Raih Khusnul Khotimah

Amal Sholeh, Cara Cerdas Raih Khusnul Khotimah

Agar Ilmu Bisa Bekerja

Agar Ilmu Bisa Bekerja

Sehatkan Mental dan Pikiran dengan Sunnah Nabi Sehari-hari

Sehatkan Mental dan Pikiran dengan Sunnah Nabi Sehari-hari

Ingin Kaya, Bekerjalah! Jangan Gadaikan Iman

Ingin Kaya, Bekerjalah! Jangan Gadaikan Iman

Baca Juga

Berita Lainnya